
Ervan tak mau melepaskan tangannya dari tubuh polos istrinya sama sekali
"Kita belajar untuk saling terbuka ya"
Citra menganggukkan kepalanya di dalam pelukan Ervan
"Aku mau dengar apa yang kamu mau dari aku?"
Citra mengangkat wajahnya agar bisa saling bertatapan mata
"Kamu yang begini aja udah membuat aku puas kak, apa lagi yang harus aku minta?" tersenyum tulus
"Apa kamu ga mau tau alasan aku bersikap begitu selama ini?"
"Aku ga akan paksa kamu untuk cerita kak, aku tunggu sampe kamu mau cerita sendiri kak"
Ervan pun mencium ujung kepala Citra dengan lembut
"Pernikahan kita memang bukan karena cinta, tapi aku benar-benar beruntung memiliki kamu"
"Karena pernikahan kita terjadi secara kebetulan aku ada di waktu yang tepat, tanpa ada dasar cinta sama sekali. Aku terus berpikir hal yang dulu mama lakukan pasti akan kamu lakukan juga"
Citra membenarkan posisi tubuhnya agar bisa menatap ke arah Ervan dengan lebih baik, dan untuk pertama kalinya Ervan menceritakan masa kecilnya kepada istrinya. Masa kelam hidup Ervan yang selama ini hanya di ketahui oleh Nino. Citra pun memeluk tubuh polos Ervan dengan sangat erat
"Tapi kamu salah tentang satu hal kak, kamu salah kalo bilang kita menikah tanpa rasa cinta. Karena hari itu kamu udah berhasil mencuri hati aku"
Ervan menatap istri seakan tak percaya bagaimana mungkin wanita yang berada di dalam pelukannya tersebut bisa mencintai dirinya pada saat itu, sedangkan saat itu mereka sama sekali tak saling kenal
"Itu juga salah satu alasan aku meminta hak aku sebagai seorang istri kak, karena aku mau memiliki kamu seutuhnya" dengan penuh keyakinan
Ervan benar-benar bisa bernafas dengan lega mendengar ucapan dari istrinya tersebut
FLASH BACK
Ervan baru saja menikahi seorang putri dari pengusaha ternama, saat itu pihak keluarga sang wanita sudah menawarkan agar mereka tinggal di kediaman mewah keluarga sang wanita. Tetapi Ervan menolak hal tersebut secara sopan dan membawa Citra kembali ke apartemennya
"Kamar di sini ada dua, saya serahkan semua pilihan ke tangan kamu. Mau tidur di kamar saya atau tidur sendiri?"
Saat itu tanpa ragu sama sekali Citra memilih untuk tidur di kamar yang sama dengan suaminya, dan Ervan pun mengikuti keinginan Citra
__ADS_1
Ervan sama sekali tak pernah menyentuh istrinya selama masa kehamilan anak pertamanya, Citra masih mencoba untuk berpikir positif pada saat itu. Dia berpikir Ervan mungkin ingin menghargai dirinya sebagai seorang wanita
Tanpa Ervan mengetahuinya Citra sudah menyerahkan seluruh hatinya, tetapi bagi Ervan saat itu dia hanya menjalankan kewajiban sebagai suami sementara dari Citra. Jangan kan melakukan hubungan layaknya sepasang suami istri, bahkan Ervan tak pernah memeluk tubuh Citra saat mereka tidur bersama
Di mata keluarga besar Citra Ervan menjadi sosok penyelamat bagi nama baik keluarga mereka dan juga sosok yang sangat di banggakan, bahkan saat papanya Citra menawarkan agar Ervan memegang salah satu perusahaan mereka. Ervan menolak hal tersebut tanpa ragu sama sekali, membuat nama seorang Ervan semakin baik di keluarga besar Citra
Citra saat itu hanya seorang istri yang sedang hamil dan kadang sesekali dia ingin merasakan perhatian dari sang suami, tetapi Citra tetap tak pernah mengatakan semua sikap dingin kepada orang lain. Dia hanya berharap saat nanti dia telah melahirkan sikap Ervan akan berubah
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat kini perut Citra sudah semakin membesar, dan saat itu terjadi masalah di salah satu proyek Nino yang berada di luar kota. Ervan pun langsung mengajukan diri untuk pergi meninjau ke sana, Nino sudah berusaha menghentikan mengingat Citra yang sudah menunggu buah hatinya lahir
