
Jangan lupa like dan komentarnya, terimakasih...
°°°
“Aku memiliki firasat kurang baik. Entah kenapa aku merasa kekuatan besar yang aku miliki, semua ini terasa masih belum cukup kalau aku ingin mengalahkan mereka yang menjaga Kota Zhuhai,” kata Putra Mahkota Ming Lang sambil terus memacu kudanya menuju Kota Zhuhai.
“Yang Mulia, apa perlu kita membagi pasukan menjadi dua, lalu menyerang Kota Zhuhai dari depan dan belakang? Hamba yakin, pasukan yang melindungi Kota Zhuhai hanya kuat di satu tempat, dan lemah di tempat lainnya,” ujar salah satu Jenderal Kerajaan Ming yang memacu kudanya bersebelahan dengan Putra Mahkota Ming Lang.
“Kalau begitu, katakan pada Jenderal Kerajaan Gui untuk memimpin pasukannya menyerang bagian belakang Kota Zhuhai, sementara kita akan menghancurkan barisan terdepan pasukan pelindung Kota Zhuhai,” perintah Putra Mahkota Ming Lang pada Jenderalnya.
Mendapatkan perintah dari Putra Mahkota, sang Jenderal langsung saja pergi menemui Jenderal Kerajaan Gui, dan menyampaikan apa yang dikatakan Putra Mahkota Ming Lang. Selesai menyampaikan apa yang ingin dia katakan, sang Jenderal langsung saja kembali ke sisi Putra Mahkota Ming Lang.
“Menyerahkan bagian belakang pada kami? Putra Mahkota bodoh itu terlalu percaya diri dapat mengalahkan barisan depan pasukan pelindung Kota Zhuhai,” kata Jenderal pemimpin pasukan Kerajaan Gui sambil mengarahkan pasukannya menuju bagian belakang Kota Zhuhai.
Meski harus memutar lumayan jauh, sang Jenderal tetap membawa pasukannya menuju bagian belakang Kota Zhuhai yang mana dia juga menganggap bagian belakang Kota Zhuhai adalah titik lemah pertahanan musuh.
Sementara itu, Jin Fan dan Jin Yan terus mengikuti pergerakan musuh dari tempat yang tak terlihat oleh pengawasan musuhnya, mereka melihat musuh membagi pasukan menjadi dua kelompok, dan salah satu kelompok bergerak memutar menuju bagian belakang Kota Zhuhai.
Jin Fan dan Jin Yan yang mengetahui rencana musuh, keduanya hanya menunjukkan senyuman tipis di wajah masing-masing.
Seperti sebelumnya, Jin Fan segera memberitahu rencana musuh pada Qiao Bao yang berjaga di Kota Zhuhai menggunakan perantara seekor burung merpati.
“Kalau mereka berpikir bagian belakang adalah titik terlemah pertahanan kita, mereka telah melakukan kesalahan besar,” ujar Jin Yan.
Jin Fan mengangguk setuju lalu dia berkata, “Baik bagian depan maupun bagian belakang Kota Zhuhai memiliki pertahanan sama kuatnya. Mereka benar-benar akan musnah saat menganggap bagian belakang merupakan titik lemah pertahanan kita...”
“Sebaiknya kita segera bergabung dengan kakak Han, dan bersiap mengejutkan barisan belakang pasukan Kerajaan Ming,” kata Jin Yan dan keduanya langsung saja bergerak cepat menuju tempat persembunyian Jin Han dan pasukan Naga Hitam.
°°°
__ADS_1
Lembah Shenghuo.
Kasim Kerajaan yang memimpin pasukan Kerajaan Shu dan Pangeran Qing Moran yang memimpin pasukan Kekaisaran Qing, keduanya baru saja sampai di lembah Shenghuo, dan dengan jelas keduanya melihat bendera berwarna kuning keemasan berlambang bunga teratai tertancap di tengah-tengah lembah yang membentang luas ke segala penjuru mata angin.
Kasim Kerajaan menatap bendera itu, dan tak butuh waktu lama baginya untuk mengetahui siapa pemilik dari bendera itu karena sebelumnya dia pernah melihat bendera yang sama saat berkunjung ke istana Putri Liu Yao.
“Pangeran, mereka sepertinya sudah mengetahui kedatangan kita, dan mereka lebih memilih menyambut kedatangan kita di tempat ini dibandingkan menunggu di Kota Hebei,” kata Kasim Kerajaan pada Pangeran Qing Moran.
Pangeran Qing Moran melihat lembah luas yang terbentang di depannya, lalu dia berkata, “Aku tidak melihat keberadaan mereka di tempat ini. Sejauh mata memandang, aku aku hanya melihat bendera berlambang bunga teratai, yang aku sendiri tidak tahu kenapa benda itu bisa berada di tempat ini...”
“Pangeran, bendera itu adalah benda yang melambangkan keberadaan pasukan teratai emas di tempat ini,” ujar Kasim Kerajaan.
“Sedangkan siapa itu pasukan teratai emas. Pasukan teratai emas adalah pasukan elite yang dimiliki oleh Putri Liu Yao, dan konon katanya kekuatan mereka setara dengan pasukan elit Kekaisaran,” imbuhnya.
“Setara dengan pasukan elite Kekaisaran? Yang Mulia terlalu melebih-lebihkan kekuatan mereka. Setauku, di dunia ini hanya pasukan Naga Hitam yang kekuatannya setara dengan pasukan elite Kekaisaran,” ungkap Pangeran Qing Moran meremehkan kekuatan pasukan teratai emas.
Kasim Kerajaan mengangguk, “Itu hanyalah rumor, sementara aku sendiri belum pernah melihat langsung kehebatan pasukan teratai emas,” katanya.
Akan tetapi, meski kudanya tumbang, Kasim Kerajaan tidak mengalami luka karena dia berhasil melompat turun sebelum kuda tunggangannya tumbang.
“Hampir saja panah dari salah satu anggota pasukan teratai emas mengirimmu menemui orang-orang yang mati di tanganmu...”
Kasim Kerajaan dan Pangeran Qing Moran mendengar suara keras seorang wanita, tapi keduanya belum melihat sosok pemilik suara yang mereka dengar.
“Siapapun kamu, keluarlah!” seru Kasim Kerajaan.
“Bukannya kamu datang untuk menemuiku? Kenapa sekarang kamu justru tidak mengenaliku? Apa setelah menjadi Raja, kamu justru tertular penyakit bodoh Raja terdahulu?” tanya suara wanita yang jelas terdengar di telinga Kasim Kerajaan.
Tak lama setelah itu, Kasim Kerajaan dan Pangeran Qing Moran melihat sosok Putri Liu Yao datang didampingi Qin Chen di sebelahnya, dan ada Jenderal Shang Hong serta Zang Lei tepat berada di belakang sang putri.
__ADS_1
Bersama dengan kedatangan mereka, seratus ribu prajurit yang terdiri dari pasukan teratai perak dan pasukan teratai emas juga menunjukkan keberadaan mereka. Sedangkan untuk pasukan kura-kura hitam, entah sejak kapan mereka sudah berada di sisi belakang pasukan musuh, tapi mereka masih berada di tempat persembunyian.
Putri Liu Yao yang didampingi Qin Chen dan Jenderal Shang Hong maju mendekati Kasim Kerajaan dan Pamgeran Qing Moran yang juga bergerak maju mendekat. Selain Kasim Kerajaan dan Pangeran Qing Moran, ada sosok pendekar dengan tombak besar berwarna hitam ikut di belakang Pangeran Qing Moran.
Saat kedua kubu hanya menyisakan jarak kurang dari lima meter, mereka semua memutuskan berhenti. Seketika suasana di sekitar menjadi hening, dan hanya sorot mata yang saat ini saling bicara diantara mereka.
Namun, saat pendekar bersenjata tombak besar yang berdiri di belakang Pangeran Qing Moran menatap mata Qin Chen, tiba-tiba saja dia merasakan ancaman saat pandangannya bertemu dengan pandangan Qin Chen. Dia yang dijuluki pendekar Tombak Naga dan dikatakan pendekar paling kuat diantara tiga Raja pendekar, dia merasa terancam hanya dengan melihat sorot mata seseorang yang tidak dia kenal.
Selain merasa adanya ancaman dari seseorang yang tidak dia kenal, dia juga merasakan ancaman dari sosok Putri Liu Yao. Akan tetapi, dia merasa tidak asing saat melihat sorot mata Putri Liu Yao, “Aku tidak menyangka, identitas asli pendekar Seribu Racun ternyata seorang Putri Mahkota Kerajaan Shu, sungguh identitas yang tidak terduga,” ujar pendekar Tombak Naga, yang pada akhirnya dialah orang pertama yang membuka suara.
Putri Liu Yao sama sekali tidak terkejut mendengar itu karena sebelumnya dia sudah berkali-kali bertemu dengan pendekar Tombak Naga saat berpetualang di dunia persilatan.
Diantara mereka semua yang terkejut hanyalah Kasim Kerajaan, Zang Liu, dan Jenderal Shang Hong. Qin Chen sendiri tidak terkejut karena Putri Liu Yao sudah menceritakan semua padanya, setelah hari panas yang mereka lalui.
“Aku tidak menyangka identitas yang selama ini tertutup rapat begitu saja terbongkar saat aku bertemu denganmu,” ujar Putri Liu Yao.
“Caramu menatap remeh musuh tidak pernah berubah, dari situ aku tahu kalau itu adalah dirimu, dan aku sarankan lebih baik kamu segera menyerah!...”
“Bukan sesuatu yang buruk menjadi Selir dari keponakanku,” kata pendekar Tombak Naga.
Putri Liu Yao menggelengkan kepalanya, dan begitu saja dia memeluk lengan Qin Chen yang kebetulan berdiri di sebelahnya. “Aku adalah wanita bersuami, dan aku tidak mungkin meninggalkan suamiku hanya untuk menjadi Selir dari keponakan manjamu!” kata Putri Liu Yao sambil menyandarkan kepalanya ke lengan kokoh Qin Chen.
Pendekar Tombak Naga tahu kalau Putri Liu Yao pasti menolak menjadi Selir dari keponakannya, tapi dia tidak menyangka kalau Putri Liu Yao sudah memiliki seorang suami, dan lagi pria yang diakui sebagai suaminya bukanlah sosok pria yang bisa dianggap remeh.
Sedangkan Pangeran Qing Moran yang tahu wanita yang diinginkannya telah memiliki suami, dia menggerakkan giginya marah, lalu dengan suara lantang dia berkata, “Apapun yang terjadi kau harus menjadi milikku!...”
Pangeran Qing Moran menoleh, menatap pendekar Tombak Naga, lalu dia kembali berkata, “Paman, bunuh pria itu untukku!...”
°°°
__ADS_1
Bersambung...