Legenda Qin Chen

Legenda Qin Chen
Kematian Pendekar Tombak Naga


__ADS_3

Jangan lupa like dan komentarnya, terimakasih...


°°°


Pasukan dari masing-masing kubu belum ada yang bergerak memulai pertempuran. Akan tetapi, pertempuran sudah terjadi antara pendekar Tombak Naga yang langsung saja menyerang Qin Chen begitu dia mendengar permintaan Pangeran Qing Moran. Qin Chen yang mendapatkan serangan secara tiba-tiba tentu dia tidak berdiam diri. Dengan gerakan cepat, dia berhasil menghindari setiap jurus yang digunakan pendekar Tombak Naga untuk menyerangnya.


Gerakan cepat Qin Chen saat menghindari serangan darinya, membuat pendekar Tombak Naga semakin yakin kalau lawannya bukanlah sosok lemah, dan dia pantas mewaspadai kekuatannya. Mengetahui lawannya tidak mudah dikalahkan, pendekar Tombak Naga mulai menggunakan tombak di tangannya untuk menyerang, dan dia juga mulai menggunakan tenaga dalamnya.


“Menggunakan tombak dan tenaga dalam untuk menyerangku. Sepertinya Tuan pendekar Tombak Naga benar-benar menginginkan kematianku,” ujar Qin Chen penuh ketenangan.


“Kamu sepertinya tidak takut dengan kekuatanku? Akan tetapi aku mau melihat, seberapa jauh kamu dapat bertahan dari seranganku!...” Menggunakan tenaga dalam dan tombak di tangannya, pendekar Tombak Naga kembali menyerang Qin Chen.


Menghadapi serangan pendekar Tombak Naga, Qin Chen hanya terus menghindar mengandalkan kecepatannya, dan sesekali dia menahan serangan menggunakan sarung pedang miliknya.


Di sisi lain, Putri Liu Yao tersenyum melihat pertempuran yang sedang terjadi, lalu dia berkata pada Pangeran Qing Moran, “Pangeran, sebaiknya kamu kembali ke Kekaisaran Qing, menjalani kehidupan damai, dan jangan pagi mengusik kehidupanku!...”


Dengan senyuman sinis yang terlihat di wajahnya, Pangeran Qing Moran membalas, “Kenapa juga aku harus kembali ke Kekaisaran, sedangkan tak lama lagi pria itu akan mati di tangan Pamanku? Kalaupun aku harus kembali, itu akan terjadi kalau kamu ikut denganku, dan bersedia menjadi penghangat tempat tidurku. Sebagai wanita bekas orang lain, kamu cuma pantas menjadi gundik di istanaku...”


Dengan kata-kata yang baru saja terlontar keluar dari mulutnya, tanpa dia sadari, Pangeran Qing Moran telah menggali lubang kuburnya sendiri. “Bagaimana mungkin aku menjadi gundik dari seorang Pangeran yang tak lama lagi akan menjadi seonggok mayat tidak berguna? Pangeran, ini peringatan terakhir darik, tarik kembali kata-kata kamu atau saat ini juga aku membuatmu menjadi mayat yang tak dapat dikenali oleh siapapun!...” Aura di sekeliling Putri Liu Yao seketika berubah, dan aura itu cukup untuk membuat tubuh Pangeran Qing Moran dan Kasim Kerajaan bergetar ketakutan.


“Aura pendekar Raja. Aku bukan lawan sepadan untuknya,” gumam Pangeran Qing Moran perlahan mundur kenjauhi Putri Liu Yao, begitu juga dengan Kasim Kerajaan Shu.


Bukannya menuruti peringatannya, Putri Liu Yao justru melihat Pangeran Qing Moran ingin pergi melarikan diri. Melihat itu, langsung saja Putri Liu Yao melesat maju mendekati Pangeran Qing Moran.


Akan tetapi, langkah kaki Putri Liu Yao dihentikan oleh pendekar Tombak Naga, yang begitu saja meninggalkan pertempurannya, demi melindungi Pangeran Qing Moran dari kemarah Putri Liu Yao.


