Legenda Qin Chen

Legenda Qin Chen
Membantu Kerajaan Tang


__ADS_3

Jangan lupa like dan komentarnya, terimakasih.


...----------------...


Qin Chen memimpin langsung prajurit yang dikirim Putri Liu Yao untuk membantu Kerajaan Tang dalam peperangan melawan Kerajaan Song yang ingin menguasai secara paksa seluruh wilayah Kerajaan Tang.


Memimpin lima puluh ribu prajurit dan didampingi Qiao Bai dan Jin Han, Qin Chen berjanji tidak akan membiarkan prajurit yang dia pimpin lenyap seluruhnya di medan perang.


Putri Liu Yao sendiri mengirim prajurit bantuan bukannya tanpa alasan. Dia sudah tau alasan Raja Tang Gong menolak bekerjasama dengan Kerajaan Song, yang pada akhirnya membuat Kerajaan Song menyerang Kerajaan Tang.


Raja Tang Gong menolak membantu Raja Song Kai yang meminta bantuannya untuk menguasai Kerajaan Shu. Apalagi dengan Raja Song yang ingin membunuh seluruh keluarga Kerajaan Shu. Semua itu membuat Raja Tang Gong dengan tegas menolak memberi bantuan padanya.


Selain itu, dari informasi yang berhasil Putri Liu Yao dapatkan. Kerajaan Song tidak seorang diri menyerang Kerajaan Tang. Ada Kerajaan Chu yang berada di belakang keberanian Kerajaan Song.


Diketahui Kerajaan Chu mengirim sekitar seratus ribu prajurit untuk membantu Kerajaan Song, dan ada tiga Jenderal yang memimpin mereka.


Setelah menghabiskan waktu dua hari dua malam, akhirnya Qin Chen dan yang lainnya sampai di ibukota Kerajaan Tang. Namun, mereka tidak berhenti di ibukota Kerajaan Tang. Setelah menjelaskan siapa mereka dan apa tujuannya datang ke ibukota Kerajaan Tang. Raja Tang Gong yang kebetulan sedang bersiap menuju perbatasan, akhirnya dia berangkat menuju perbatasan bersama Qin Chen dan yang lainnya.


Raja Tang Gong bersama tiga ratus ribu prajuritnya, berjalan beriringan menuju perbatasan bersama Qin Chen dan lima puluh ribu prajurit Kerajaan Shu.


Meski hanya lima puluh ribu prajurit, hanya dengan melihat postur tubuh dan kekuatan fisik, Raja Tang Gong tahu kalau prajurit Kerajaan Shu jauh lebih kuat dibandingkan keseluruhan prajurit Kerajaannya.


Apalagi dari yang dia lihat menggunakan kedua matanya, dia bisa merasakan aliran tenaga dalam dari keseluruhan prajurit Kerajaan Shu.


“Aku tidak yakin mereka adalah prajurit elite Kerajaan Shu, tapi aku yakin mereka sangatlah kuat,” gumam Raja Song Tang lalu dia mengarahkan pandangan pada Qin Chen, Qiao Bao, dan Jin Han.


Melihat Qiao Bao dan Jin Han serta merasakan kekuatan mereka, cukup membuat tubuh Raja Tang Gong bergetar karena dia tahu keduanya lebih kuat darinya. Namun, dia hampir dibuat terjatuh dari kudanya saat melihat pria bertopeng yang tak lain adalah Qin Chen.


“Dia jauh lebih kuat dariku, bahkan dua orang itu masih terlalu lemah darinya. Keponakanku, darimana kamu dapat menemukan orang-orang kuat seperti mereka, terutama pria bertopeng yang membuat aku kehilangan setengah nyawa hanya dengan menatap matanya?” ujar Raja Tang Gong dengan suara lirih.


Tidak terjadi obrolan penting di sepanjang perjalanan, dan dua hari kemudian mereka akhirnya sampai di perbatasan Kerajaan Tang yang akan menjadi titik temu prajurit Kerajaan Tang dan prajurit Kerajaan Song.


“Pertahanan benteng ini terlalu lemah, hanya ada belasan pelontar bola api dan tidak ada meriam yang dapat memporak-porandakan formasi musuh,” gumam Qin Chen melihat seperti apa keadaan benteng pertahanan Kerajaan Tang.


Melihat itu, Qin Chen menyuruh beberapa prajurit membuka lima barang yang selama ini dia tutupi menggunakan kain, dan untuk membawa satu barang setidaknya dibutuhkan empat kuda penarik kereta besi.

__ADS_1


Begitu penutup terbuka, Raja Tang Gong dan seluruh prajurit Kerajaan Tang yang melihat benda di balik penutup yang telah terbuka, mereka hanya bisa melotot tidak percaya melihat benda yang dibawa rombongan prajurit Kerajaan Shu.


Benda yang mereka lihat adalah meriam dan tumpukan bola besi peledak, yang cukup untuk menghancurkan puluhan ribu prajurit musuh.


“Yang Mulia, Putri memberikan empat meriam dan ratusan bola besi peledak sebagai hadiah karena Yang Mulia menolak membantu keinginan Kerajaan Song,” kata Qin Chen di hadapan Raja Tang Gong.


Raja Tang Gong tidak tahu harus mengatakan apa. Empat meriam seharga ratusan juta koin emas, diberikan begitu saja padanya.


‘Seberapa banyak kekayaan yang dimiliki Kerajaan Shu?’ tanya Raja Tang Gong dalam hati.


Menyerahkan pada prajurit Kerajaan Shu untuk menata dan mengoperasikan keempat meriam, Raja Tang Gong memilih pergi mengecek persiapan pelontar bola api.