Tetapi Ervan tetap bersikeras untuk pergi karena dia tidak bisa mempercayakan hal tersebut kepada siapa pun, dan benar saja baru sehari Ervan di sana Citra di larikan ke rumah sakit karena akan melahirkan
Nino yang mendengar hal tersebut langsung menghubungi Ervan tetapi membuahkan hasil yang nihil, karena Ervan tak mau meninggalkan pekerjaannya. Pada saat itu Nino lah yang menggantikan posisi Ervan menemani Citra di rumah sakit, Nino meminta maaf dengan tulus terhadap Citra dan keluarga besarnya
Pihak keluarga Citra semakin salut terhadap Ervan yang di anggap sebagai seorang pekerja keras, tetapi lain hal dengan Citra saat itu dia benar-benar merasa kecewa atas sikap Ervan
Sedikit demi sedikit perasaan kecewa di dalam hati Citra pun semakin menumpuk, setelah beberapa bulan dia melahirkan Citra tak lagi bisa menahan rasa kecewa di dalam hatinya. Karena Ervan tetap tak menyentuh dirinya
Citra membulatkan tekadnya untuk membuat Ervan membuat pilihan, dia membawa anaknya dan menitipkan anaknya kepada orang tuanya dengan alasan akan ikut Ervan dinas keluar kota. Citra pun kembali ke apartemen dan menunggu Ervan kembali dari kantor
Saat Ervan tiba di apartemen Citra sudah berada di ruang tamu dan mempersiapkan hatinya untuk menerima pilihan terburuk sekalipun
"Ya"
Ervan melangkahkan kakinya ke arah kamar dan Citra mulai membuka suara dengan tegas
"Apa kita bisa bicara sebentar kak?"
Ervan pun akhirnya mendudukkan dirinya di ruang tamu
"Ada apa?"
"Aku mau bicara tentang hubungan kita kak"
"Ya udah ngomong aja"
"Mau sampe kapan kak Ervan bersikap begini sama aku?"
"Maksud kamu?"
__ADS_1
"Aku mau kak Ervan melakukan kewajiban kak Ervan sebagai seorang suami"
"Oh maaf aku lupa, sekarang udah ada baby harusnya aku naikin uang bulanan kamu ya" dengan santai
"Aku bukan bahas masalah uang kak, aku bahas masalah kamu yang belum jadikan aku seorang istri seutuhnya"
Dalam sekejap wajah Ervan pun berubah menjadi serius
"Kamu maunya gimana?"
"Kak Ervan harus melakukan tugas kak Ervan sebagai seorang suami, atau kakak boleh pergi tinggalin aku"
"Apa kamu udah temui laki-laki lain yang lebih baik dari aku?"
Dengan polosnya Citra menjawab dengan menggelengkan kepalanya
"Ya udah kalo gitu aku tinggal lakukan tugas aku sebagai seorang suami kan?"
Citra merasa terjebak oleh perbuatannya sendiri, tetapi Ervan benar-benar melaksanakan tugasnya sebagai seorang suami mulai malam itu
Dan sampai kapan pun mungkin Citra tak akan pernah melupakan apa yang terjadi pada malam itu, karena setelah Ervan membersihkan diri dia mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang. Dan saat Citra keluar dari dalam kamar mandi dia pun merebahkan tubuhnya
"Aku udah jalani tugas aku sebagai suami seperti keinginan kamu, aku mungkin bukan laki-laki yang baik tapi aku bisa jamin selamanya aku ga akan pernah tinggalin kamu dan anak kita. Dan ga akan pernah ada perempuan lain di samping aku, selama kamu menjadi istri aku" dengan yakin
Citra hanya bisa terdiam sambil terus menatap ke arah Ervan
"Tapi janji yang dulu aku ucapin sebelum menikahi kamu tetap berlaku sampai kapan pun, kalo kamu menemukan seseorang yang lebih baik kamu bisa bilang ke aku"
"Dia kira aku perempuan apaan? ya ga mungkin lah ada laki-laki lain lagi, sekarang kamu itu suami aku bahkan kamu akui anak itu anak kita. Apa lagi yang aku harus cari?"
"Aku harap apa yang aku lakuin sekarang sudah cukup, karena kamu ga bisa minta lebih dari ini"
"Aku memang ga tau kak, apa aku masih bisa menemukan laki-laki lain yang lebih baik dari kamu? tapi aku yakin kalo sekarang hati aku sudah sepenuhnya milik kamu"
"Mulai sekarang aku janji akan terima kamu apa adanya kak, kalo memang kamu cuma bisa berbuat sejauh ini. Biar aku yang belajar untuk membiasakan diri dengan sikap kamu"
Dan pada malam itu Citra sudah memutuskan untuk memilih Ervan selamanya menjadi pasangan hidupnya
FLASH OFF
__ADS_1