
Jangan lupa like dan komentarnya, terimakasih.
...----------------...
Di tempat latihan yang sangat luas, Ratu Li We yang perutnya mulai membuncit, sedang melatih gerakan sebuah jurus yang cukup menguras tenaga dalamnya.
Meski menguras banyak tenaga dalam, Ratu Li Wei puas dengan kekuatan jurus yang baru dia kuasai. Meski baru bagian awal dari keseluruhan jurus yang berhasil dia kuasai, setidaknya dia sekarang jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Tenaga dalam terkumpul di tangan Ratu Li Wei, dan perlahan tenaga dalam itu mengalir ke pedang ringan yang dia pegang. Pedang di tangan Ratu Li Wei seketika memancarkan cahaya kebiruan, dan saat dia mengayunkan pedangnya muncul siluet berbentuk bulan sabit yang melesat menghancurkan apa yang berada di depannya.
Senyum tipis terlihat di bibir Ratu Li Wei melihat hasil latihannya selama beberapa hari terakhir. Latihan beratnya membuahkan hasil yang sangat luar biasa.
Dengan kekuatannya yang sekarang, tak akan ada yang menganggap remeh kekuatan Kerajaan Chu.
Saat Ratu Li Wei ingin menyudahu latihannya, wanita berpakaian serba merah melayang turun dari salah satu dahan pohon, dan wanita itu mendarat tepat di hadapan Ratu Li Wei.
Ratu Li Wei sedikit membungkukkan tubuh memberi hormat, begitu dia melihat sosok wanita berpakaian serba merah yang berdiri di depannya.
Wanita berpakaian merah menerima penghormatan Ratu Li Wei, dan dari ekspresi wajahnya dia terlihat puas dengan pencapaian sang Ratu.
“Jurus yang kamu pelajari baru dapt dikatakan sempurna saat kamu berhasil membuka seluruh titik pusat tenaga dalam di tubuhmu. Namun sayang, sampai sekarang aku sendiri belum tahu bagaimana cara melakukan itu,” kata wanita berpakaian merah.
“Guru, meskipun belum sempurna, tapi dengan jurus ini aku yakin dapat mengalahkan pendekar Raja dengan sangat mudah,” balas Ratu Li Wei.
Wanita berpakaian merah adalah Lao Sisi, guru baru Ratu Li Wei. Dia juga merupakan kakak seperguruan Lao Pi, guru pertama Ratu Li Wei yang keberadaannya kini sudah tidak diakui oleh sang Ratu, dan sejak kembali dari Kerajaan Shu tak satu ada yang tau keberadaan Lao Pi kecuali Ratu Li Wei.
Lao Sisi tahu dengan kekuatannya, Ratu Li Wei dapat dengan mudah mengalahkan pendekar Raja. Akan tetapi, menurutnya Ratu Li Wei bisa saja dikalahkan pendekar Raja yang memiliki kekuatan setara dengannya. Jalan satu-satunya untuk membuat Ratu Li Wei dapat mengalahkan semua pendekar Raja, dia harus membuka seluruh titik tenaga dalam di tubuhnya.
Lao Sisi sendiri meski sudah berada di tingkat pendekar Kaisar, dia juga masih belum bisa menyempurnakan seluruh jurusnya karena dia belum berhasi membuka seluruh titik tenaga dalam di tubuhnya.
Kalau saja dia dapat membuka seluruu titik pusat tenaga dalam di tubuhnya, mungkin saat ini dia bisa dikatakan salah satu pendekar terkuat di seluruh daratan timur.
“Sudahi latihanmu untuk hari ini, dan rawat baik-baik anak dalam kandungan kamu!” kata Lao Sisi kemudian dia pergi meninggalkan Ratu Li Wei.
__ADS_1
Ratu Li Wei hanya menganggukkan kepalanya, setelah mendengar perkataan Lao Sisi.
“Guru tenang saja, aku pasti menjaga anak ini,” kata Ratu Li Wei begitu Lao Sisi menghilang dari pandangannya.
Ratu Li Wei memang senantiasa menjaga anak dalam kandungannya, tapi dia tidak akan bersedih kalau harus keguguran saat dia melakukan latihan keras untuk meningkatkan kekuatannya.
“Kau harus menjadi anak yang kuat kalau ingin terlahir selamat di dunia ini dan tidak menjadi beban di masa depan,” kata Ratu Li Wei sambil mengelus perutnya.
...----------------...
Dua hari berlalu, Qin Chen, Jin Han, Qiao Bai, dan seluh prajurit yang pergi bersama mereka ke Kerajaan Tang telah kembali ke Kerajaan Shu. Kedatangan mereka disambut langsung oleh Putri Liu Yao.
Jin Han, Qiao Bai, dan seluruh prajurit yang baru datang langsung memberi hormat pada Putri Liu Yao. Sedangkan Qin Chen, dia juga memberi hormat sebagai formalitas.
Putri Liu Yao menerima penghormatan mereka, tapi dia sedikit menunjukkan ekspresi wajah tidak suka saat Qin Chen ikut memberi hormat padanya. Meski statusnya saat ini masihlah seorang pengawal, tapi dia adalah pria yang sangat dia cintai, dan dia tidak ingin prianya memberi hormat padanya.
Setelah menerima penghormatan mereka, Putri Liu Yao memberi hari libur pada prajurit yang selamat setelah melakukan tugas di Kerajaan Tang. Untuk prajurit yang gugur, Putri Liu Yao sudah menyiapkan upacara pemakaman untuk mereka, dan santunan yang jumlahnya tidaklah kecil akan dia berikan pada keluarga prajurit yang gugur.
