
Jangan lupa like dan komentarnya, terimakasih...
°°°
Asap keluar dari lubang hidung dan lubang mulut Qin Chen setelah tiga jam bermeditasi melatih kitab teknik pernapasan Napas Api. Dengan melatih kitab teknik pernapasan Napas Api, Qin Chen dapat memulihkan tenaga dalamnya sepuluh kali lebih cepat dari sebelumnya.
Dengan memiliki teknik pernapasan Napas Api, kini dia bisa memulihkan tenaga dalam lebih cepat, dan semua itu diperlukan saat dia berada di situasi mendesak. Sebagai pendekar yang mengolah tenaga dalam, dapat memulihkan tenaga dalam lebih cepat adalah sebuah keunggulan tersendiri.
Di dalam pertempuran sesama pendekar yang mengolah tenaga dalam, jumlah tenaga dalam sangatlah penting, tapi yang tak kalah penting adalah kecepatan dalam pemulihan tenaga dalam.
Qin Chen yang kehabisan tenaga dalam untuk menyempurnakan teknik pernapasan Napas Api, untuk pertama kalinya dia memulihkan tenaga dalam menggunakan teknik pernapasan Napas Api. Dengan teknik pernapasan Napas Api tenaga dalamnya kembali penuh terisi hanya dalam sepuluh menit.
“Sekarang aku memiliki 1.450 lingkaran tenaga dalam. Untuk menjadi pendekar tingkat Kaisar, aku harus memiliki setidaknya 1.500. Lao Pi, wanita itu sepertinya sudah berada di tingkat Kaisar,” gumam Qin Chen mengingat sosok guru Ratu Li Wei.
“Kalau ingin mengalahkan wanita itu, secepatnya aku harus berhasil meningkatkan kekuatan sampai tingkat Kaisar,” ujarnya.
Qin Chen ingin sekali melanjutkan pelatihannya, tapi melihat hari mulai gelap dia memutuskan untuk kembali ke Istana Kerajaan Shu.
Dia masih khawatir Lao Pi kembali datang untuk mencelakai Putri Liu Yao saat dirinya tidak sedang berada di istana Kerajaan Shu.
Sampai di istana Kerajaan Shu, Qin Chen tidak mendapati keberadaan Putri Liu Yao di ruangannya. Saat bertanya pada prajurit penjaga ruang kerja Putri Liu Yao, prajurit mengatakan Putri Liu Yao berada di aula menyambut tamu dari Kerajaan Song.
Prajurit itu juga mengatakan pada Qin Chen kalau Putri Liu Yao menunggu kedatangannya di aula Kerajaan.
‘Sepertinya ada sesuatu yang penting sampai Kerajaan Song mengunjungi Kerajaan Shu saat hari sudah mulai larut,’ ujar Qin Chen dalam hati, lalu dia bergegas pergi ke aula istana Kerajaan menemui wanitanya.
Prajurit penjaga aula istana ingin mengumumkan kedatangan Qin Chen, tapi dengan cepat Qin Chen melarang prajurit itu mengumumkan kedatangannya, dan Qin Chen begitu saja memasuki aula istana.
Saat Qin Chen berada di dalam aula istana, dia melihat dua orang pria dan seorang wanita sedang berbicara bergantian dengan Putri Liu Yao.
Terlihat salah satu pria yang usianya lebih muda dibandingkan pria satunya, dia terus menatap Putri Liu Yao tanpa berkedip.
“Tidak baik terlalu lama menatap wanita yang bukan milikmu!” ujar Qin Chen menatap pria yang terus menatap Putri Liu Yao begitu dia berdiri di sebelah tempat duduk Sang Putri.
Putri Liu Yao menunjukkan senyuman di balik cadarnya melihat kedatangan pria yang sejak tadi dia tunggu kedatangannya.
__ADS_1
Melihat interaksi diantara Putri Liu Yao dan sosok pria bertopeng yang tidak mereka kenali, ketiga tamu dari Kerajaan Song menatap tidak suka keberadaan pria bertopeng. Mereka menganggap pria itu sebagai benalu.
Dari cara ketiga orang itu menatapnya, Qin Chen tahu mereka tidak menyukai keberadaannya. Akan tetapi dia memilih mengacuhkan keberadaan mereka, dan hanya berfokus pada wanita yang sudah menggenggam erat tangannya.
Satu-satunya wanita diantara tamu dari Kerajaan Song tiba-tiba berkata tegas pada Putri Liu Yao, “Keponakanku, siapa pria bertopeng tidak tahu sopan santun yang bahkan tidak memberi hormat pada kami yang merupakan tamu dari Kerajaan Song? Apa dia salah satu pengawal pribadimu?...” wanita itu adalah Song Ziyi, Bibi Putri Liu Yao.
“Siapapun dia, yang jelas dia adalah pria yang sudah aku pilih menjadi pendamping hidupku,” kata Putri Liu Yao menjawab keingintahuan Song Ziyi.
Song Ziyi mengerutkan kening setelah tahu status pria bertopeng bagi Putri Liu Yao. Mengetahui itu, dengan tegas dia menolak pria yang tidak sepadan dengan Putri Liu Yao menjadi pendampingnya.
“Keponakanku, bagaimana mungkin kamu ingin bersanding dengan pria yang tak sepadan dengan statusmu?” seru Song Ziyi.
“Daripada dengan pria itu, lebih baik kamu memilih diantara mereka untuk menjadi pendamping kamu...” Song Ziyi menunjuk dua pria yang datang bersamanya.
Putri Liu Yao bukanlah wanita yang bisa diatur-atur oleh orang lain, apalagi kalau sudah berhubungan dengan siapa yang pantas atau tidak pantas menjadi pendampingnya.
“Bibi tidak punya hak ikut campur dalam kehidupanku!” kata tegas Putri Liu Yao.
“Lagi pula, dua pria yang Bibi maksud tak akan pernah sebanding dengan pria pilihanku. Aku sarankan Bibi untuk tidak lagi melihat seseorang hanya dari luarnya,” lanjutnya.
Song Ziyi sangat tidak senang mendengar apa yang dikatakan Putri Liu Yao padanya, dan dia benar-benar tidak menyangka gadis kecil yang dulunya penurut kini telah menjadi wanita pembangkang.
Qin Chen pelan menggelengkan kepala, lalu tiba-tiba saja sosoknya sudah berdiri di depan Song Ziyi.
Wanita itu tentu terkejut melihat keberadaan Qin Chen di depannya, dan spontan dia melangkah mundur menjauhi Qin Chen.
“Aku tidak butuh harta darimu karena aku sudah memiliki harta paling berharga di dunia ini...” Qin Chen melirik Putri Liu Yao, menunjukkan pada Song Ziyi kalau harta paling berharga yang dia maksud adalah Putri Liu Yao.
Selesai berkata, Qin Chen menatap bergantian dua pria di sebelah Song Ziyi. “Daripada terus mengarahkan tatapan penuh kebencian padaku, kenapa kalian tidak langsung menyerangku?” ujar Qin Chen.
Kedua pria itu menggerakkan gigi marah, setelah mereka mendengar kata-kata yang baru saja terlontar keluar dari mulut Qin Chen.
“Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri, dan setelahnya aku akan menjadikan Putri Liu Yao sebagai Permaisuri di kediamanku!” seru salah satu pria sambil bergerak menyerang Qin Chen.
Pria itu bergerak menyerang Qin Chen menggunakan tangan kosong. Akan tetapi, secepat apapun serangannya, tak satupun serangan yang mampu mengenai sasaran.
__ADS_1
“Lambat!...” Seru Qin Chen lalu dia menangkap tangan kanan pria yang menyerangnya, lalu dia melemparkan pria itu sampai terpental menghantam dinding aula istana.
“Apa pria lemah seperti itu yang dikatakan lebih baik dariku? Hanya orang yang punya mata tapi tidak bisa melihat yang mengatakan pria itu lebih baik dariku!...” Qin Chen menghilang dari tempatnya dan tiba-tiba muncul di depan pria satunya.
“Arghhhh...” Pria satunya berteriak kesakitan saat Qin Chen tiba-tiba saja memukul perutnya.
Tubuh Song Ziyi bergetar ketakutan melihat apa yang dilakukan Qin Chen pada kedua pria yang ingin dia jodohkan dengan keponakannya.
Dia tidak tahu kalau keponakannya telah memiliki seorang pria sebagai pendamping hidupnya, dan lagi pria itu bukanlah sosok yang bisa dia remehkan.
Terbukti pria pilihan keponakannya dapat mengalahkan dengan mudah dua pria yang cukup tinggi dalam ilmu beladiri, bahkan salah satu dari mereka merupakan Jenderal muda Kerajaan Song.
Tidak ingin membuat Song Ziyi semakin ketakutan, Qin Chen memutuskan kembali ke tempat semula, berdiri di sebelah Putri Liu Yao.
“Sebaiknya Bibi bawa mereka kembali ke Kerajaan Song! Akan tetapi kalau Bibi ingin bermalam di Kerajaan Shu, aku akan menyiapkan kediamam tamu sebagai tempat bermalam Bibi dan mereka,” ujar Putri Liu Yao lalu dia memanggil prajurit untuk menyiapkan kediaman tamu.
Dua orang prajurit membantu dua pria yang terluka akibat serangan Qin Chen, dan dua prajurit menemani Song Ziyi menuju kediaman tamu yang berada tak jauh dari istana Kerajaan.
Song Ziyi masih memiliki rencana untuk memisahkan pria bertopeng dengan Putri Liu Yao. Saat kekuatan tidak bisa menyingkirkan pria itu, dia bisa cara lain untuk menyingkirkannya.
Sementara itu, Qin Chen dan Putri Liu Yao yang tertinggal di aula istana, mereka hanya bisa menghela nafas melihat orang-orang yang baru keluar meninggalkan aula istana.
“Kenapa tiba-tiba Bibi kamu datang dan ingin menjodohkan kamu dengan pria yang dia bawa?” tanya Qin Chen.
“Aku sendiri tidak tahu karena tiba-tiba dia datang dan menyuruh aku memilih salah satu dari dua pria yang dibawanya untuk menjadi pendampingku,” jawab Putri Liu Yao.
“Apa kamu tidak merasa ada maksud lain dari kedatangannya yang begitu tiba-tiba, dan lagi dia membawakan dua pria untuk kamu pilih menjadi pendampimu?” kembali Qin Chen bertanya.
“Aku mendengar kabar kalah posisinya sebagai Permaisuri di Kerajaan Song sedang terancam karena dia tak kunjung melahirkan seorang penerus, dan mungkin dia ingin menggunakan kekuatan Kerajaan Shu untuk memperkuat kedudukannya sebagai Permaisuri Kerajaan Song,” ujar Putri Liu Yao.
“Apa yang kamu anggap kemungkinan, aku rasa itu adalah tujuan utamanya...”
“Apa menurutmu aku perlu mengawasi pergerakan mereka selama berada di istana Kerajaan?” tanya Putri Liu Yao pada Qin Chen.
“Kita memang perlu mengawasi pergerakan mereka, dan aku sendiri yang akan melakukannya,” kata Qin Chen.
__ADS_1
°°°
Bersambung.