Legenda Qin Chen

Legenda Qin Chen
Peperangan Di Kota Zhuhai


__ADS_3

Jangan lupa like dan komentarnya, terimakasih...


°°°


Pasukan Kerajaan Ming telah sampai di depan gerbang benteng Kota Zhuhai, tapi dari jumlah awal mereka yang berjumlah lebih dari tiga ratus ribu orang, kini jumlah mereka tak lebih dari tiga ratus ribu orang setelah terkena jebakan di sepanjang jalan menuju Kota Zhuhai. Sedangkan untuk pasukan Kerajaan Gui, saat ini mereka sedang melalui jalan memutari kota, menuju gerbang belakang Kota Zhuhai.


Ratusan ribu prajurit yang dipimpin Jenderal Besar Kerajaan Gui, mereka hampir sampai di pertengahan jalan menuju gerbang belakang benteng Kota Zhuhai. Namun, pergerakan mereka terhenti saat sebuah batu besar menutup jalan yang ingin mereka lewati.


Kalau hanya batu, mereka pasti dapat melewatinya dengan mengambil jalan di sisi kanan dan kiri batu. Akan tetapi, mereka tidak bisa begitu saja melewati batu yang menghalangi jalan karena di atas batu berdiri tegak seorang pria yang di tangan kanannya memegang bendera berlambang seekor naga berwarna hitam.


“Melihat kalian yang jauh-jauh datang ke tempat ini. Aku Jin Han, wakil pemimpin pasukan Naga Hitam dengan senang hati menyambut kedatangan kalian. Namun, kalian semua yang datang tidak aku izinkan pergi sebelum sambutan yang aku berikan selesai,” kata tegas Jin Han, sosok pria yang berdiri tegak di atas batu, dan begitu dia menyelesaikan kata-katanya ribuan anak panah melesat menghujani pasukan Kerajaan Gui.


“Sialan... ini jebakan! Semuanya cepat mundur tinggalkan tempat ini!” seru Jenderal Besar pemimpin pasukan Kerajaan Gui.


Jin Han yang berdiri di atas batu tertawa melihat musuhnya panik, dan mencoba pergi meninggalkan tempat yang sudah dia persiapkan sebagai tempat kematian mereka. “Aku baru saja memulai acara sambutan untuk kalian. Bersenang-senang lah dengan acara sambutanku, dan seperti yang tadi aku katakan kalian tidak aku izinkan pergi sebelum acara sambutan selesai,” seru Jin Han.


“Abaikan orang itu! Cepat mundur tinggalkan tempat ini!...” Jenderal Besar Kerajaan Gui memimpin pasukannya bergerak mundur, tapi pergerakannya kembali terhenti saat dia melihat ribuan prajurit menghadang jalannya.


“Kakak Han sudah melarang kalian pergi meninggalkan tempat ini sebelum acara sambutannya selesai. Jadi, sebaiknya kalian tetap berada di tempat ini!” ujar Jin Fan, yang berdiri di sebelah Jin Yan.


“Kita benar-benar telah terjebak, dan tak ada jalan untuk mundur selain melawan mereka,” kata Jenderal Besar Kerajaan Gui.


“Maju, serang mereka!” lanjutnya dengan suara lantang.


Jenderal Besar dan seluruh pasukan Kerajaan Gui yang masih dapat bergerak, mereka segera merangsek maju menyerang pasukan Naga Hitam yang dipimpin Jin Fan dan Jin Yan.


“Hahahaha... datanglah kemari dan temui kematian kalian!” seru Jin Yan sangat bersemangat menyambut kedatangan Jenderal Besar dan pasukan Kerajaan Gui.

__ADS_1


Jin Fan dan Jin Yan segera mengeluarkan senjata mereka berupa pedang kembar. Keduanya sama-sama pendekar pedang ganda, yang memiliki daya hancur dua kali lebih mengerikan dibandingkan dengan pendekar yang hanya menggunakan satu senjata. Akan tetapi, mereka akan lebih cepat mengalami kelelahan. Bagaimanapun juga, dua senjata jauh lebih banyak memakan tenaga dibandingkan hanya menggunakan satu senjata.


“Clang... Clang... Clang...” benturan pedang bertemu dengan pedang langsung saja terjadi saat Jin Fan dan Jin Yan serta pasukan Naga Hitam, bertemu dengan pasukan Kerajaan Gui.


“Mereka yang datang sebagai musuh kami, mereka harus pulang dalam kematian!” seru Jin Yan sambil terus menyerang dan membunuh prajurit dari pasukan Kerajaan Gui.


Jenderal Besar yang berhadapan satu lawan satu dengan Jin Han yang ikut turun ke medan perang setelah terlebih dahulu menghentikan pasukan pemanah, sang Jenderal merasa kalau lawannya bukanlah lawan yang bisa dia kalahkan dengan mudah. ‘Sial... kenapa juga aku harus bertemu dengan orang-orang kuat seperti mereka? Pasukan Naga Hitam, bukannya mereka pasukan milik Dewa Perang Kerajaan Chu, kenapa tiba-tiba bisa muncul di tempat ini membantu Kerajaan Shu?’ kata Jenderal Besar dalam hati.


“Kau adalah orang Kerajaan Chu, tapi kenapa kau membantu Kerajaan Shu?” tanya Jenderal Besar sambil menghalau serangan Jin Han.


“Sebenarnya aku tidak ingin memberi tahu alasan kami membantu Kerajaan Shu. Namun karena tak lama lagi kamu akan mati, jadi khusus untukmu, aku akan memberi tahu alasan kami membantu Kerajaan Shu. Sebenarnya kami bukanlah membantu Kerajaan Shu, melainkan membantu Putri Mahkota Kerajaan Shu yang merupakan wanita pemimpin kami,” balas Jin Han.