“Qiao Bai, Jin Han, kalian bisa mengambil libur untuk dua hari ke depan, tapi setelahnya kalian akan bertugas seperti biasa,” kata Putri Liu Yao lalu dia mengarahkan pandangannya pada Qin Chen, “Ikut denganku! Ada yang ingin aku bahas denganmu,” katanya pada Qin Chen.
...----------------...
“Aku tidak menyangka kabar ini bisa beredar dengan sangat cepat,” kata Qin Chen setelah mendengar cerita Putri Liu Yao tentang kabar yang beredar setelah kemenangan Kerajaan Tang dalam perang melawan Kerajaan Song.
“Semua tersebar dengan cepat dari mulut ke mulut, dan aku yakin kabar ini telah sampai ke Kerajaan Gui dan Kekaisaran Qing,” kata Putri Liu Yao.
“Dengan tersebarnya kabar itu mereka pasti menyusun ulang kekuatan pasukan, dan itu akan memberi tambahan waktu untuk kita menyiapkan kekuatan sebelum mereka datang menyerang,” ungkap Qin Chen.
Putri Liu Yao menganggukkan kepala. “Dari apa yang bisa aku perkirakan, setidaknya kita masih punya waktu dua minggu ke depan untuk menyiapkan segalanya,” katanya.
Perkiraan Putri Liu Yao tak jauh berbeda dengan apa yang diperkirakan Qin Chen tentang kapan Kerajaan Gui dan Kekaisaran Qing menyerang Kerajaan Shu.
“Kita akan jauh lebih siap saat mereka datang menyerang,” kata Qin Chen sambil menunjukkan senyuman di wajahnya.
__ADS_1
Putri Liu Yao mengangguk setuju. “Saat ini kita memiliki lebih dari tiga ratus ribu prajurit siap perang. Ditambah kekuatan Kavaleri Naga Hitam, selain bertahan mungkin kita memiliki kesempatan memukul mundur mereka,” ungkap Putri Liu Yao.
Meskipun Qin Chen merasa kekuatan Kerajaan Shu masih lemah, tapi dengan apa yang dimiliki Kerajaan Shu, semua itu dia anggap cukup untuk bertahan dari gempuran Kekaisaran Qing dan Kerajaan Gui.
“Bagaimana dengan Kerajaan Chu, apa mereka tidak ingin ikut memerangi kita saat Kekaisaran Qing dan Kerajaan Gui menyerang kita?” tanya Qin Chen.
Putri menggelengkan kepala. “Aku tidak melihat Kerajaam Chu memiliki niatan menyerang kita dalam waktu dekat, tapi di masa depan ada kemungkinan Kerajaam Chu menyerang kita,” jawab Putri Liu Yao.
“Daripada Kekaisaran Qing maupun Kerajaan Gui, sebenarnya aku lebih mewaspadai kekuatan Kerajaam Chu. Aku sama sekali tidak bisa mengerti apa yang ada di pikiran Ratu Li Wei,” ujar Qin Chen.
“Bukannya kamu dulu menjalin hubungan yang sangat baik dengannya? Bagaimana mungkin kamu tidak bisa mengerti apa yang ada di dalam pikirannya?” tanya Putri Liu Yao.
“Aku dulu memang memiliki hubungan dekat dengannya, tapi setelah dia menjadi Selir dari Raja Qin Duan Ren, aku benar-benar salah mengerti dengan apa yang ada di pikirannya. Pernikahan dengan Raja Qin Duan Ren, benar-benar membuat aku sadar kalau aku sama sekali tidak mengerti apa yang ada di dalam pikirannya. Sejak saat itu, meskipun aku sudah lama kenal dengannya, aku merasa dia adalah orang asing,” jawab Qin Chen.
Putri Liu Yao dapat melihat kekecewaan di wajah Qin Chen, tapi dia tidak lagi melihat adanya cinta dari Qin Chen untuk wanita itu. Melihat itu dia tak sungkan menunjukkan senyuman di wajahnya, dan karena hanya berdua dia begitu saja berpindah duduk ke atas pangkuan Qin Chen.
Melihat wajah Qin Chen dari dekat membuat Putri Liu Yao semakin mengagumi keindahan wajah prianya, dan perlahan dia membuka topeng yang menghalangi pandangannya.
Dengan lembut Putri Liu Yao mendaratkan ciuman ke bibir Qin Chen.
Qin Chen membalas ciuman Putri Liu Yao dengan tak kalah lembut, dan dari ciuman biasa semakin lama ciuman mereka semakin panas. Tidak tahu siapa yang memulai, saat saling berciuman keduanya sama-sama melepas pakaian masing-masing.
Menyadari pintu belum terkunci, dengan mengalirkan tenaga dalam ke ujung jari telunjuknya, Qin Chen menggunakan tenaga dalam dari jarak jauh untuk mengunci pintu ruang kerja Putri Liu Yao.
“Matahari masih tinggi, apa kamu ingin melakukannya?” tanya Qin Chen.
Putri Liu Yao mengangguk. “Aku ingin melakukannya meski matahari masih tinggi, dan aku baru ingin berhenti setelah malam benar-benar larut,” kata Putri Liu Yao yang tangan kanannya sudah mengarahkan milik Qin Chen ke arah miliknya.
Putri Liu Yao menggigit bibir bawahnya menikmati sensasi nikmat saat perlahan milik Qin Chen masuk ke dalam miliknya, dan setalah beberapa saat akhirnya milik Qin Chen terbenam seluruhnya kedalam miliknya.
Setelah sejenak terdiam menikmati sensasi kenikmatan, Qin Chen dan Putri Liu Yao mulai memburu kenikmatan, dan mereka benar-benar tidak berhenti meski malam semakin larut.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung.