
Jangan lupa like dan komentarnya, terimakasih.
...----------------...
Satu hari setelah resmi menjadi Kaisar Kekaisaran Shu, Qin Chen setidaknya sudah menyelesaikan beberapa permasalahan utama Kekaisaran. Kekeringan dan krisis makanan berhasil dia tangani, dan sekarang tugas besar sedang menantinya, tugas itu tidak lain adalah meningkatkan kekuatan militer Kekaisaran, untuk bersiap menghadapi situasi terburuk dari memburuknya hubungan Kekaisaran Shu dengan Kekaisaran Barat.
Jin Fan dan Jin Yan menemaninya pergi ke barak prajurit Kekaisaran. Setidaknya ada dua ratus ribu prajurit yang tinggal di barak Kekaisaran, dan mereka berada di bawah kepemimpinan langsung Jin Fan dan Jin Yan. Mereka dulunya adalah bagian dari pasukan teratai emas dan teratai perak yang disebut menjadi satu, dan mereka kini memiliki nama prajurit elite Kekaisaran Shu.
Selain keberadaan pasukan elit, Kekaisaran Shu masih memiliki Kavaleri Naga Hitam dan pasukan persenjataan berat. Mereka semua bisa dikatakan kekuatan utama Kekaisaran Shu.
Akan tetapi, selain keberadaan mereka Kekaisaran Shu masih memiliki lebih dari tiga ratus ribu prajurit biasa, dan masih ada sekitar dua ratus riru prajurit yang merupakan prajurit khusus. Mereka dikatakan sebagai prajurit khusus karena sudah berusia di atas empat puluh tahun, dan sudah kenyang akan pengalaman perang.
Selain kekuatan yang berasal dari Kekaisaran, Kekaisaran Shu juga bisa memanfaatkan pasukan yang dimiliki empat Kerajaan, untuk membantu kepentingan Kekaisaran. Akan tetapi, Qin Chen hanya akan menggunakan kekuatan dari Kerajaan lain kalau dia benar-benar membutuhkannya.
Kalau kekuatan yang dimiliki oleh Kekaisaran Shu masih mampu mengatasi permasalahan Kekaisaran, Qin Chen tidak akan pernah menggunakan kekuatan Kerajaan lainnya untuk kepentingan Kekaisaran.
Sampai di barak prajurit Qin Chen dapat melihat para prajurit yang giat berlatih untuk meningkatkan kekuatannya. Tidak ada yang bermalas-malasan, kalaupun ada yang tidak berlatih, mereka sedang melakukan aktivitas lain seperti mencuci, bersih-bersih, maupun memasak untuk memenuhi asupan gizi mereka. Tidak ada perlakuan atau pelayanan khusus untuk mereka sebagai prajurit elite, kecuali barak yang nyaman, dan uang tahunan yang lebih besar dibandingkan prajurit biasa.
Puas melihat keadaan barak prajurit Qin Chen yang didampingi Jin Yan dan Jin Fan, dia pergi melihat proses pembangunan akademi militer tak jauh dari barak pasukan elite. Selain pembangunan akademi militer, di tempat itu juga sedang dibangun akademi pendidikan umum. Selain ingin meningkatkan kekuatan militer, Qin Chen juga ingin meningkatkan kualitas sumberdaya manusi yang dimiliki Kekaisaran Shu.
“Proses pembangunan sudah di mulai. Setidaknya butuh waktu empat sampai lima bulan untuk menyelesaikan semuanya,” ujar Qin Chen begitu melihat proses pembangunan yang baru saja dimulai.
“Jin Yan, bagaimana dengan perluasan pabrik senjata, apa semua berjalan lancar?” tanya Qin Chen pada Jin Yan yang dia tugaskan mengawasi perluasan pabrik senjata Kekaisaran Shu.
“Yang Mulia, semua berjalan lancar, dan seperti rencana awal semua proses akan terselesaikan dalam dua bulan,” jawab Jin Yan.
“Lalu bagaimana dengan produksi senjata, apa semua bahan masih tersedia?” kali ini Qin Chen bertanya pada Jin Fan.
__ADS_1
“Yang Mulia, semua produksi berjalan seperti biasa, dan semua bahan masih tersedia. Untuk desain peluru senjata api yang baru Yang Mulia berikan juga sudah mulai dikerjakan,” jawab Jin Fan.
“Meskipun cukup sulit mengerjakan desain itu, tapi seluruh pekerja bekerja keras mewujudkan desain Yang Mulia, dan beberapa hari ke depan Yang Mulia sudah bisa melihat hasil kerja mereka,” lanjutnya.
Raut wajah senang terlihat di wajah Qin Chen setelah dia mendengar jawaban yang diberikan Jin Yan dan Jin Fan, dengan lancarnya produksi senjata, dia yakin dapat memperkuat kekuatan militer Kekaisaran Shu. Dia yakin, masa jaya beladiri tak lama lagi akan berakhir, dan semuanya akan digantikan dengan senjata api yang jauh lebih cepat serta mematikan jika dibandingkan penggunaan pedang maupun tombak.
“Desain peluru terbaru yang aku ciptakan memang sulit diwujudkan, tapi begitu benda itu terwujud, kita dengan mudah pasti bisa mengungguli Kekaisaran Barat,” ungkap Qin Chen.
