Legenda Qin Chen

Legenda Qin Chen
Malam Bercocok Tanam


__ADS_3

Jangan lupa like dan komentarnya, terimakasih.


...----------------...


Seluruh anggota keluarga Kekaisaran Qing telah dieksekusi, dan Kekaisaran Qing sudah tidak lagi memiliki kekuasaan di wilayah yang dulu menjadi wilayah kekuasaannya. Bisa dikatakan Kekaisaran Qing tinggalah sebuah nama yang perlahan akan menghilang seiring berjalannya waktu.


“Setelah jatuhnya Kekaisaran Qing, entah kenapa aku merasa masalah lainnya segera mendatangi Kerajaan Shu. Akan tetapi, apapun masalah yang datang, aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuk melindungi Kerajaan Shu, apalagi saat ini aku telah ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Kerajaan Shu,” gumam Qin Chen sambil duduk di singgasana yang biasa diduduki Kaisar Qing Luo.


Qin Chen sangat nyaman duduk di singgasana Kaisar, dan mungkin dia bisa saja tertidur kalau Zang Lei tidak memanggilnya.


“Tuan, banyak ditemukan budak di penjara bawah tanah. Sebagian besar budah adalah orang-orang yang gagal membayar pajak, dan sisanya merupakan orang-orang yang diculik dari keluarga mereka,” kata Zang Lei.


“Bagaimana keadaan mereka? Apa mereka dalam keadaan baik-baik saja?” tanya Qin Chen.


“Mereka semua dalam keadaan baik, hanya saja mereka dalam kondisi kelaparan dan kekurangan air. Namun, mereka semua sudah mendapatkan apa yang mereka butuhkan untuk kembali segar bugar seperti sedia kala.”


Qin Chen mengangguk puas mendengar itu. “Apa ada hal lain yang kamu temukan di tempat ini selain keberadaan mereka para budak?”


Zang Lei menggelengkan kepala. “Selain menemukan keberadaan para budak, kami hanya terus menyisir mencari sisa keluarga Kekaisaran yang masih tersisa. Seperti perintah Tuan, mereka yang memiliki darah keturunan Kekaisaran Qing harus dieksekusi di tempat.”


Seluruh Selir, Pangeran dan Putri Kekaisaran telah dieksekusi karena Qin Chen tidak ingin mereka menjadi duru dalam selimut yang hanya akan menimbulkan rasa sakit kalau tidak dihilangkan.


“Bagaimana dengan seluruh anggota keluarga Qing, apa mereka sudah di eksekusi?” tanya Qin Chen.


“Tuan, sebagian besar anggota keluarga Qing telah di eksekusi dengan cara digantung di atas gerbang ibukota, dan sisanya dieksekusi langsung saat mencoba melarikan diri dengan cara meninggalkan kediaman mereka,” jawab Zang Lei.


“Masalah di tempat ini sepertinya bisa aku serahkan padamu karena secepatnya aku harus kembali ke Kerajaan Shu. Masih banyak yang harus aku urus terutama untuk jari pernikahan dan hari penobatanku sebagai Raja baru Kerajaan Shu,” ujar Qin Chen.


“Tuan bisa kembali. Untuk masalah di tempat ini, Tuan bisa mempercayakannya padaku,” balas Zang Lei.


Qin Chen menganggukkan kepala, dan dia mengatakan pada Zang Lei kalau dia akan kembali ke Kerajaan Shu begitu matahari terbit dari uduk timur.

__ADS_1


Dia tidak ingin mendapatkan pengawalan dari Kavaleri Naga Hitam, dikarenakan dia akan menggunakan teknik meringankan tubuh untuk mempersingkat waktu dibandingkan harus menunggangi kuda.


“Aku sudah tidak sabar meresmikan hubunganku dengannya,” gumam Qin Chen begitu Zang Lei pergi meninggalkannya.


Dikarenakan tidak mengantuk, sambil menunggu datangnya pagi, Qin Chen memutuskan berjalan mengelilingi istana sambil melihat apa yang sedang dilakukan prajurit anggota Kavaleri Naga Hitam.


Tidak melihat sesuatu yang menarik di istana, Qin Chen memutuskan meninggalkan istana, melanjutkan jalan-jalan malam mengelilingi kota yang belum lama ini merupakan ibukota Kekaisaran Qing.


“Suara aneh apa yang aku dengar?” gumam Qin Chen mendengar suara selayaknya jalan berlumpur yang terinjak-injak, selain itu dia juga mendengar suara wanita mengatakan kata, “Terus... Terus...”


Penasaran dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi, Qin Chen mendekat ke sumber suara, dan mencari tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi.


“Oh istriku, setelah berbulan-bulan aku terpenjara bersama budak lainnya, akhirnya aku kembali dapat menikmati milikmu yang terasa jauh lebih sempit dari yang terakhir kali aku rasakan,” kata pria yang terus memaju mundurkan pinggulnya.


“Sa... sayang, kamu salah masuk! Apa setelah lama menjadi budak, kamu lupa mana lubang milikku yang sering kamu nikmati?” ujar wanita sambil menahan rasa nikmat dan perih yang dia rasakan.


Pria yang sadar telah salah memasukkan miliknya, dia segera mengarahkan ke tempat yang seharusnya, dan kenikmatan yang berkali-kali lebih nikmat segera dia lakukan. Terus memburu kenikmatan di bagian belakang rumah mereka, keduanya tidak sadar kalau ada sepasang mata yang menyaksikan aktivitas mereka.


