Legenda Qin Chen

Legenda Qin Chen
Kekacauan Di Gerbang Ibukota Kerajaan


__ADS_3

Jangan lupa like dan komentarnya, terimakasih...


°°°


Kabar kematian pendekar Tombak Naga telah tersebar luas di dunia persilatan. Banyak pendekar yang tidak percaya saat mendengar kabar kematian pendekar, yang konon katanya adalah pendekar terkuat di dunia persilatan.


Banyak pendekar yang mencoba mencari kebenaran kabar yang mereka dengar dengan pergi ke Kekaisaran Qing, dan ada sekelompok pendekar yang pergi ke Kerajaan Shu. Pendekar yang pergi ke Kekaisaran Qing tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan kepastian tentang kematian pendekar Tombak Naga.


Sementara sekelompok pendekar yang pergi ke Kerajaan Shu, mereka masih tertahan di gerbang Ibukota Kerajaan Shu karena untuk saat ini tak sembarangan orang diizinkan memasuki Ibukota Kerajaan. Hanya mereka yang memiliki lencana penduduk Kerajaan Shu yang bebas keluar masuk Ibukota Kerajaan.


Sekelompok pendekar yang cukup keras kepala, bukannya pergi, mereka justru memaksa menerobos masuk Ibukota Kerajaan. Akan tetapi, prajurit penjaga dengan sigap menghadang mereka, membuat beberapa dari mereka mulai tidak bisa mengendalikan amarah.


Tidak lagi dapat mengendalikan amarah, beberapa pendekar yang yakin kekuatan mereka lebih kuat dibandingkan prajurit penjaga, mereka langsung saja menyerang prajurit penjaga. Namun, bukannya dapat mengalahkan prajurit penjaga, mereka justru dipukul mundur oleh prajurit penjaga.


Pendekar lainnya yang tidak terima rekan mereka dikalahkan, mereka ikut menyerang prajurit penjaga gerbang Ibukota Kerajaan. Akan tetapi, nasib mereka sama dengan pendekar yang sebelumnya berhasil dipukul mundur oleh prajurit penjaga.


“Sangat kuat, kita yang merupakan pendekar tingkat 3 bukanlah lawan sepadan untuk prajurit yang tugasnya hanya menjaga gerbang, dan lagi sejak kapan seorang prajurit penjaga dapat mengolah teknik tenaga dalam?” salah satu pendekar sadar kekuatannya tak sebanding dengan kekuatan prajurit penjaga.


“Kita tidak mungkin memaksa masuk ke Ibukota Kerajaan Shu. Sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini...” Sekelompok pendekar yang sebelumnya terlihat begitu arogan, kini mereka pergi meninggalkan gerbang Ibukota Kerajaan dengan kepala tertunduk.


Salah satu prajurit penjaga gerbang segera pergi ke tempat Putri Liu Yao untuk melaporkan apa yang baru saja terjadi di gerbang Ibukota Kerajaan.


Di istana Kerajaan.


Putri Liu Yao yang sedang mengerjakan tugasnya sebagai pemimpin tertinggi Kerajaan Shu meski dia belum diresmikan sebagai seorang Ratu, dia dikejutkan dengan kedatangan prajurit penjaga gerbang yang begitu terburu-buru masuk ke ruang kerjanya.


“Apa yang membuatmu begitu terburu-buru datang ke tempat ini? Apa ada sesuatu yang terjadi di gerbang Ibukota Kerajaan?” tanya Putri Liu Yao.


“Yang Mulia, baru saja ada sekelompok pendekar yang mencoba menerobos masuk Ibukota Kerajaan, tapi kami telah berhasil mengusir mereka,” jawab prajurit dalam posisi berlutut empat langkah di depan Putri Liu Yao.


Putri Liu Yao tidak terkejut mendengar itu. “Apa kamu tahu apa yang membuat mereka begitu ingin memasuki Ibukota Kerajaan?” kembali putri Liu Yao bertanya pada prajurit di depannya.

__ADS_1


“Yang Mulia, mereka para pendekar yang ingin mencari kepastian kematian pendekar Tombak Naga...”


“Memastikan kematian pendekar Tombak Naga? Bukannya kematian orang itu sudah jelas, bahkan aku sendiri sempat melihat mayatnya? Apa lagi yang perlu mereka pastikan?” ujar Putri Liu Yao tidak mengerti jalan pikiran para pendekar yang ingin memastikan kematian pendekar Tombak Naga.


“Yang Mulia, dari desas-desus yang beredar luas, masih banyak pendekar yang belum mempercayai kematian pendekar Tombak Naga, dan mereka hanya menganggap kabar itu adalah kebohongan besar yang disebarluaskan oleh pihak-pihak dari Kerajaan Shu. Oleh karena itu, kemungkinan masih akan ada kelompok pendekar lainnya yang akan mendatangi Ibukota Kerajaan untuk memastikan kabar kematian pendekar Tombak Naga...”


“Kamu sudah tahu bukan apa yang harus kamu lakukan pada mereka? Kalau memang perlu, kamu dan penjaga lainnya bisa membunuh mereka!” ungkap Putri Liu Yao.


“Hamba sangat tahu apa yang harus hamba lakukan,” kata prajurit penjaga, dan setelahnya dia pamit undur diri untuk kembali bekerja sebagai penjaga gerbang Ibukota Kerajaan.


“Siapapun yang membuat kekacauan di wilayah Kerajaan Shu, mereka akan menerima akibatnya,” gumam Putri Liu Yao sambil melanjutkan pekerjaannya.


°°°


Desa Suma, desa kecil yang berjarak sepuluh kilometer dari Ibukota Kerajaan Shu.


