Legenda Qin Chen

Legenda Qin Chen
Ancaman Pangeran Qing Moran


__ADS_3

Jangan lupa like dan komentarnya, terimakasih...


°°°


Qin Chen menyeret kaki Kasim Kerajaan dengan tangan kirinya, sedangkan di tangan kanannya dia menyeret kaki Pangeran Qing Moran.


“Maaf, aku hanya menyisakan mereka dalam peperangan ini,” kata Qin Chen begitu dia tiba di hadapan Putri Liu Yao.


Putri Liu Yao tersenyum dibalik cadarnya, lalu dia berkata, “Aku sebenarnya tidak berharap ada yang tersisa diantara mereka, tapi karena dua orang ini masih hidup, aku tahu apa yang harus dilakukan pada mereka...”


Putri Liu Yao melihat Kasim Kerajaan yang wajahnya tak lagi dapat dikenali, tapi dari pakaian yang dipakainya, Putri Liu Yao tahu kalau orang itu adalah Kasim Kerajaan.


“Untuknya, aku akan melakukan hukuman mati padanya di hadapan seluruh penduduk Kota Hebei,” ujar Putri Liu Yao setelah melihat keadaan Kasim Kerajaan.


Berjalan ke sisi lainnya, Putri Liu Yao melihat keadaan Pangeran Qing Moran yang sedikit lebih baik dibandingkan keadaan Kasim Kerajaan. “Menurutmu, apa yang harus kita lakukan padanya? Apa kita hukum mati dia bersama dengan Kasim Kerajaan?” tanya Putri Liu Yao pada Qin Chen.


Qin Chen menatap sinis Pangeran Qing Moran yang sangat ingin mendapatkan wanitanya.


“Sebagai musuh yang telah menjadi tawanan, kita bebas melakukan apapun padanya, termasuk kalau kita ingin memberi hukuman mati padanya,” ujar Qin Chen masih dengan tatapan sinis yang dia tujukan pada Pangeran Qing Moran.


“Ka... kalau kalian membunuhku, Kekaisaran Qing akan datang menuntut balas pada kalian,” kata Pangeran Qing Moran lirih.


Bukannya takut setelah mendengar itu, Qin Chen justru tersenyum lalu dia berkata, “Aku tidak pernah takut dengan Kekaisaran Qing. Kalau mereka datang sebagai musuh, dengan senang hati aku akan menyambut kedatanhan mereka dengan panah, pedang, tombak, dan seluruh senjata yang aku miliki,” ujar Qin Chen.


“Selama ini seharusnya kamu sudah tahu kalau Kerajaan Shu tidak pernah takut dengan Kekaisaran Qing,” kata Putri Liu Yao.


“Pajak yang selama ini kami bayarkan pada Kekaisaran Qing, semata-mata itu hanya untuk meneruskan tradisi lama, dan tentu untuk menjaga hubungan baik antara Kerajaan Shu dan Kekaisaran Qing,” lanjutnya.


Setelah mengatakan apa yang ingin dia katakan, Putri Liu Yao memanggil beberapa prajurit untuk menyeret Kasim Kerajaan dan Pangeran Qing Moran ke dalam penjara Kota Hebei.


Putri Liu Yao menatap lembut Qin Chen setelah Kasim Kerajaan dan Pangeran Qing Moran diseret prajurit menuju penjara Kota Hebei. Melihat wajah Qin Chen yang terdapat bercak darah, Putri Liu Yao membersihkannya menggunakan telapak tangannya.


Saat tangan lembut Putri Liu Yao menyentuh wajahnya, Qin Chen menangkap tangan itu, lalu dengan sekali tarik, dia menjatuhkan tubuh Putri Liu Yao ke dalam pelukannya.


Di sekeliling Qin Chen dan Putri Liu Yao, semua orang sedang sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing, dan karena itu tak ada yang memperhatikan apa yang dilakukan oleh keduanya.

__ADS_1


“Aku sangat lelah setelah menggerakkan tubuh bersenang-senang dengan mereka yang tidak memberiku kepuasan. Bagaimana kalau malam ini wanitaku memberi pelayanan yang memuaskan untukku?” bisik Qin Chen di dekat telinga Putri Liu Yao.


Wajah Putri Liu Yao seketika memerah saat mendengarnya, dan dengan gemas dia mencubit pinggang Qin Chen.


“Aku akan memberi apa yang kamu inginkan...” Suara lembut terdengar dari bibir Putri Liu Yao.


“Kalau begitu, sebaiknya kita segera kembali ke istana kota sebelum malam ini berakhir!” kata Qin Chen dengan suara lembut, dan perlahan dia melepaskan pelukannya.


Begitu pelukannya terlepas, Qin Chen menggandeng tangan Putri Liu Yao, lalu keduanya bergerak cepat menuju istana Kota Hebei.


°°°


Kota Zhuhai.


Qiao Bao dan Jin Han sedang melihat prajurit Kota Zhuhai yang sedang membakar mayat pasukan Kerajaan Ming, keduanya terlihat biasa-biasa saja saat melihat tumpukan mayat di depan mereka.


