
"Dia cuma makan siang itu?" Nino sempat memperhatikan Sekar yang makan dengan lahapnya
"Ini" memberikan potongan daging miliknya ke tempat makan Sekar
"Makasih pak" melepaskan senyuman terbaik
"Manis banget cewe ini kalo senyum, apa yang aku pikirin?" jangan kepedean daging saya kebanyakan"
"Cie tinggal bilang sama-sama aja kok susah banget" tersenyum
"Kenapa senyum? makan" dengan dingin
"Iya pak" Sekar melanjutkan makannya dan menyisakan bagian dagingnya
"Kenapa ga di makan dagingnya?"
"Saya udah kenyang pak" cengengesan "Lumayan buat Ajeng sama Dimas di rumah nanti"
"Kayaknya dia sengaja sisain daging yang tadi aku kasih" Sekar masih setia duduk menunggu sang bos besar selesai makan
"Beresin sisa makanan saya" mulai bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju ke kursi kebesarannya
"Baik pak, kalau begitu saya permisi dulu"
"Mulai besok ga usah bawa bekal ke kantor lagi" tanpa melihat, Sekar sudah memasang wajah cemberut
"Saya ga mau di kira orang jahat ga memberi makan orang saya sendiri"
"Apa maksud pak Nino mulai besok saya dapat jatah makan dari perusahaan?" tersenyum
"Kamu bisa keluar sekarang"
"Baik pak" Sekar segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut dan kembali ke pantry, selesai membereskan barang-barang sisa makan pak Nino Sekar pun langsung menuju ke mushola yang berada di kantor itu
Di dalam ruangannya Nino segera memanggil Ervan agar datang ke ruang kerjanya
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk"
"Ada yang bisa saya bantu pak?"
"Mulai besok minta orang yang menyiapkan makanan saya bawa tiga paket makanan"
"Baik pak"
"Apa ada lagi pak?"
"Van apa kamu tau?" tersenyum tipis
"Saya tau pak, saya tau bapak akan cerita tentang dia" ada apa pak?"
"Tadi saya bisa makan dengan normal di samping dia"
"Sesuai dugaan" menatap malas
"Aneh kan Van?" tersenyum
__ADS_1
"Sebenernya yang aneh adalah sikap anda ke wanita-wanita cantik yang selalu mengejar anda selama ini pak" mungkin karena dia berbeda pak"
"Apanya?" mengerutkan keningnya
"Seharusnya tanya itu ke hati bapak jangan ke saya pak" dia tidak perlu berpura-pura untuk mendapatkan perhatian dari bapak"
"Siapa yang perhatian ke dia?" menatap tajam
"Maaf pak kalau saya salah"
"Kamu boleh keluar sekarang, terus suruh dia antar minuman ke sini"
"Baik pak" Ervan membungkukkan sedikit kepalanya dan keluar dari ruangan itu
Begitu tiba di ruang kerjanya Ervan segera menghubungi ruang pantry untuk melaksanakan tugas dari sang bos besar, Ervan baru saja meletakkan telpon kantornya telpon itu kembali berdering dia pun hanya bisa membuang napasnya dengan kasar
"Pasti mau tanya mana minumannya?"
"Halo"
"Udah suruh dia belum? minuman saya mana?"
"Sekar sedang tidak ada di ruang pantry pak"
"Ke mana dia jam kerja?" menaikkan nada suaranya
"Mungkin dia sedang sholat pak"
"Kirim pesan ke dia, selesai sholat suruh antar minuman ke ruangan saya"
"Maaf pak Sekar tidak mempunyai ponsel"
"Terserah, pokoknya mulai sekarang saya mau di bisa di hubungi kapanpun. Dan minuman saya harus secepatnya datang"
"Baik pak"
"Orang-orang di luar sana akan tertawa terbahak-bahak seandainya tau sisi diri anda yang seperti ini pak"
Begitu tiba di ruang pantry semua sudah memasang wajah tegang melihat Sekar, Sekar hanya bisa kebingungan melihat tatapan mata mereka
"Sekar kamu lama banget sih" Jajang menghampiri Sekar
"Ya tadi aku liat musholla kita agak kotor jadi aku bersihin sedikit"
"Ya udah sekarang kamu bawa minuman ini ke ruang pak Nino, habis itu kamu temuin pak Ervan di ruang kerjanya"
"Kenapa?"
"Ga tau Sekar, makanya cepat jangan sampai nanti ada masalah"
"Ya udah aku antar minuman ini ke sana dulu ya"
"Hati-hati ya Sekar" tampak kecemasan terlukis di wajah Jajang, Sekar malah tertawa terbahak-bahak
"Santai ajalah Jang"
"Kalo cuma antar minuman ke ruang pak Nino memang santai aja, tapi kalo kita udah di panggil ke ruang pak Ervan. Semoga aja Sekar ga dapat masalah" tersenyum dengan paksaan
__ADS_1
Dengan santai Sekar mengantarkan minuman yang telah di sediakan Jajang ke ruang kerja Nino
Tok..Tok..Tok..
"Masuk"
"Permisi pak" meletakkan sebuah cangkir berisikan kopi dan beberapa makanan ringan
"Kenapa lama?"
"Maaf pak saya habis sholat"
"Apa fungsinya sholat untuk kamu?" menatap ke arah Sekar
"Itu sudah kewajiban saya sebagai pemeluk agama yang saya percayai pak" dengan yakin
"Nanti sore saya ada meeting di luar kantor, jadi hari ini kamu bisa pulang cepat. Saya ga akan kembali lagi ke kantor"
"Baik pak, kalau begitu saya permisi dulu pak" Sekar keluar dari ruangan Nino dan menuju ke ruang kerja Ervan
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk"
"Bapak memanggil saya pak" Ervan menghentikan segala aktivitas yang sedang dia lakukan
"Duduk"
"Baik pak"
"Ini" meletakkan sebuah kotak, dan terlihat dengan jelas bila itu adalah sebuah ponsel yang cukup mahal
"Ini untuk apa ya pak?"
"Agar pak Nino bisa cepat bila perlu sama kamu"
"Maaf pak tapi ini kayaknya terlalu mahal"
"Kalo kamu mau mengajukan keberatan silahkan ajukan dengan pak Nino" dengan tegas
"Ini mereka kasih barang kayak begini ke aku, jangan-jangan nanti di potong dari gaji aku lagi?" memasang wajah melas
"Barang itu inventaris kantor, jadi nanti bisa kamu kembalikan saat kamu berhenti kerja dari sini" Sekar langsung membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna
"Apa orang ini bisa baca pikiran aku? kalo aku bilang bapak ganteng tapi galak kedengaran ga ya?" cengengesan
"Jangan suka berpikir yang aneh-aneh tentang orang lain, sebaiknya kamu keluar dari ruangan saya"
"Idih ngeri banget dia beneran bisa baca pikiran orang kali ya?" baik pak kalau begitu saya permisi dulu" Sekar sudah mulai bangkit dan kembali terdiam
"Maaf pak katanya pak Nino akan keluar kantor sore ini, apa boleh saya bersihkan ruangan pak Nino sekarang. Saya takut nanti pagi saya akan terlambat lagi"
Ervan membuang napasnya dengan kasar "Jangan pak Nino suka kantornya di bersihkan sebelum dia bekerja"
"Baik pak, kalau begitu saya permisi pak" Ervan hanya membalas dengan sedikit anggukan kepala, dan Sekar pun keluar dari ruangan tersebut membawa ponsel keluaran terbaru yang kini menjadi miliknya
"Kalo saya biarkan kamu membersihkan ruang kerja pak Nino sore ini, maka besok saya yang akan dapat masalah baru dari dia"
__ADS_1
Sekar kembali ke ruang pantry dan semua orang sudah menunggu kehadirannya, semua seakan tak percaya dengan apa yang berada di tangan Sekar saat itu. Mereka benar-benar takjub dengan Sekar yang berhasil menaklukkan kedua orang yang paling di takuti di gedung itu, bahkan hampir semua orang di kota itu pun sangat segan dengan kedua orang tersebut