Legenda Qin Chen

Legenda Qin Chen
Peperangan Hari Pertama (1)


__ADS_3

Jangan lupa like dan komentarnya, terimakasih.


...----------------...


Kaisar Qing Luo dan lima pendekar pelindung Kekaisaran Qing menggertakkan gigi marah melihat salah satu pendekar pelindung Kekaisaran ditemukan mati mengenaskan di depan tenda Kaisar. “Siapapun yang melakukan ini pada adik ketiga aku pasti membalasnya. Bukan hanya padanya, tapi seluruh keluarganya juga akan merasakan hal yang sama,” ujar pendekar tertua yang mengabdikan hidupnya untuk Kekaisaran Qing.


Keempat pendekar lainnya termasuk Kaisar Qing Luo mengangguk setuju. “Apapun yang terjadi aku akan mencari orang itu dan akan membalaskan kematian kakak ketiga.” kata pendekar termuda diantara enam pendekar pelindung Kekaisaran.


“Adik, bukan hanya kamu yang ingin membalaskan dendamnya, tapi kita semua juga ingin melakukannya. Aku sendiri akan memastikan orang yang melakukan itu mati bersama hancurnya Kerajaan Shu,” kata kakak kedua.


Meskipun mereka tahu lawan yang akan mereka hadapi bukanlah sosok lemah karena berhasil mengalahkan salah satu dari mereka, dan dapat menyusup sampai tenda Kaisar tanpa ketahuan. Berhasil menyusup sampai tenda Kaisar tanpa ketahuan menunjukkan kalau dia bukanlah sosok lemah, tapi demi membalaskan dendam mereka tak gentar menghadapi sosok seperti itu. Bagi mereka, lebih baik mati membalaskan dendam daripada hidup menyimpan dendam.


Membunuh salah satu dari mereka dengan mudah dan menyusup tanpa ketahuan, mereka mengira kalau musuh yang akan dihadapi setidaknya sudah berada pada tingkat Pendekar Kaisar. Meskipun sosok yang dipanggil kakak pertama merupakan pendekar tingkat Kaisar, tapi dia baru mencapai awal tingkat Kaisar, sedangkan kekuatan lawan mereka perkirakan sudah berada di tingkat puncak Pendekar Kaisar.


“Aku memang sudah mencapai tingkat Kaisar, tapi saat menemukan sosok yang membunuh adik ketiga kita harus bekerjasama mengalahkannya,” kata pendekar tertua sambil menatap bergantian keempat adiknya.


Semua menganggukkan kepala. “Kalian tidak akan berjuang menemukan dan membunuh orang itu seorang diri. Aku akan membantu kalian menemukan dan membunuh orang itu beserta seluruh anggota keluarganya,” ujar Kaisar Qing Lao.


Setelah mendengar perkataan Kaisar Qing Luo. Meski matahari belum sepenuhnya terbit dari ufuk timur, kelima pendekar yang dibantu beberapa prajurit Kekaisaran Qing segera mengadakan upacara pemakaman untuk salah satu pendekar pelindung Kekaisaran.


Sementara itu di benteng pertahanan Kerajaan Shu Qin Chen mulai menata meriam di tempat strategis. Selain menata meriam, dia juga mengatur keberadaan Kavaleri Naga Hitam yang bertugas memberi serangan kejutan pada musuh. Sedangkan pasukan Teratai Emas dan pasukan Teratai Perak, mereka akan berhadapan dengan Kavaleri Rajawali Perak milik Kekaisaran Qing.


Prajurit yang mengoperasikan pelontar bola api juga sudah berada di posisi, dan terakhir Qin Chen memastikan persiapan prajurit pemanah.

__ADS_1


Melihat semua sudah siap di tempatnya masing-masing dengan tugas yang dipercayakan pada mereka, Qin Chen menyuruh prajurit yang mengelola dapur untuk membagikan makanan untuk mengisi tenaga seluruh prajurit sebelum memulai perang.


