
Ervan dan keluarga kecilnya baru saja tiba di kediaman mereka, Citra sudah membuka pintu belakang dan hendak membangunkan anak pertama mereka
"Ga usah di bangunin, biar aku yang angkat dia ke kamar"
Citra langsung mengurungkan niatnya dan mengangkat tubuh anaknya yang kecil, Citra meletakkan anaknya secara perlahan di atas kasur dan langsung masuk ke dalam kamarnya lalu membersihkan diri
Saat Citra keluar dari kamar mandi, Ervan sudah berada di dalam kamar mereka dengan posisi duduk di tepi tempat tidur, terlihat wajah Ervan saat itu sedang memikirkan sesuatu. Citra sebenarnya sudah tau tujuan Ervan saat itu tetapi dia lebih memilih untuk berpura-pura tidak tau
"Kita harus bicara masalah tadi"
"Maaf tapi ga ada perlu kita bahas lagi kak, karena sampai kapan pun aku akan tetap memilih untuk menjadi istri kamu" dengan yakin
Citra langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut
"Aku tidur duluan ya"
Ervan hanya bisa terdiam karena dia sudah mendapatkan sebuah jawaban dari istrinya, walaupun dia belum memberikan pertanyaan apapun kepada istrinya
Saat pagi menyapa Sekar sudah mulai merengek kepada Nino semenjak dia membuka mata, dia benar-benar penasaran akan cerita hidup Ervan. Dia hanya berharap bisa membantu orang yang kini telah dia anggap sebagai saudara
Melihat kegigihan Sekar sudah pasti Nino tak dapat berkutik lagi, Nino pun berjanji akan menceritakan semua yang dia tau tentang Ervan saat nanti dia kembali dari kantor
Walaupun Nino telah berjanji kepada Sekar tetap saja hari itu seharian penuh Sekar terus menghubungi Nino dan menanyakan kapan kembali dari kantor, akhirnya Nino pun mengalah dan kembali dari kantor lebih cepat
Saat Nino tiba di kediaman mereka Sekar menyambut kedatangan Nino dengan penuh semangat, Nino pun pergi ke dalam kamar untuk mengganti pakaian terlebih dahulu. Dan kini mereka berdua sudah duduk di saung yang berada di taman belakang
"Ayo sayang"
"Ayo, kamu mau pergi kemana sayang? aku pasti anterin ke mana pun kamu mau pergi" tersenyum meledek
"Ish.. Kamu kan udah janji mau cerita tentang kak Ervan sayang" memajukan bibirnya
Nino pun tersenyum tipis melihat tingkah istrinya tersebut lalu mencubit hidung Sekar dengan lembut
"Sebenarnya Ervan dulu ada di sini buat bantu sekalian jadi teman aku belajar, dia anak supir yang tugasnya antar jemput aku. Tapi supir itu bukan orang tua kandung Ervan"
__ADS_1
"Lah kok? terus orang tua kandung kak Ervan memang ada di mana?" menatap dengan serius
"Ervan itu sebenarnya berasal dari kalangan papan atas, bahkan kedua orang tua kandung dia berasal dari keluarga pengusaha yang cukup ternama"
"Kalo gitu kenapa dia bisa di urus sama supir kalian sayang?"
"Karena kedua orang tua kandung Ervan menikah untuk kepentingan bisnis, ternyata mamanya sudah punya kekasih saat itu. Karena merasa kecewa dari awal pernikahan mereka mamanya selalu tak bersedia melayani papanya"
"Ngapain jadi istri kalo ga mau melayani suami sendiri? seharusnya istri akan marah kalo suami dia ga penuhi kewajiban dia sebagai suami"
"Kamu lagi sindir aku ya?"
