
Jangan lupa like dan komentarnya, terimakasih.
...----------------...
Waktu terus berjalan, dan tujuh hari berlalu begitu saja.
Di perbatasan Kerajaan Tang dan Kerajaan Song, dua ratus ribu prajurit Kerajaan Chu dan Kerajaan Song mencoba menembus pertahanan Kerajaan Tang, tapi mereka mendapat perlawanan sengit dari prajurit Kerajaam Tang yang menjaga perbatasan, bahkan jumlah kematian di pihak mereka jauh lebih banyak dibandingkan jumlah kematian pihak musuh.
“Bukannya Kerajaan Tang tidak memiliki persenjataan berat yang banyak dan tidak memiliki banyak prajurit terlatih? Ini, bagaimana bisa sekarang mereka memiliki persenjataan berat dalam jumlah banyak dan prajurit mereka sangat terlatih melakukan serangan jarak jauh?” Prajurit Kerajaan Song dan Kerajaan Chu dibuat bingung akan kekuatan Kerajaan Tang.
Jika dalam peperangan sebelumnya Kerajaan Tang hanya memiliki empat meriam dan itu semua sudah diantisipasi oleh mereka dengan memperkuat pertahanan. Namun, apa yang sekarang mereka lihat tidak sama seperti yang sebelumnya mereka ketahui.
“Belasan meriam dan prajurit yang mampu melesatkan anak panah sejauh dua ratus meter. Bukannya kita hanya menyerahkan nyawa kalau terus menyerang mereka?”
Prajurit dari dua Kerajaan mulai ragu melakukan serangan ke pertahanan Kerajaan Tang yang sudah dua hari ini tidak berhasil mereka tembus.
Meriam, pelontar bola api, dan panah yang mereka miliki tidak membantu dalam penyerangan karena jarak jangkauan serangan musuh lebih jauh dibandingkan jarak serangan persenjataan yang mereka miliki.
Saat membawa persenjataan mereka lebih maju untuk mendapatkan jarak serangan yang ideal, persenjataan yang mereka miliki lebih dulu berhasil dihancurkan oleh serangan musuh. Setidaknya, sampai saat ini lima dari dua puluh meriam yang mereka bawa telah hancur di tangan musuh.
“Yang Mulia, kita sama sekali tidak bisa merangsek maju untuk menguasai benteng pertahanan Kerajaan Tang. Sedikit saja kita mendekat, persenjataan mereka langsung memusnahkan apa saja yang berada di jangkauan serangan mereka,” kata Li Jun, salah satu Jenderal kepercayaan Ratu Li Wei.
Ratu Li Wei yang mendengar itu menunjukkan ekspresi tidak senang. “Persenjataan mereka pasti hasil pemberian Kerajaan Shu. Terus saja kerahkan prajurit merangsek maju, dan kita lihat seberapa banyak persenjataan yang mereka miliki!” ungkap Ratu Li Wei.
Jenderal Li Jun menganggukkan kepala, lalu dia pergi menyiapkan prajurit yang akan dikorbankan untuk menghabiskan seluruh persenjataan yang dimiliki Kerajaan Tang.
Prajurit yang akan dikorbankan bukanlah prajurit yang sebenarnya, melainkan mereka adalah rakyat Kerajaan Song yang dipaksa ikut dalam perang.
Setidaknya ada seratus ribu rakyat Kerajaan Song yang akan dikorbankan dalam peperangan kali ini, dan mungkin jumlah itu akan bertambah kalau gelombang pertama belum berhasil membuat Kerajaan Tang kehabisan persenjataan mereka.
__ADS_1
Akan tetapi, rencana Ratu Li Wei sudah diketahui oleh Raja Tang Gong yang mendapatkan informasi itu dari mata-mata Kerajaan Shu, yang tersebar diantara orang-orang kepercayaan Ratu Li Wei.
Raja Tang Gong sudah diberitahu yang mana prajurit palsu dan yang mana prajurit asli. Saat prajurit palsu yang maju menyerang, Raja Tang Gong akan menghentikan serangan dan membuka gerbang benteng untuk menyambut kedatangan mereka.
Sebaliknya, jika yang maju menyerang adalah prajurit asli Kerajaan Chu dan Kerajaan Song, serangan besar-besaran akan dilakukan untuk menghancurkan mereka.
Gelombang pertama yang terdiri dari seratus ribu prajurit maju menyerang benteng pertahanan Kerajaan Tang. Terlihat mereka semua maju dengan penuh semangat, membuat senang Jenderal Li Jun yang melihatnya.
Akan tetapi Jenderal Li Jun segera menyadari adanya keanehan saat prajurit Kerajaan Tang yang berjaga dibenteng tidak melakukan serang. Dengan kedua matanya, dia justru melihat gerbang benteng Kerajaan Tang terbuka lebar menyambut kedatangan prajurit yang sebenarnya merupakan sekumpulan rakyat Kerajaan Song.
Jenderal Li Jun baru sadar kalau dirinya telah masuk dalam rencana musuh saat melihat seratus ribu prajurit palsu yang dia kirim, justru bersorak gembira dan berbondong-bondong masuk ke dalam benteng pertahanan Kerajaan Tang.
Semua rencana sudah diatur oleh mata-mata Kerajaan Shu yang juga menyusup diantara prajurit palsu yang akan dikorbankan. Mereka para mata-mata memberitahu pada seluruh prajurit palsu kalau Kerajaan Tang tidak akan menyerang, tapi justru menyambut kedatangan mereka.
“Aku tidak menyangka rencana yang begitu matang berhasil diketahui pihak musuh. Keberadaan mata-mata musuh berhasil membuat kemunduran dalam rencana yang sudah aku susun,” gumam Jenderal Li Jun, lalu dia segera melaporkan apa yang terjadi pada Ratu Li Wei.
“Yang Mulia, mereka semua ada seratus ribu orang, dan sebagian besar dari mereka bukanlah orang yang mengerti beladiri. Hanya seperempat dari mereka yang mengerti beladiri, dan itupun juga cuma mengerti tentang dasar-dasar beladiri,” kata prajurit Kerajaan Tang yang baru saja selesai mengumpulkan seluruh informasi dari rakyat Kerajaan Song yang datang sebagai prajurit palsu Kerajaan Chu dan Kerajaan Song.
Raja Tang Gong menganggukkan kepala. “Perlakukan mereka dengan baik. Mereka bukan musuh, mereka justru korban dalam peperangan ini,” kata Raja Tang Gong.
“Baik Yang Mulia, hamba dan yang lainnya akan memperlakukan mereka selayaknya saudara,” balas prajurit, lalu dia pergi untuk menjalankan tugas yang diberikan padanya.
“Tanpa bantuan Kerajaan Shu, Kerajaan Tang tidak mungkin bertahan sampai hari ini,” gumam lirih Raja Tang Gong yang merasa dirinya berhutang banyak pada Kerajaan Shu.
...----------------...
Istana Kerajaan Shu.
“Perang di Kerajaan Tang sudah berlangsung selama dua hari, dan belum ada tanda-tanda peperangan itu akan berakhir,” kata Putri Liu Yao pada semua orang yang hadir di aula istana Kerajaan Shu.
__ADS_1
Putri Liu Yao terus mengawasi jalannya peperangan di Kerajaan Tang, dan bila diperlukan dia bisa mengirim bantuan prajurit untuk membantu Kerajaan Tang.
“Meskipun saat ini kita sedang menunggu waktu untuk memulai peperangan dengan Kerajaan Gui dan Kekaisaran Qing, kita tidak bisa membiarkan Kerajaan Tang berjuang seorang diri karena bagaimanapun juga saat ini hanya mereka yang berada di sisi kita. Bagaimanapun caranya, kita harus membantu kalau mereka memang membutuhkan bantuan dari kita,” ujar Putri Liu Yao.
Semua orang tidak ada yang keberatan, mereka sangat setuju dengan keputusan Putri Liu Yao membantu Kerajaan Tang dalam perang melawan Kerajaan Chu dan sisa-sisa kekuatan Kerajaan Song.
“Yang Mulia, lima puluh ribu pasukan Teratai Perak dan sepuluh ribu prajurit Teratai Emas siap dikirim ke Kerajaan Tang untuk membantu memerangi Kerajaan Chu dan Kerajaan Song,” kata Jenderal Shang Hong yang saat ini diberikan tanggungjawab memimpin pasukan Teratai Perak dan pasukan Teratai Emas.
Putri Liu Yao menganggukkan kepala. “Kirim dua wakilmu untuk memimpin mereka membantu Kerajaan Tang! Namun, mereka tidak perlu mati sia-sia di tempat itu. Jika musuh kuat dan tidak bisa dilawan, mereka bisa ikut mundur bersama prajurit Kerajaan Tang,” ujar Putri Liu Yao.
Jenderal Shang Hong yang sudah mendapatkan perintah, dia pamit undur diri meninggalkan aula istana, dan segera pergi untuk melakukan apa yang memang harus dia lakukan.
Di dalam aula Kerajaan Shu Putri Liu Yao kembali berkata. “Kiriman senjata dari barat telah sampai ke Kerajaan Gui dan Kekaisaran Qing, dan kemungkinan dua hari lagi mereka akan mulai penyerangan.”
“Saat terjadi penyerangan tentu aku tidak bisa kalau hanya berdiam diri di istana ini. Aku akan pergi ke perbatasan Kerajaan yang berbatasan langsung dengan Kekaisaran Qing, dan bersama prajurit di sana aku akan memerangi Kekaisaran Qing.”
“Jin Han, Jin Yan, Jin Fan, Jenderal Qiao Bai, kalian aku beri tugas melawan pasukan Kerajaan Gui. Namun jika kekuatan musuh sulit ditaklukkan, kalian bisa mundur ke pertahanan selanjutnya.”
“Mu Niao, Zang Lei, dan kalian keempat Jenderal Kerajaan akan pergi bersamaku! Jenderal Shang Hong nantinya akan ikut mempertahankan wilayah dari serangan Kerajaam Gui, dan untukmu,” Putri Liu Yao menatap Qin Chen, “Kamu ikut denganku,” katanya.
Semua orang memiliki tugas masing-masing, termasuk mereka yang akan tetap tinggal di istana Kerajaam saat Putri Liu Yao dan yang lainnya pergi ke medan perang.
Mereka yang berada di istana bertugas mengatur pasokan senjata, makanan, dan obat-obatan untuk prajurit yang berada di medan perang. Tugas mereka tak kalah penting karena keberhasilan tugas mereka, dapat menjadi faktor utama penentu hasil perang.
Dengan lancarnya pasokan senjata, makanan, serta obat-obatan, prajurit di medan perang tidak perlu khawatir kebutuhan mereka tidak akan tercukupi, dan dengan begitu mereka bisa fokus pada peperangan yang sedang berlangsung.
...----------------...
Bersambung.
__ADS_1