Ribuan prajurit yang mengurusi dapur segera menyebar membagikan makanan, dan setelah satu jam berlalu semua prajurit telah mengisi tenaga mereka dengan makanan bergizi yang setiap harinya disediakan opeh prajurit yang bekerja di dapur.


“Semua sudah seperti yang kamu inginkan. Sekarang kita tinggal menunggu apa yang hari ini akan dilakukan Kaisar Qing Luo untuk mengawali peperangan.” kata Putri Liu Yao berdiri di atas benteng tepat di sebelah Qin Chen.


Qin Chen menoleh melihat Putri Liu Yao. “Setelah melihat hadiah yang aku berikan pada mereka, aku yakin saat ini mereka sedang marah, dan akan mengerahkan seluruh kekuatan untuk menghancurkan pertahanan kita di tempat ini,” ujar Qin Chen.


Qin Chen yang sejenak saling pandang, secara bersamaan mereka mengarahkan pandangan ke arah barisan prajurit Kekaisaran Qing yang mulai terlihat di kejauhan. “Ini masih terlalu padi untuk memulai peperangan tapi mereka sepertinya sudah bersiap melakukan peperangan dengan kita,” kata Putri Liu Yao.


“Seperti yang sebelumnya aku katakan, mereka sudah terbakar amarah setelah melihat hadiah yang aku berikan, dan kemarahan itulah yang dapat kita manfaatkan untuk mengalahkan mereka,” ujar Qin Chen sambil tersenyum tipis.


Putri Liu Yao hanya menganggukkan kepala. Qin Chen sudah menceritakan padanya tentang salah satu pendekar pelindung Kekaisaran Qing yang semalam mencoba menyusup, tapi pada akhirnya dia mati di bawah kaki Qin Chen. “Kemarahan hanya akan membuat mereka menjadi bodoh, dan itu sangat menguntungkan bagi kita yang tetap mempertahankan ketenangan, dan kejernihan dalam berpikir,” kata Putri Liu Yao.


Di sisi pasukan Kekaisaran Qing, mereka sama sekali belum menyadari seberapa jauh jangkauan terjauh serangan prajurit Kerajaan Shu.


Kaisar Qing Luo yang memimpin langsung prajurit Kekaisarannya memyerang Kerajaan Shu. Dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya, Kaisar Qing Luo sangat yakin dalam satu hari ini dia dapat meruntuhkan pertahanan Kerajaan Shu di depan matanya.


Mengerahkan keseluruhan hampir satu juta prajurit, dengan kekuatan sebesar itu bagaimana mungkin Kerajaan Shu dapat menahan gempuran Kekaisaran Qing? Namun, kejadian yang tidak diperkirakan Kaisar Qing Luo terjadi saat prajurit Kekaisarannya berjarak empat ratus meter dari benteng pertahanan Kerajaan Shu.


“Dor... Dor... Dor... Dor...” suara ledakan beruntun terdengar dari benteng pertahanan Kerajaan Shu, dan tak lama puluhan bola api peledak menghujani prajurit Kekaisaran Qing yang tidak mengira akan menerima serangan saat jarak mereka masih sangat jauh dari benteng pertahanan Kerajaan Shu.


Ratusan prajurit mati dalam serangan gelombang pertama dan serangan itu terus berlanjut membuat kepanikan diantara prajurit Kekaisaran Qing. “Mereka ini, darimana mereka mendapatkan persenjataan yang jangkauannya dia kali lebih jauh dari senjata yang aku miliki? Kalau ini terus dibiarkan, aku akan kehilangan lebih banyak prajurit sebelum sampai di benteng pertahanan mereka,” ujar Kaisar Qing Luo yang bingung harus melakukan apa.