“Kenapa pria itu bisa salah memasukkan miliknya, dan kenapa juga mereka tidak melakukan itu di dalam rumah tapi justru melakukan di luar rumah? Mungkin saja di dalam rumah ada anak-anak mereka yang masih belum tidur, dan karena sudah tidak tahan mereka melakukannya di luar rumah.”


Sepanjang jalan sepi yang dilaluinya, beberapa kali Qin Chen mendengar suara aneh yang sama, tapi kali ini dia tidak memiliki keinginan melihat langsung ke sumber suara.


Namun, langkah kakinya terhenti saat dia mendengar suara teriakan minta tolong wanita dari salah satu rumah, tapi anehnya teriakan tolong itu tidak seperti biasanya.


“Tolong, suamiku memperkosaku setelah lama menjadi budak, dan yah rasanya sangat nikmat!” suara wanita yang terdengar jelas oleh Qin Chen yang mempertajam pendengarannya.


“Sepertinya mereka sedang bercocok tanam setelah sekian lama dipisahkan oleh peraturan konyol Kekaisaran Qing, tapi aku tidak menyangka mereka bisa sangat liar dalam melakukan itu,” guma Qin Chen sambil terus melangkahkan kakinya menyusuri jalanan kota.


Terus berjalan, Qin Chen sampai di gerbang kota yang dijaga belasan ribu prajurit anggota Kavaleri Naga Hitam. Selain anggota Kavaleri Naga Hitam, ditempat itu juga berjaga belasan ribu prajurit yang kini sudah mengabdikan dirinya pada Kerajaan Shu, Kerajaan besar yang tak lama lagi akan dipimpin oleh Qin Chen.


Melihat mereka yang tetap fokus berjaga meskipun diselingi canda dan tawa untuk menghilangkan rasa bosan dan kantuk, Qin Chen tidak berlama-lama melihat mereka, dan kembali dia melanjutkan menyusuri jalan kota yang membawany sampai di rumah mewah.

__ADS_1


Rumah yang dilihat Qin Chen sangat mewah dan terlihat adanya tanda-tanda kehidupan di rumah itu. Dibandingkan keadaan kota yang gelap gulita, keadaan rumah yang dilihat Qin Chen sangatlah mencolok.


Cahaya lampion terlihat menerangi bagian luar rumah, sedangkan cahaya lilin jelas terlihat menerangi bagian dalam rumah. Meskipun jaraknya masih sekitar lima puluh meter dari rumah itu, Qin Chen dapat melihat dua sosok manusia sedang melakukan aktivitas malam di salah satu ruangan.


“Mungkin dalam sejarah berdirinya kota ini, malam ini akan tercatat sebagai malam bercocok tanam paling buas, yang pernah terjadi di kota ini,” ujar Qin Chen lalu dia memutuskan kembali ke istana karena malam semakin larut, dan dia merasa sedikit kantuk.


Sampai di istana, Qin Chen langsung masuk kedalam kamar yang sudah disiapkan khusus untuknya.


Berada di dalam kamar, Qin Chen melepas seluruh perlengkapan yang dia pakai, dan hanya menyisakan lapisan dalam pakaiannya. Setelah itu, dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dan tak butuh lama baginya untuk memejamkan mata.


...----------------...


Matahari belum lama terbit dari ufuk timur.


“Dengan kecepatanku yang sekarang, dalam satu hari satu malam aku bisa sampai di wilayah Kerajaan Shu,” ujar Qin Chen yang sudah memulai perjalanan kembali ke Kerajaan Shu dengan menggunakan teknik meringankan tubuhnya.


Hanya dalam satu jam dia telah menempuh jarak puluhan meter, dan luar biasanya dia sama sekali tidak merasakan kelelahan.


Dengan menggunakan teknik pernapasan napas api, Qin Chen terus mengisi tenaga dalam di sepanjang perjalanan, dan karena teknik itu dia sama sekali tidak merasakan kelelahan meskipun sudah menempuh jarak lumayan jauh.


Terus menggunakan teknik meringankan tubuh, Qin Chen saat ini telah memasuki wilayah hutan yang terbentang dari wilayah yang sebelumnya merupakan wilayah Kekaisaran Qing, sampai ke wilayah perbatasan Kerajaan Shu.


Setidaknya ada jarak membentang sepanjang ratusan kilometer kalau dia ingin keluar dari wilayah hutan. Dari kecepatan Qin Chen, dia akan keluar dari wilayah hutan tepat sebelum tengah malam.


Menjelang sore, Qin Chen samoai di wilayah tengah hutan, dan sejenak dia berhenti di pinggiran sungai untuk membasahi tenggorokannya yang mulai kering dengan segarnya air sungai yang mengalir di tengah rimbunnya hutan.


Puas beristirahat dan mengisi perbekalan air yang dia bawa menggunakan wadah air yang terbuat dari kulit binatang, Qin Chen kembali melesat dengan kecepatan penuh melanjutkan perjalanan kembali ke Kerajaan Shu.


Menjelang tengah malam, Qin Chen sudah melihat ujung dari hutan yang dia lewati, dan benar saja akhirnya dia berhasil keluar dari kawasan hutan setelah berjam-jam terus berada di dalam kawasan hutan.


Terus bergerak tanpa henti, dari kejauhan Qin Chen dapat melihat benteng pertahanan Kerajaan Shu yang menjadi tempat pertempuran antara Kerajaan Shu dan Kekaisaran Qing. “Setelah seharian melakukan perjalanan, akhirnya aku sampai di wilayah perbatasan. Namun, aku tidak punya waktu berhenti di tempat ini. Aku ingin segera kembali ke ibukota dan menemuinya!” ujar Qin Chen terus melesat dengan kecepatan penuh melewati penjagaan benteng pertahanan Kerajaan Shu.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung.


__ADS_2