Di salah satu kedai teh yang berada di Desa Suma, belasan pendekar yang sebelumnya mencoba memasuki Ibukota Kerajaan Shu, mereka sedang menikmati harumnya air seduhan teh sambil menunggu rekan mereka yang juga ingin pergi ke Ibukota Kerajaan Shu.


Tidak lama menunggu, puluhan pendekar datang dan membuat kedai teh kecil menjadi penuh sesak oleh banyaknya pengunjung.


“Lihat kami! Kami dibuat babak belur oleh penjaga gerbang Ibukota Kerajaan saat memaksa menerobos masuk Ibukota...”


Kelompok pendekar yang baru datang hanya menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas mendengar cerita pendekar yang pergi ke Ibukota Kerajaan Shu.


“Bukan hanya Ibukota Kerajaan Shu, tapi kami yang ingin memasuki Kota Hebei, kami juga tidak bisa memasuki kota. Beruntung waktu itu kami tidak memaksa masuk, dan memilih pergi karena tidak ingin membuat masalah dengan pihak Kerajaan...”


“Dari cerita kalian tentang betapa kuatnya prajurit penjaga gerbang Ibukota Kerajaan, sepertinya kabar kematian pendekar Tombak Naga bukanlah kabar palsu, dan benar adanya seseorang di Kerajaan Shu berhasil mengalahkan sosok pendekar yang selama ini kita anggap sebagai pendekar terkuat di dunia persilatan...”


“Kalaupun itu benar, menurutmu siapa sosok yang dapat mengalahkan pendekar Tombak Naga? Apa mungkin itu Putri Mahkota Liu Yao?...”


Dari membicarakan kematian pendekar Tombak Naga, kini para pendekar di kedai teh mulai menyinggung nama Putri Liu Yao.

__ADS_1


“Aku tidak yakin seorang wanita memiliki kekuatan untuk mengalahkan pendekar Tombak Naga. Kalaupun ada wanita yang dapat mengalahkannya, itu hanya bisa dilakukan pendekar wanita seribu racun yang sudah beberapa tahun ini menghilang dari dunia persilatan...”


“Menurutku, wanita seperti Putri Mahkota Liu Yao hanya bisa bersikap kejam saat ada orang-orang kuat di sekelilingnya. Kalau sendirian dia hanyalah wanita lemah yang tidak bisa melakukan apa-apa...”


“Meskipun dia wanita lemah, tapi kecantikan wajah di balik cadar dan keindahan tubuhnya, akan membuat banyak pria berebut untuk melindunginya. Namun sayang, dia sudah menjadi barang bekas Putra Mahkota Kerajaan Chu, dan aku yakin pria itu telah mendapatkan semua yang dimiliki Putri Mahkota Liu Yao...”


“Wanita secantik itu, meskipun barang bekas, aku dengan senang hati akan menampungnya. Kebetulan aku ingin menambah satu lagi Selir rendahan di kediamanku...”


Pecahan kaca tajam melesat dan tertancap di leher pendekar yang baru selesai berkata.


Seketika pendekar itu memuntahkan darah dan terus mengerang kesakitan. Pendekar lainnya mencoba menolong, tapi tak lama pendekar yang ingin mereka tolong mati dengan luka parah di lehernya.


“Itulah yang akan terjadi pada siapapun yang berani menghina wanitaku!” kata pria bertopeng yang duduk di pojok kedai teh.


Tubuh para pendekar menegang saat melihat pria bertopeng yang masih begitu tenang setelah membunuh salah satu pendekar.


Salah satu pendekar yang sudah termakan amarah, dia mengeluarkan pedangnya. “Nyawa dibalas nyawa, dan kau harus mati sebagai bayaran apa yang sudah kamu lakukan!” seru pendekar itu yang langsung melesat maju menyerang pria bertopeng.


Namun, bukannya berhasil membunuh pria bertopeng, pendekar itu justru terpental mundur puluhan meter setelah sebuah pukulan mendarat telak di dadanya. “Sangat lemah,” gumam pria bertopeng sambil bangkit dari tempat duduknya.


“Kalau kalian ingin bertarung, aku menunggu kalian di luar,” pria bertopeng menaruh satu koin emas di atas meja, lalu dengan santainya dia berjalan keluar dari kedai teh.


Para pendekar yang sudah termakan amarah, ikut keluar dari kedai teh, dan mereka melihat pria bertopeng yang begitu santai menunggu kedatangan mereka.


“Jangan maju satu persatu! Lebih baik kalian maju bersamaan karena aku tidak punya banyak waktu untuk mengurusi sekelompok parasit seperti kalian!” ujar pria bertopeng semakin membuat marah puluhan pendekar di depannya.


Tidak membalas perkataan pria bertopeng, puluhan pendekar langsung saja melesat maju menyerang, sambil memegang erat senjata yang mereka miliki. Pedang, tombak dan golok diarahkan ke pria bertopeng yang hanya diam berdiri di tempatnya.


“Sangat lambat. Apa cuma ini kekuatan yang kalian bangga-banggakan?...” Pria bertopeng yang tidak lain adalah Qin Chen, dengan mudah dia menghindari serangan mereka, dan hanya dalam waktu kurang dari lima menit puluhan pendekar dibuat tak berdaya setelah menerima pukulan serta tendangan yang dilakukan olehnya.


“Aku hari ini sedang tidak ingin mengotori darahku dengan darah kotor kalian. Akan tetapi, kalau kalian masih berani membuat kekacauan di Kerajaan Shu dan menghina wanitaku, aku pastikan bukan hanya kalian yang mati di tanganku, seluruh keluarga kalian juga akan ikut mati menemani kalian!...” Selesai berkata sosok Qin Chen tiba-tiba menghilang dari pandangan semua pendekar.

__ADS_1


°°°


Bersambung...


__ADS_2