__ADS_1


Kaisar Qing Luo bisa saja menarik mundur pasukannya, tapi itu membutuhkan waktu dan hanya akan membuat mereka rawan terkena serangan dari arah belakang yang tentu dapat menambah lebih banyak korban jiwa dari pasukannya. “Tidak ada jalan lain. Tetap maju dan serang mereka begitu senjata yang aku miliki sudah berada di jarak serang.” Kaisar Qing Luo tetap mengerahkan pasukannya maju memyerang benteng pertahanan Kerajaan Shu meski setiap dia mengedipkan mata puluhan prajurit bahkan ratusan prajuritnya mati terkena ledakan bola-bola besi peledak.


Saat tinggal sedikit lagi sampai di jarak serang senjata yang dimilikinya, Kaisar Qing Luo dikejutkan dengan bola-bola api dan ribuan anak panah yang mulai menghujani prajurit yang tergabung dalam pasukan garis depan.


“Pasukan meriam segera buat formasi bertahan, lindungi persenjataan dan keberadaan pasukan garis depan!” serua Kaisar Qing Luo dengan suara lantang, lalu dia melihat prajuritnya yang mengoperasikan pelontar bola api. “Hujani mereka dengan bola-bola api untuk mengganggu penglihatan,” perintah Kaisar Qing Luo.


Belasan pelontar bola api milik Kekaisaran Qing mulai melontarkan bola-bola api ke arah benteng pertahanan Kerajaan Shu. Namun, dikarenakan jarak yang masih terlalu jauh, bola-bola api yang dilontarkan hanya mendarat di depan benteng pertahanan Kerajaan Shu. Akan tetapi asap yang muncul dari bola-bola api cukup untuk mengganggu pandangan prajurit Kerajaan Shu yang berada di atas benteng pertahanan.


Memanfaatkan berkurangr jarak pandan prajurit Kerajaan Shu, Kaisar Qing Luo perlahan memajukan jarak pasukannya dengan benteng Kerajaan Shu, dan begitu berada di jarak yang tepat dia memberi perintah untuk menembakkan meriam ke arah benteng pertahanan Kerajaan Shu.


Saat prajurit yang mengoperasikan meriam ingin menembakkan meriam, belasan anak panah dengan api di mata anak panahnya melesat dari arah benteng pertahanan Kerajaan Shu mengarah pada lubang meriam milik prajurit Kekaisaran Qing.


“Boom... Boom... Boom... Boom...” Empat meriam hancur saat anak panah masuk ke dalam lubang meriam, membakar bola besi peledak yang sudah dimasukkan ke dalam lubang meriam.


Melihat itu Kaisar Qing Luo segera memberi perintah pasukan perisai untuk melindungi meriam yang tersisa dari serangan musuh. “Mereka benar-benar telah menyiapkan segalanya. Bahkan mereka tetap dapat menyerang saat jarak pandang terganggu,” ujar Kaisar Qing Luo dibuat bingung oleh kekuatan lawan.


Sementara itu di benteng pertahanan Kerajaan Shu, Qin Chen dan Putri Liu Yao sama-sama menunjukkan senyuman di wajah mereka. “Tidak buruk, satu hancur dengan anak panah yang kamu lesatkan,” kata Qin Chen memuji Putri Liu Yao yang berhasil menghancurkan salah satu meriam dengan anak panahnya.


“Apa itu dapat dikatakan sebagai pujian sedangkan kamu sendiri berhasil menghancurkan tiga meriam mereka di saat aku hanya berhasil menghancurkan satu?” ujar Putri Liu Yao melihat betapa hebatnya Qin Chen dalam melesatkan anak panah yang keseluruhannya tepat sasaran.


“Itu hanyalah sebuah keberuntungan, dan kebetulan aku memiliki simpanan keberuntungan yang cukup banyak,” kata Qin Chen sambil menunjukkan senyuman, lalu dia dan Putri Liu Yao kembali mengarahkan anak panah ke posisi musuh mereka berada.


...----------------...

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2