
Jangan lupa like dan komentarnya, terimakasih.
...----------------...
Pagi ini Qin Chen kembali menjalani rutinitasnya melatih prajurit anggota Kavaleri Naga Hitam. Meskipun mereka telah menjadi bagian dari Kavaleri Naga Hitam, Qin Chen tetap memberi pelatihan pada mereka, supaya mereka semakin siap saat turun langsung ke medan perang.
Untuk hari ini Qin Chen lebih banyak memberi pelatihan tentang bagaimana cara menggunakan anak panah supaya mampu melesat jauh, dan tepat sasaran. Jika prajurit biasa paling jauh bisa menjangkau jarak seratusan meter, Qin Chen ingin mereka mampu melesatkan anak panah sejauh tiga ratus meter.
Dengan sedikit modifikasi pada busur panah dan anak panah yang mereka gunakan, saat ini yang perlu dilakukan Qin Chen hanyalah melatih teknik memanah mereka. Dengan busur panah dan anak panah yang lebih berat dari busur dan anak panah biasa, diperlukan lebih banyak tenaga untuk menggunakannya.
Untuk menghemat penggunaan tenaga, Qin Chen melatih mereka menggunakan tenaga dalam saat melesatkan anak panah. Selain mengurangi tenaga yang dikeluarkan, penggunaan tenaga dalam dapat mempercepat laju anak panah, dan memperjauh jarak lesatan anak panah. Selain itu, penggunaan tenaga dalam juga memperbesar kemungkinan anak panah melesat tepat ke sasaran.
Jarak awal yang hanya mencapai dia ratus meter, setelah menggunakan tenaga dalam, lesatan anak panah bisa mencapai jarak lebih dari tiga ratus meter, dan tepat mengenai sasaran. Setelah melihat bagaimana Qin Chen melesatkan anak panah, kini giliran prajurit anggota Kavaleri Naga Hitam yang mencoba.
Di percobaan pertama semua gagal melesatkan anak panah dengan menggunakan tenaga dalam. Di percobaan kedua, sudah ada beberapa yang berhasil, dan di percobaan seterusnya semakin banyak yang berhasil.
Menjelang siang seluruh prajurit anggota Kavaleri Naga Hitam akhirnya berhasil melesatkan anak panah menggunakan tenaga dalam. Meskipun jarak lesatan anak panah mereka belum sejauh Qin Chen, dengan pelatihan keras, dalam satu atau dua minggu ke depan mereka pasti dapat menyamai jarak lesatan anak panah Qin Chen.
Siang hari setelah melakukan latihan tanpa henti sejak pagi, Qin Chen memberi waktu istirahat selama satu jam untuk seluruh prajurit anggota Kavaleri Naga Hitam.
Selama mereka istirahat, Qin Chen menemui Jin Han yang sedang mengawasi pembuatan berbagai jenis senjata di pabrik senjata, yang letaknya tidak jauh dari tempat pelatihan prajurit anggota Kavaleri Naga Hitam.
Sampai di pabrik senjata, dengan tambahan pekerja tiga kali lebih banyak dari sebelumnya dan bahan baku yang melimpah, pabrik senjata mampu menghasilkan senjata tiga kali lebih banyak dari sebelumnya.
Dalam satu bulan, akan ada seratus meriam yang memperkuat Kerajaan Shu, dan akan ada belasan yang dikirim untuk memperkuat pertahanan Kerajaan Tang yang mendapat ancaman serangan dari Kerajaan Chu.
Saat Qin Chen melalui malam panjang dengan Putri Liu Yao, mereka harus menghentikan apa yang sedang mereka lakukan setelah mendapat kabar jatuhnya Kerajaan Song ke tangan Kerajaan Chu, dan tak lama setelah itu Kerajaan Chu menyatakan perang dengan Kerajaan Tang.
‘Tak lama lagi seluruh daratan akan terlibat dalam peperangan besar, dan kemungkinan Kerajaan Shu akan menjadi pusat peperangan,’ ungkap Qin Chen membatin sambil berjalan menuju ruang kerja Jin Han.
Tanpa permisi karena tahu Jin Han sudah mengetahui kedatangannya, Qin Chen langsung masuk kedalam ruang kerja Jin Han, dan benar saja pria itu sudah tahu akan kedatangannya.
__ADS_1
“Bagaimana pekerjaanmu pagi ini? Apa semua berjalan lancar seperti hari-hari sebelumnya?” tanya Qin Chen sambil melihat banyaknya sampah kertas berserakan di ruang kerja Jin Han. Dari sampah kertas, Qin Chen melihat kalau Jin Han sedang merancang persenjataan baru.
“Tuan, semua berjalan lancar, tapi aku masih kesulitan merancang persenjataan baru,” jawab Jin Han.
Qin Chen mengambil salah satu sampah kertas, dan melihat dengan seksama rancangan senjata yang terdapat di kertas itu. Hanya sebentar melihat, Qin Chen sudah tahu kekurangan dari senjata rancangan Jin Han.
Dia lalu berjalan ke arah meja kerja Jin Han, dan meletakkan kertas itu di atas meja. “Ini adalah rancangan senjata api yang dapat membunuh musuh di jarak jauh. Rancanganmu sudah sempurna, tapi kamu perlu menambah sesuatu alat tambahan yang bisa digunakan untuk membidik musuh di kejauhan,” kata Qin Chen lalu dia memberikan sebuah teropong berukuran kecil pada Jin Han.
“Pikirkan bagaimana cara membuat teropong itu bisa menjadi satu bagian dari senjata rancanganmu!” kata Qin Chen lalu dia pergi meninggalkan ruang kerja Jin Han karena dia tidak ingin mengganggu waktu kerja pria itu.