“Apa saudara Han sudah mendengar kabar dari Kota Hebei?” tanya Qiao Bao.


“Mereka yang berada di sana juga sedang melakukan apa yang sedang kita lakukan di tempat ini,” jawab Jin Han.


“Akan tetapi ini semua hanya awal karena aku yakin tak lama lagi akan ada pihak yang datang menuntut balas pada Kerajaan Shu,” kata Jin Han.


Qiao Bao setuju dengan perkataan Jin Han, dan dia sangat tahu pihak-pihak mana saja yang akan datang menuntut balas pada Kerajaan Shu.


“Akan tetapi, dengan keberhasilan kita bertahan dari gempuran empat kekuatan berbeda, mereka tidak akan terburu-buru menuntut balas pada kita. Setidaknya mereka butuh waktu untuk menghimpun kekuatan,” ujar Jin Han.


“Saat mereka menghimpun kekuatan, itu juga waktu yang tepat untuk kita melakukan hal yang sama seperti yang sedang mereka lakukan. Namun, aku lebih percaya dengan kualitas dibandingkan dengan jumlah,” kata Qiao Bao.


“Saudara Bao, sepertinya kita memang ditakdirkan menjadi saudara. Sejak awal pertemuan dan mengenal saudara, aku merasa banyak persamaan diantara kita,” ujar Jin Han yang satu pemikiran dengan Qiao Bao bahwa kualitas lebih penting dibandingkan jumlah.


Qiao Bao tersenyum mendengar itu karena dia sendiri merasa ada banyak persamaan antara dirinya dan Jin Han. Bukan hanya dengan Jin Han, tapi hal serupa juga dia rasakan saat bertukar pikiran dengan Jin Fan dan Jin Yan.


“Saudara Han, menurutmu siapa yang akan datang terlebih dahulu menuntut balas pada kita? Apa itu Kekaisaran Qing, atau justru Kerajaan Gui?” tanya Qiao Bao.


Jin Han menggelengkan kepalanya, lalu dia menjawab, “Menurutku bukan diantara Kekaisaran Qing ataupun Kerajaan Gui yang akan lebih dulu datang menuntut balas pada kita. Akan tetapi, aku merasa tak lama lagi ada kekuatan lain yang datang mengusik kedamaian Kerajaan Shu, tapi kekuatan itu tak berhubungan dengan mereka yang pernah menyerang kita...”

__ADS_1


Jin Han menjelaskan pada Qiao Bao tentang Kerajaan Chu yang telah jatuh ke tangan Selir Agung Kerajaan, dan kebetulan sosok Selir Agung adalah wanita yang menginginkan Qin Chen kembali menjadi miliknya.


“Pria tampan dengan kekuatan besar, dan satunya adalah wanita dengan kecantikan serta keindahan yang sangat sempurna. Wajar jika banyak memperebutkan mereka,” ujar Qiao Bao setelah mendengar cerita Jin Han.


°°°


Istana Kota Hebei.


Qin Chen dan Putri Liu Yao sudah duduk di atas tempat tidur mereka. Putri Liu Yao yang semula duduk di depan Qin Chen, dengan sekali bergerak dia sudah duduk di pangkuan Qin Chen.


“Apa kamu tidak ingin melakukannya sekarang juga?” tanya Putri Liu Yao dengan nada menggoda.


“Tentu aku akan melakukannya,” jawab Qin Chen.


Mendengar itu Putri Liu Yao langsung mencium lembut bibir Qin Chen, begitu juga dengan Qin Chen. Dia tak kalah lembut membalas ciuman bibir Putri Liu Yao. Dari sekedar ciuman, kini keduanya mulai melakukan adegan percintaan yang sangat panas dan menggairahkan.


Bukan Qin Chen yang mendominasi, melainkan Putri Liu Yao yang mendominasi permainan panas diantara mereka. Seperti apa yang tadi dia katakan pada Qin Chen, malam ini dia memberi pelayan terbaiknya untuk pria yang sangat dia cintai.


“Aku merasa milikmu sedikit lebih besar dari sebelumnya. Ini sangat penuh memenuhi milikku,” kata Putri Liu Yao terus bergerak naik turun di atas pangkuan Qin Chen.


“Bukannya kamu suka yang besar?” tanya Qin Chen dengan mata terpejam, tapi kedua tangannya gemas memegang kedua bukit Putri Liu Yao yang ukurannya begitu pas di telapak tangannya.


“Ya, aku menyukainya, dan selamanya ini hanya milikku...” tubuh Putri Liu Yao bergetar, dan tak lama dia roboh menimpa dada bidang Qin Chen.


“Terimakasih atas pelayanannya...” Qin Chen menciun kening Putri Liu Yao, membiarkan wanita itu berbaring di atas tubuhnya, sementara miliknya masih berada di dalam tempat yang sangat hangat dan penuh kenikmatan.


“Itu kembali keluar di dalam. Kalau seperti ini terus, tak lama lagi aku akan mengandung anak kita,” kata Putri Liu Yao lirih.


“Maka aku akan sangat senang kalau itu benar-benar terjadi...”


“Kalau begitu, kita harus lebih sering melakukannya...”


°°°


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2