Jenderal Besar Kerajaan Gui terkejut mendengar itu. Dia tidak menyangka ada hubungan sejauh itu diantara Putri Mahkota Kerajaan Shu, dengan pemimpin pasukan Naga Hitam yang tak lain adalah Pangeran ketiga Kerajaan Chu.


Namun, keterkejutan yang dialaminya berdampak buruk pada pertempurannya dengan Jin Han. Lengah karena terkejut membuat dia harus kehilangan lengan tangan kirinya, dikarenakan dia terlambat menghindari serangan Jin Han.


Jenderal Besar mengabaikan semua kata-kata yang keluar dari mulut Jin Han, dan dia mencoba untuk kembali berkonsentrasi dengan pertempurannya. Akan tetapi, dengan luka parah yang dia alami serta harus kehilangan salah satu tangannya, membuat gerakan Jenderal Besar perlahan mulai melambat, dan dia tidak lagi bisa mengimbangi pergerakan cepat Jin Han. Meski tahu dirinya akan kalah, dia tidak begitu saja menyerah dengan keadaannya.


Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, dia mencoba memberi perlawanan pada Jin Han. Namun, kondisi lukanya yang semakin parah membuat dia hanya bisa bertahan kurang dari sepuluh menit, dan pada akhirnya dia mati di tangan Jin Han yang melakukan gerakan cepat memenggal kepalanya.


Kematian Jenderal Besar Kerajaan Gui dibarengi dengan kematian seluruh pasukannya, dan pada akhirnya peperangan berhasil dimenangkan oleh pasukan Naga Hitam.


Jin Han, Jin Fan dan Jin Yan, dengan dibantu anggota pasukan Naga Hitam, mereka mengumpulkan mayat pasukan Kerajaan Gui, lalu membakar mayat-mayat itu supaya ke depannya tidak timbul penyakit dari mayat yang dibiarkan membusuk. Untuk mayat Jenderal Besar, mereka akan membawa mayat sang Jenderal ke hadapan Qin Chen sebagai tanda kemenangan mereka.


Setelah semua mayat dikumpulkan dan mulai dibakar, Jin Han, Jin Fan serta Jin Yan, ketiganya mengarahkan pandangan ke gerbang utama benteng Kota Zhuhai yang mana suara ledakan terdengar dari arah tempat itu.


“Kakak, apa perlu kita membantu mereka?” tanya Jin Fan pada Jin Han.

__ADS_1


“Kita tidak perlu membantu mereka karena aku merasa saat ini mereka sedang bersenang-senang,” jawab Jin Han.


Benar apa yang dikatakan Jin Han, saat ini Qiao Bao dan kedua Jenderal penjaga Kota Zhuhai sedang bersenang-senang membunuh prajurit yang berasal dari pasukan Kerajaan Ming.


Tanpa ampun mereka membunuh setiap prajurit, yang masuk dalam jangkauan serangan mereka.


Sedangkan Raja Ming Kang dan Putra Mahkota Ming Lang, mereka sama sekali tidak bisa pergi meninggalkan tempatnya karena posisi mereka sudah terkepung dari berbagai arah.


Sebelumnya, saat Putra Mahkota Ming Lang ingin membuka serangan dengan melakukan serangan jarak jauh yang bertujuan menghancurkan benteng pertahanan Kota Zhuhai, dia dikejutkan dengan serangan tiba-tiba pasukan yang dipimpin oleh Qiao Bao dan dua Jenderal penjaga Kota Zhuhai.


Tidak siap menghadapi serangan cepat musuh dan kurangnya pengalaman Putra Mahkota Ming Lang memimpin pasukan di medan perang, membuat pasukan Kerajaan Ming kebingungan harus melakukan apa, dan pada akhirnya mereka menjadi bulan-bulanan padukan musuh.


Tak cukup hanya menyerang dari sisi depan, Qiao Bao membagi pasukan menjadi empat kelompok, dan menyerang dari empat arah berbeda.


Puluhan ribuan pasuk Kerajaan Ming musnah dalam hitungan kurang dari tiga puluh menit, dan jumlah itu terus bertambah seiring dengan waktu yang terus berjalan.


Sedangkan Raja Ming Kang dan Putra Mahkota Ming Lang yang tidak tahu harus melakukan apa, keduanya hanya bisa berdiam diri di tengah-tengah pasukan yang melindungi keberadaan mereka.


Para Jenderal Kerajaan yang mereka harap dapat melindungi keberadaan mereka, satu persatu para Jenderal itu mati di tangan musuh, dan hanya tersisa empat Jenderal yang saat ini berada di sekeliling keduanya.


Namun, keempat Jenderal itu tidak bisa berbuat banyak dan harus mati mengenaskan saat mereka berhadapan dengan Qiao Bao dan dua Jenderal pelindung Kota Zhuhai. Kini setelah kematian mereka, tak ada lagi yang melindungi keberadaan Raja Ming Kang dan Putra Mahkota Ming Lang.


“Aku tidak akan membunuh kalian karena ada orang lain yang lebih berhak melakukan itu pada kalian,” kata Qiao Bao sambil menggunakan pedang ke leher Putra Mahkota Ming Lang.


Sedangkan Raja Ming Kang, sang Raja yang begitu agung kini sedang di seret masuk ke dalam kota oleh dua Jenderal pelindung Kota Zhuhai.


°°°

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2