Sedangkan Jin Han, dia akhirnya mendapat pencerahan setelah melihat teropong pemberian Qin Chen. “Ternyata aku memang tidak bisa melampaui kehebatan Tuan dalam hal apapun.”
Meski tidak bisa menyelesaikan semuanya dengan pemikirannya sendiri, Jin Han tidak merasa kecewa. Dia tahu batasan kecerdasannya, dan dia juga tahu kalau kecerdasan Qin Chen jauh melampaui apa yang dimilikinya.
“Dengan begini, aku bisa segera menyempurnakan rancangan senjataku,” ujar Jin Han lalu dia melanjutkan pekerjaannya.
...----------------...
Qin Chen sedikit mengangkat sebelah alisnya melihat apa yang dilakukan Putri Liu Yao.
“Jurus Pedang Bunga Teratai, Teratai Kematian.”
Putri Liu Yao melakukan gerakan pedang. Gerakannya sangat lincah dan indah, tapi setiap ayunan pedangnya begitu tajam dan mematikan.
Meskipun hanya berdiri melihat, Qin Chen dapat merasakan seberapa kuat jurus yang sedang diperagakan Putri Liu Yao. “Jurus itu akan jauh lebih kuat dan mengerikan saat dia sudah menggunakan tenaga dalam,” katanya memberi penilaian.
Putri Liu Yao menghentikan latihannya saat melihat Qin Chen berdiri di pinggir lapangan pelatihan. Melihat kearah matahari, dia baru sadar kalau hari sudah siang.
Dengan gerakan yang begitu anggun Putri Liu Yao berlari ke arah Qin Chen sambil menyarungkan pedang di tangannya. Tiba di hadapan Qin Chen, Putri Liu Yao menunjukkan senyuman pada pria itu.
“Bagaimana kalau kita menikmati makan siang bersama?” tanya Pitri Liu Yao yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Qin Chen, sebagai tanda dia menerima tawarannya.
__ADS_1
Berjalan menuju ruang makan istana Kerajaan Shu, Putri Liu Yao membahas beberapa hal dengan Qin Chen. “Keadaan di perbatasan dengan Kekaisaran Qing semakin memanas, sama halnya dengan keadaan di wilayah baru Kerajaam Shu yang berbatasan langsung dengan Kerajaan Gui,” ujar Pitri Liu Yao.
“Apa yang mereka tunjukkan saat ini, sepertinya mereka ingin memecah kekuatan kita,” kata Qin Chen mencoba membaca apa yang sedang direncanakan Kekaisaran Qing dan Kerajaan Gui.
Putri Liu Yao mengangguk setuju. “Mereka ingin melemahkan kita dengan menyerang dari dua arah berbeda,” ungkapnya.
“Meskipun mereka memiliki rencana yang cukup baik, tapi sayangnya mereka tidak tahu seberapa besar kekuatan yang dimiliki lawannya. Dengan membagi serangan di dua tempat, itu menunjukkan kalau mereka masih menganggap remeh kekuatan kita,” kata Qin Chen.
"Mereka tidak sepenuhnya meremehkan kekuatan kita. Bagaimanapun juga, mereka pasti sudah mendengar kabar dari Kerajaan Tang, dan aku yakin mereka sudah melakukan penyelidikan untuk mencari kebenaran dari kabar itu,” kata Pitri Liu Yao.
Kabar kemenangan Kerajaan Tang atas Kerajaan Song memang sangat mengejutkan bagi siapapun. Namun, setelah tahu Kerajaan Tang mendapat bantuan Kerajaan Shu, mereka menganggap kemenangan itu adalah sebuah kewajaran.
Tak lagi melanjutkan pembicaraan karena saat ini banyaknya prajurit di sekitar mereka, Qin Chen dan Putri Liu Yao hanya fokus melangkahkan kaki berjalan menuju ruang makan.
“Dengan runtuhnya Kerajaan Song dalam satu malam, kini di daratan timur hanya tersisa empat Kerajaan dan satu Kekaisaran. Bisa dikatakan kekuatan daratan timur sedang mengalami penurunan,” kata Putri Liu Yao begitu duduk di kursi ruang makan.
“Apa kamu merasa kalau keadaan daratan timur dapat memamcing niatan buruk dari mereka yang tinggal di daratan barat?” tanya Qin Chen.
Putri Liu Yao menganggukkan kepala. “Mereka bukanlah orang yang tidak gila akan kekuasaan dan kekayaan. Melihat semakin melemahnya keadaan kita yang tinggal di daratan timur, mereka pasti memiliki keinginan menguasai seluruh wilayah daratan timur,” kata Putri Liu Yao cemas.
Qin Chen tahu akan kecemasan yang dirasakan Putri Liu Yao, dan ada kemungkinan semua itu benar-benar akan terjadi setelah berakhirnya Perang besar di wilayah daratan timur. Memanfaatkan melemahnya kekuatan wilayah timur setelah peperangan, penguasa wilayah barat pasti merencanakan penyerangan ke wilayah timur.
“Meski kita merain kemenangan, apa ada harapan bagi kita mengalahkan mereka bangsa barat yang lebih unggul dalam persenjataan?” tanya Putri Liu Yao.
“Harapan itu pasti ada, dan lagi saat ini pabrik senjata sedang mempersiapkan rancangan senjata baru yang dapat kita gunakan dalam peperangan di masa yang akan datang.”
“Begitu senjata-senjata itu selesai dibuat, kita pasti dapat mengimbangi kekuatan bangsa barat,” ungkap Qin Chen sambil tersenyum.
...----------------...
Bersambung.
__ADS_1