“Putri Liu Yao, akulah yang akan menjadi lawanmu, dan kamu jangan pernah berharap dapat menyentuh Pangeran Qing Moran selama aku masih hidup dan menjadi pelindungnya!” seru pendekar Tombak Naga yang langsung menyerang Putri Liu Yao.

__ADS_1


“Baiklah, aku akan menjadi lawanmu, tapi bagaimana cara kamu melindungi Pangeran Qing Moran dari pria yang saat ini sudah mencengkram leher pria yang seharusnya kamu lindungi?...” Putri Liu Yao menunjuk Qin Chen yang sudah berada di hadapan Pangeran Qing Moran, dan sekarang dia sedang mencengkram leher Pangeran Kekaisaran yang telah berani menghina wanitanya.


Pendekar Tombak Naga mencoba menyelamatkan Pangeran Qing Moran, tapi gerakannya dihentikan oleh Putri Liu Yao yang langsung menyerangnya dari belakang.


“Kamu adalah lawanku. Jadi, kamu jangan melibatkan diri dengan apa yang ingin dilakukan suamiku pada Pangeran Qing Moran!” kata Putri Liu Yao yang terus saja menyerang pendekar Tombak Naga menggunakan tangan kosong.


Pendekar Tombak Naga tidak menganggap remeh serangan Putri Liu Yao meski hanya menggunakan tangan kosong. Pendekar Seribu Racun bukanlah julukan tanpa bukti, dan pendekar Tombak Naga tahu kalau ada racun yang tersembunyi di kedua pergelangan tangan Putri Liu Yao.


Pendekar Tombak Naga terus menghindar dan sesekali membalas serangan menggunakan tombaknya. Namun, dengan perhatian yang terpecah ke dua tempat berbeda, dia lengah dan tidak mampu menghindari serangan cepat Putri Liu Yao.


Meski hanya pukulan yang tak terlalu berdampak pada tubuhnya, pendekar Tombak Naga melompat menjauhi Putri Liu Yao untuk memastikan luka di tubuhnya.


Saat membuka pakaian dan melihat luka di dadanya, pendekar Tombak Naga sadar kalau tubuhnya telah terkena salah satu jenis racun pelumpuh.


Beruntung dia sudah membuka tiga belas titik pusat tenaga dalam di tubuhnya. Jadi, untuk sementara waktu dia bisa menekan racun untuk tidak menyebar luas ke seluruh bagian tubuhnya. Akan tetapi, dikarenakan harus menahan penyebaran racun, dia tak lagi bisa leluasa menggunakan kekuatannya dan itu merupakan kabar buruk untuknya karena saat ini dia sedang berada di medan perang.


“Kami menyerah...” Belum juga pasukan bertempur, pendekar Tombak Naga sudah menjatuhkan tombak di tangannya, dan pada akhirnya dia memutuskan untuk menyerah.


Pasukan elite Kekaisaran Qing sadar akan situasi yang tidak menguntungkan bagi mereka, dan mereka setuju dengan keputusan pendekar Tombak Naga. Akan tetapi, berbeda dengan pasukan elite Kekaisaran, pasukan di bawah kepemimpinan Kasim Kerajaan, mereka justru bersikeras maju melawan pasukan Putri Liu.


"Seperti yang kuduga, kamu memang bijak sebagai seorang pendekar, tapi aku bukan orang baik yang membiarkan begitu saja orang yang telah menghinaku...” Putri Liu Yao tiba-tiba saja sudah berada di dekat Pangeran Qing Moran, lalu tanpa perasaan jijik dia menarik keluar lidah Pangeran Qing Moran, dan terakhir dia memotong lidah sang oangeran menggunakan pedang milik Qin Chen.


Putri Liu Yao dan Qin Chen begitu saja pergi meninggalkan Pangeran Qing Moran yang jatuh tak sadarkan diri begitu lidahnya terpotong.


Dengan perasaan khawatir pendekar Tombak Naga menghampiri Pangeran Qing Moran dan memastikan keadaan sosok yang seharusnya dia lindungi dengan nyawanya. Memastikan keadaan Pangeran Qing Moran tidak terlalu serius selain kehilangan sebagian dari lidahnya, pendekar Tombak Naga mengarahkan tatapan tajam kedua matanya pada Putri Liu Yao dan Qin Chen.


“Hari ini kalian menang, tapi lain kali aku akan kembali, dan membalas apa yang sudah kalian lakukan pada keponakanku!” seru pendekar Tombak Naga.

__ADS_1


“Siapa bilang kamu bisa pergi begitu saja?...” Qin Chen tidak ingin membiarkan musuhnya membawa pulang nyawa mereka, dan karena itu dia langsung menyerang pendekar Tombak Naga yang tidak menyangka kalau dia akan mendapat serangan setelah menyerah.


Bersama dengan serangan Qin Chen, melihat adanya kesempatan mengalahkan musuh, pasukan yang dimiliki Putri Liu Yao ikut maju menyerang musuh mereka, dan pertempuran besar akhirnya terjadi di lembah Shenghuo.


“Bukannya aku sudah mengatakan kalau aku menyerah, kenapa kamu masih saja menyerangku?” tanya pendekar Tombak Naga.


“Kamu memang menyerah, tapi hanya wanitaku yang menganggap kamu sudah menyerah, sementara aku dan yang lainnya tidak pernah menganggap kamu menyerah,” jawab Qin Chen yang kali ini mulai serius menghadapi pendekar Tombak Naga.


“Apa lagi kamu tadi sudah berani mengancam wanitaku, jadi jangan harap kamu masih dapat pergi meninggalkan tempat ini hidup-hidup!...” Qin Chen menyerang pendekar Tombak Naga, yang sudah terluka setelah terkena racun pelumpuh saat melawan Putri Liu.


Qin Chen langsung saja mengeluarkan jurus tarian pedang rembulan yang merupakan jurus terkuat kedua miliknya untuk menyerang pendekar Tombak Naga. Sedangkan pendekar Tombak Naga yang mengenali jurus Qin Chen, akhirnya dia tahu sedang berhadapan dengan siapa karena dia pernah melakukan pertarungan persahabatan dengan Qin Chen saat berkunjung ke Kerajaan Chu.


“Clang... Clang... Clang...” pedang Qin Chen berbenturan dengan tombak milik musuhnya.


Jurus tarian pedang rembulan membuat Qin Chen bergerak cepat, lincah, dan mematikan. Meski jangkauan pedang lebih dekat dibandingkan tombak, pendekar Tombak Naga yang tidak bisa menggunakan seluruh kekuatannya, saat ini tubuhnya dipenuhi luka menganga akibat serangan Qin Chen.


“Jurus tarian pedang rembulan. Aku tidak menyangka Dewa Perang Kerajaan Chu yang meninggal Kerajaannya ternyata memilih menjadi pendamping seorang Putri Mahkota,” ujar pendekar Tombak Naga yang mesin mencoba tetap berdiri dengan bantuan tombaknya.


“Karena kamu tahu siapa aku, dan karena aku juga sudah tidak ingin bermain lebih lama denganmu. Aku akan mengakhiri ini semua, jurus tarian pedang rembulan gerakan ketiga, tarian pedang bulan sabit...” Qin Chen bergerak maju sembari mengayunkan pedangnya, dan dari ayunan pedang Qin Chen terbentuk siluet bulan sabit yang langsung membelah tubuh pendekar Tombak Naga menjadi dua bagian sama besar.


“Aku lupa mengatakan pada kalian semua. Saat aku sudah turun ke medan pertempuran, siapapun musuhku dia harus mati!...” Seru Qin Chen dan langsung saja dia menyerang prajurit musuh yang sudah gemetar ketakutan hanya dengan melihat sosoknya.


°°°


Bersambung...


Jangan lupa baca juga novel baru author...

__ADS_1



__ADS_2