"Aduh maaf sayang, aku ga maksud gitu kok. Aku cuma bilang apa yang aku rasain doang kok"
Nino yang hanya berniat untuk becanda menjadi tak tega karena Sekar sudah memasang wajah bersalah
"Aku juga cuma bercanda kok sayang, mau dengar lanjutan ceritanya ga?" tersenyum
Dalam sekejap wajah Sekar pun berubah menjadi bersemangat sambil menganggukkan kepalanya
Wajah Sekar saat itu seakan menunjukkan bahwa dia tak bisa percaya dengan apa yang baru saja dia dengar, bagaimana mungkin ada sebuah rumah tangga yang terjalin dengan cara seperti itu
"Dan dari hubungan itu Ervan hadir di dunia ini, setelah Ervan lahir mamanya semakin menggila dan melakukan perselingkuhan dengan para laki-laki"
"Dan yang lebih parah mamanya selalu memastikan agar perselingkuhan yang dia lakukan di ketahui oleh suaminya, Ervan tumbuh besar hanya untuk menyaksikan pertengkaran di antara mereka. Dan setiap mereka habis bertengkar, mereka selalu melampiaskan kemarahan mereka terhadap Ervan"
"Ervan sampai bosan mendengar mamanya memarahi dirinya dan kata-kata yang tak pernah bisa Ervan lupakan adalah, mamanya mengatakan bahwa dia menyesal tidak membunuh Ervan saat berada di dalam kandungnya"
"Sedangkan papanya selalu melakukan kekerasan fisik terhadap Ervan, dia juga selalu menunjukkan tatapan jijik saat melihat Ervan. Papanya juga selalu mengatakan bahwa dia tidak pernah menganggap Ervan sebagai anaknya, karena Ervan di lahirkan dari perempuan yang murahan"
Mata Sekar pun sudah mulai berkaca-kaca mendengar tentang masa kecil Ervan, dia seakan tidak bisa percaya ada orang tua yang sanggup melakukan semua itu
"Kalo kamu jadi sedih aku ga mau lanjutin ceritanya" dengan tegas
Sekar pun menjadi sedikit kesal mendengar ancaman dari Nino, karena dia masih ingin mengetahui lebih dalam tentang Ervan
__ADS_1
"Boleh kok kalo kamu ga mau cerita lagi, tapi sekarang juga aku mau siap-siap pindah kamar"
Nino pun hanya bisa membuang napasnya dengan kasar
"Ya udah aku lanjutin ceritanya, tapi kamu harus janji ga boleh terlalu sedih"
"Iya" tersenyum puas
"Saat Ervan duduk di bangku SMP dia sempat berpikir untuk mengakhiri hidupnya, tapi kamu tau kan Ervan memiliki hati yang kuat jadi dia bisa membuang pikiran itu jauh-jauh. Akhirnya dia memilih untuk pergi dari rumah orang tuanya selamanya"
"Apa kedua orang tua kak Ervan ga pernah coba cari dia? waktu itu kan berarti kak Ervan masih kecil sayang"
Nino hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya
"Walaupun akhirnya dia bertemu orang baik, tapi bayangan tentang masa lalunya ga pernah bisa dia lupakan. Dan aku rasa sampai saat ini Ervan masih belum percaya dengan kata keluarga"
"Kalo gitu ngapain dia nikah dong? apa dia ga kasian sama istrinya?"
"Itu cerita yang beda lagi sayang" mengelus rambut panjang Sekar
Sekar terlihat terdiam sejenak sebelum akhirnya senyuman penuh arti pun hadir di bibirnya
"Tapi kan masih cerita tentang kak Ervan sayang, berarti kamu masih harus cerita ke aku dong"
Nino tak mau mendapatkan ancaman pindah kamar lagi, dia pun memilih untuk bercerita
"Ervan nikah sama istrinya bukan karena perasaan cinta sayang, jangankan ada perasaan mereka aja ga saling kenal sebelum menikah"
"Kok aku jadi agak kesal sama Ervan ya? kenapa dia harus lakuin kesalahan yang sama dengan orang tua kandungnya?"
"Kamu jangan ambil kesimpulan dulu, kan kamu belum dengar apa alasan mereka bisa sampai menikah?"
"Yang makanya kamu cerita dong sama aku"
Sekar sudah memasang wajah tidak suka sebagai bentuk solidaritas sesama wanita, sedangkan Nino hanya bisa tersenyum karena dia yakin pandangan Sekar akan berubah setelah mendengar kisah lengkapnya
__ADS_1