“Ternyata mereka juga memperhatikan keadaan persenjataan Kerajaanku yang bisa dikatakan tertinggal jauh dari apa yang dimiliki Kerajaan Shu,” gumam Raja Tang Gong melihat Qiao Bao dan Jin Han membantu perbaikan beberapa pelontar bola api yang mengalami permasalahan.


“Jika sebelumnya aku merasa sedikit bodoh karena menolak kerjasama dengan Kerajaan Song dan lebih memilih membela Kerajaan Shu. Sekarang aku merasa telah memilih sebuah pilihan yang tepat,” kata Raja Tang Gong.


Semua yang dilakukan orang-orang dari Kerajaan Shu, telah melipatgandakan kekuatan pertahanan yang dimiliki Kerajaan Tang, dan sekarang mereka lebih siap dalam menghadapi gempuran Kerajaan Song.


...----------------...


“Persiapkan semuanya dengan baik! Meskipun lawan yang kita hadapi hanyalah Kerajaan Tang, kalau semua persiapan berjalan dengan baik, aku yakin peperangan ini tidak akan berlangsung lama,” kata Raja Song Kai tegas.


“Semua akan hamba persiapkan seperti keinginan Yang Mulia,” ujar Jenderal Kerajaan Tang.


“Bagaimana dengan prajurit bantuan Kerajaan Chu, apa mereka juga sudah bersiap melakukan penyerangan esok hari?” tanya Raja Song Kai.


"Yang Mulia, seluruh Jenderal dan prajurit Kerajaan Chu sudah siap melakukan penyerangan. Menurut hamba, mereka justru jauh lebih siap dibandingkan prajurit yang kita miliki,” jawab Jenderal Kerajaan Song setelah tadi sempat melihat persiapan para Jenderal dan seluruh prajurit Kerajaan Chu.


“Dilihat dari manapun, kekuatan mereka sedikit melampaui kekuatan yang kita miliki. Jadi, wajar saja mereka lebih siap dibandingkan prajurit kita,” ujar Raja Song Kai.


“Beruntung mereka berada di pihak kita, kalau saja mereka berada di pihak musuh, kemungkinan kita menang akan semakin besar,” lanjutnya.


Sementara itu di salah satu penginapan yang berada ibukota Kerajaan Tang, terlihat pria bertubuh gempal dengan perut membuncit sedang berjalan memasuki salah satu kamar terbaik di dalam penginapan.


Pria itu adalah Kaisar Qing Luo yang malam ini ingin menikmati kehangatan malam dengan Ratu Li Wei yang sudah menunggu kedatangannya di dalam kamar penginapan.

__ADS_1


“Yang Mulia, anda kenapa terlihat terburu-buru?” tanya Ratu Li Wei yang sudah menanggalkan seluruh pakaiannya, dan menunjukkan keindahan tubuh meskipun keadaan perutnya tak lagi rata.


Bukannya risih dengan perut Ratu Li Wei yang mulai membuncit, Kaisar Qing justru semakin ingin menikmati tubuh Ratu Li Wei.


Kaisar Qing Luo yang sudah berada di dalam kamar penginapan, dia segera menanggalkan seluruh pakaiannya, dan langsung saja dia menarik Ratu Li Wei ke atas pangkuannya begitu dia duduk diatas ranjang.


“Apa Yang Mulia ingin segera melakukannya?” tanya Ratu Li Wei sambil membelai lembut wajah Kaisar Qing Luo.


“Aku sudah tidak sabar melakukannya, dan setelah kamu memberikan yang aku inginkan. Aku pasti memberi semua yang kamu inginkan,” kata Kaisar Qing Luo.


“Hamba pegang kata-kata Yang Mulia,” balas Ratu Li Wei.


Tak lagi tahan Kaisar Qing Luo segera mendaratkan ciuman ganas ke bibir Ratu Li Wei, dan tangannya mulai merapa bukit milik sang Ratu yang tidak muat di telapak tangannya. Meski telapak tangan Kaisar Qing Luo lumayan besar, nyatanya apa yang dia pegang jauh lebih besar dibandingkan telapak tangannya.


Terdengar suara des*han lirih dari mulut Ratu Li Wei saat tangan Kaisar Qing Luo menyentuh miliknya yang tersembunyi di antara celah pahanya. Menggunakan jari tangannya, Kaisar Qing Luo menusuk-nusuk milik Ratu Li Wei, membuat wanita itu kembali mend*sah.


Sudah benar-benar tidak tahan, Kaisar Qing Luo langsung saja memasukkan miliknya ke dalam milik Ratu Li Wei.


Setelah dua jam berlalu dan mencoba beberapa posisi yang menambah sensasi kenikmatan yang dia rasakan, akhirnya Kaisar Qing Luo mencapai puncak kenikmatan, dan dia segera menyudahi malam panasnya dengan Ratu Li Wei.


“Yang Mulia, hamba akan menagih apa yang sudah Yang Mulia janjikan pada hamba,” kata Ratu Li Wei setelah membersihkan milik Kaisar Qing Luo menggunakan sebuah kain yang sudah dibasahi air.


“Janji itu pasti aku tepati, tapi setidaknya untuk malam ini berikan aku kehangatan sampai pagi...”


“Apa Yang Mulia menginginkannya lagi?...”


“Aku senantiasa menginginkan lagi dan lagi...”


“Kalau begitu, biarkan kali ini hamba yang memberi pelayanan pada Yang Mulia...”


Ratu Li Wei segera saja duduk di atas milik Kaisar Qing Luo yang kembali menegang, dan akhirnya mereka kembali melakukan aktivitas panas di sepanjang malam...


...----------------...


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2