“Kalian lanjutkan saja apa tugas yang hari ini belum terselesaikan! Aku akan ke tempat permaisuri,” kata Qin Chen lalu dia begitu saja pergi tanpa menunggu balasan dari Jin Fan dan Jin Yan.
Dalam waktu singkat Qin Chen sampai di tempat Liu Yao yang hari ini pergi ke panti asuhan yang dulu pernah dikunjunginya saat masih menjadi seorang pengawal. Namun, Qin Chen merasakan keanehan saat sampai di panti asuhan karena dia tidak menemukan kereta kuda Liu Yao.
Melihat jejak tipis kereta kuda yang berada di halaman panti asuhan, Qin Chen mengikuti jejak itu. Terus mengikuti jejak itu, membawanya keluar dari ibukota, dan tak lama dia mendengar suara pertempuran tak begitu jauh darinya.
Bergerak cepat ke tempat itu dengan perasaan khawatir, Qin Chen melihat Liu Yao dalam keadaan terluka, tapi dia tetap gigih melawan lima pendekar yang terus melayangkan serangan ke arahnya. Terlihat juga empat pelayan pribadi Liu Yao sudah kehilangan kesadaran dengan darah mengalir dari mulut mereka.
“Boom...” kepala pendekar itu hancur begitu tinju yang dilayangkan Qin Chen tepat menghantam kepalanya.
“Berani melukai wanitaku, kalian semua harus mati!” teriak Qin Chen kemudian dia melesat cepat menyerang empat pendekar yang merasa terancam dengan kedatangannya.
“Boom... Boom...” Pendekar berpakaian biru dan pendekar berpakaian merah terpental mundur puluhan langkah, begitu terkena tendangan Qin Chen.
“Sangat kuat!” gumam pendekar berpakaian hitam tidak melihat kesempatan dia dapat mengalahkan Qin Chen.
Dia dan pendekar berpakaian putih berencana bersama-sama menyerang Qin Chen, tapi belum juga keduanya bergerak Qin Chen sudah berada di depan mereka, dan dengan begitu kuat dia memukul keduanya tepat di bagian petut. Keduanya terdorong mundur beberapa langkah, dan langsung memuntahkan seteguk darah.
“Aku tidak punya waktu bermain-main, jadi sebaiknya kalian segera mati!” tanpa ampun Qin Chen menyerang empat pendekar secara bergantian.
__ADS_1
Tinjuan, tendangan, semua silih berganti Qin Chen layangkan ke arah musuhnya.
Tak lama dia berhenti menyerang setelah tiga pendekar lainnya mati, dan hanya menyisakan salah satu pendekar yang tangan dan kakinya telah dia patahkan.
"Katakan padaku siapa yang menyuruhmu, dan aku berjanji setelahnya akan memberi kematian yang cepat untukmu!” kata Qin Chen sambil menatap pendekar berpakaian hitam.
Pendekar berpakaian hitam menjadi satu-satunya pendekar yang masih diberi kesempatan hidup karena Qin Chen ingin mengorek informasi darinya. Meskipun kecil kemungkinan mendapatkan jawaban seperti keinginannya, Qin Chen tetap saja bertanya sambil mematahkan satu persatu jari tangan milik pendekar berpakaian hitam.
Tidak kunjung mendapatkan jawaban, Qin Chen langsung saja mengakhiri hidup pendekar itu, kemudian dia menggeledah pakaian yang dikenakannya.
Menemukan apa yang dia cari Qin Chen segera pergi ke tempat Liu Yao yang sedang melakukan perawatan pada salah satu pelayan pribadinya. Melihat itu, Qin Chen melakukan hal yang sama seperti yang sedang di lakukan Liu Yao.
Menyuntikkan tenaga dalam ke tubuh tiga pelayan pribadi Liu Yao, Qin Chen membantu memulihkan luka dalam yang dialami mereka.
Hanya dalam beberapa detik keadaan ketiganya sudah jauh lebih baik, tapi mereka masih belum mendapatkan kesadarannya kembali.
“Yao'er, biarkan aku melihat keadaanmu,” Qin Chen duduk di sebelah Liu Yao, dan mulai memeriksa keadaannya.
Tak lama melakukan pemeriksaan, Qin Chen sudah memastikan Liu Yao dalam keadaan baik-baik saja, dia hanya mengalami kelelahan dan terdapat beberapa luka luar yang tak mengancam keselamatannya.
Melihat kereta kuda Liu Yao masih bisa digunakan, Qin Chen menggendong Liu Yao ke dalam kereta kuda, lalu dia juga melakukan hal yang sama pada keempat pelayan pribadi Liu Yao. Begitu semua sudah berada di dalam kereta kuda, Qin Chen memacu kuda kembali ke istana Kekaisaran.
Di jalan menuju istana, Qin Chen mengeluarkan sesuatu dari lengan bajunya, lalu menatap benda benda itu dengan penuh amarah. “Berani menyentuh wanitaku, artinya kamu sudah tahu konsekuensi yang akan kamu dapatkan,” gumam Qin Chen begitu lirih.
“Tunggu saja, aku akan segera datang untuk menuntut penjelasan, sekaligus memberi hadiah terindah untukmu,” ujar Qin Chen dengan suara yang terdengar begitu dingin.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung.