Legenda Qin Chen

Legenda Qin Chen
Menuju Medan Perang


__ADS_3

Jangan lupa like dan komentarnya, terimakasih.


...----------------...


Istana Kekaisaran Qing.


Memimpin langsung penyerangan ke Kerajaam Shu, Kaisar Qing Luo memakai zirah perang miliknya dan saat ini dua sudah duduk di atas kuda perang miliknya, yang hanya akan dikeluarkan dari kandang saat Kaisar ingin pergi berperang. Didampingi enam Jenderal Kekaisaran dan enam pendekar pelindung Kekaisaran, Kaisar Qing Lup yakin dapat meluluhlantakkan Kerajaan Shu. Apalagi dengan banyaknya persenjataan yang dia dapatkan dari penguasa wilayah barat, membuatnya semakin yakin dapat membawa pulang kemenangan.


Setelah sehari sebelumnya sebagian besar prajurit Kekaisaran telah berangkat ke wilayah perbatasan dekat dengan wilayah Kerajaan Shu. Hari ini, seratus ribu prajurit Kekaisaran dan dua ratus ribu prajurit Kavaleri Rajawali Perak akan berangkat bersama sang Kaisar menuju wilayah perbatasan.


“Kita akan meluluhlantakkan Kerajaan Shu, dan membawa pulang kemenangan. Bunuh setiap pria yang mengganggu, dan sisakan para wanita untuk menemani kita bersenang-senang setelah memenangkan peperangan,” seru Kaisar Qing Luo di hadapan seluruh prajurit yang akan berangkat bersamanya.


Setelah berseru dengan suara lantang, Kaisar Qing Luo memimpin perjalanan menuju tempat yang sudah dipersiapkan sebagai tempat peristirahatan untuknya, sebelum melakukan serangan besar-besaran ke benteng pertahanan Kerajaan Shu.


Sementara itu di Kerajaan Gui, Raja Gui Mo juga telah menyiapkan seluruh prajurit yang akan dia bawa ke medan perang. Memimpin sendiri pergerakan prajurit ke medan perang, Raja Gui Mo yakin dapat membawa pulang kemenangan.


Dengan kekuatan Kerajaan Gui dan kekuatan Kekaisaran Qing, menurut prediksi Raja Gui Mo, Kerajaan Shu hanya akan bertahan selama satu minggu sebelum mereka benar-benar runtuh.


“Kita berangkat ke medan perang, dan akan kembali membawa kemenangan!” seru Raja Gui Mo, memimpin keberangkatan tiga ratus ribu prajurit Kerajaan Gui menuju medan perang.


...----------------...


Di istana Kerajaan Shu.


Meski Kerajaan Shu hanya berdiri sendiri menghadapi Kerajaan Gui dan Kekaisaran Qing, tapi kekuatan yang dimiliki Kerajaan Shu tidak kalah dengan musuhnya. Setelah seluruh wilayah yang dulunya merupakan wilayah Kerajaan Ming telah menjadi bagian dari Kerajaan Shu, kini Kerajaan Shu memiliki lebih dari satu juta prajurit yang siap diterjunkan ke medan peperangan.


Dengan membagi kekuatan ke empat titik yang berbeda, saat ini kekuatan utama Kerajaan Shu terfokus di dua tempat berbeda. Tempat pertama di wilayah perbatasan yang berbatasan langsung dengan Kerajaan Gui, dan tempat kedua merupakan wilayah yang berbatasan secara langsung dengan wilayah Kekaisaran Qing.


Empat ratus ribu prajurit berada di wilayah perbatasan dengan Kekaisaran Qing, dan lebih dari tiga ratus ribu berada di wilayah perbatasan dengan Kerajaan Gui.


Meski jumlah mereka lebih sedikit dari jumlah musuh yang akan dihadapi, tapi dengan persenjataan yang mereka miliki, semua itu dapat menutupi perbedaan jumlah yang tidak berimbang.


Lima puluh meriam di masing-masing tempat, tentu akan menjadi momok mengerikan bagi pihak musuh.

__ADS_1


Selain keberadaan meriam, senjata lainnya juga tidak kalah mengerikan. Apalagi ada puluhan prajurit yang dibekali senjata api yang jangkauan serangannya lima puluh meter lebih jauh dibandingkan jangkauan meriam.


Sebelum berangkat menuju benteng di perbatasan dengan Kekaisaran Qing, Putri Liu Yao melepas keberangkatan Qiao Bao dan yang lainnya.


“Jangan terlalu memaksakan diri! Bergerak mundur saat musuh tidak bisa dikalahkan,” pesan Putri Liu Yao pada Qiao Bao dan yang lainnya yang akan berangkat menuju benteng pertahanan di wilayah perbatasan yang berbatasan langsung dengan Kerajaan Gui.


Qiao Bao dan yang lainnya mengangguk, lalu segera mereka bergegas berangkat menuju tempat yang harus mereka pertahankan.


Setelah melepas kepergian Qiao Bao dan yang lainnya, Putri Liu Yao mengarahkan pandangan pada prajurit yang ikut dengannya menuju tempat yang harus dia pertahankan.


“Apapun yang terjadi kita akan mempertahankan wilayaj kita, dan mengusir mereka yang mengusik wilayah kita!” seru Putri Liu Yao.


“Berangkat dan bunuh siapapun yang mengusik wilayah kita.” Dengan menunggangi kuda, Putri Liu Yao memimpin prajuritnya menuju wilayah perbatasan.


Qing Chen memacu kuda di sisi Putri Liu Yao. Keduanya memimpin prajurit Kerajaan Shu yang akan menggunakan seluruh kekuatan untuk melawan kekuatan Kekaisaran Qing.


Sehari sebelumnya Qin Chen telah membuka topeng dan mengungkap identitas aslinya. Semua orang yang belum tahu identitas asli Qin Chen tentu terkejut, tapi setelahnya mereka merasa sangat beruntung karena sosok Qin Chen yang begitu melegenda sebagai Jenderal Perang Kerajaan Chu ternyata berada di pihak Kerajaan Shu, dan lagi dia adalah pria yang telah dipilih Putri Liu Yao sebagai pendamping hidupnya.


Saat ditunjuk sebagai pemimpin sebenarnya Qin Chen ingin menolak, tapi setelah semua orang memohon padanya, akhirnya dia setuju menjadi pemimpin Kerajaan Shu dalam perang.


Setelah setuju menjadi pemimpin, Qin Chen berjanji pada dirinya sendiri kalau dia akan memenangkan peperangan untuk Kerajaan Shu.


“Menurutmu, seberapa besar kemungkinan kita mengalahkan Kekaisaran Qing dan Kerajaan Gui?” tanya Putri Liu Yao pada Qin Chen sambil memacu kuda.


Qin Chen hanya sejenak berpikir lalu dia menjawab, “Kalau semua berjalan seperti yang sudah aku perkirakan, aku sangat yakin kita dapat mengalahkan mereka. Akan tetapi semua bisa berubah sewaktu-waktu tergantung keadaan di medan perang.” Qin Chen sangat mewaspadai kejutan yang biasa terjadi di medan perang.


Putri Liu Yao menganggukkan kepala, mendengar perkataan Qin Chen. “Untuk saat ini aku hanya bisa berharap Kekaisaran Qing tidak memiliki kekuatan tersembunyi lainnya selain keberadaan enam pendekar pelindung Kekaisaran, dan Kavaleri Rajawali Perak yang kekuatannya setara dengan pasukan Teratai Emas,” kata Putri Liu Yao yang berusaha keras mengumpulkan seluruh informasi tentang kekuatan yang dimiliki Kekaisaran Qing.


Qin Chen tersenyum mendengar itu, lalu dia berkata, “Kalaupun Kekaisaran Qing memiliki kekuatan tersembunyi lainnya, aku tidak akan gentar menghadapi mereka, dan aku akan berusaha mengalahkan mereka dengan mengerahkan seluruh kekuatan yang aku miliki.”


“Kamu tidak akan berjuang seorang diri. Aku dan yang lainnya akan berjuang bersamamu,” kata Putri Liu Yao yang tidak akan membiarkan Qin Chen berjuang seorang diri melawan musuh dari Kekaisaran Qing.


Kembali Qin Chen menunjukkan senyuman di wajahnya, tapi dia tidak membalas perkataan Putri Liu Yao karena keduanya saat ini sama-sama fokus pada jalan yang mereka lalui.

__ADS_1


Dengan kecepatan kuda yang mereka naiki, dalam dua hari mereka baru akan sampai di tempat tujuan. Waktu yang sama juga dibutuhkan Kaisar Qing Luo untuk sampai di tempat tujuannya. Keduanya akan sampai di waktu yang sama, dan mereka sama-sama membutuhkan waktu satu hari untuk beristirahat.


Sedangkan untuk Qiao Bao dan yang lainnya, mereka butuh waktu tiga hari untuk sampai si tujuan, dan kemungkinan mereka tidak akan memiliki waktu istirahat setelah melakukan perjalanan jauh karena dalam tiga hari ini Kerajaan Gui akan mulai melakukan serangan.


Meski mereka datang sedikit terlambat, tapi seluruh prajurit telah berada di perbatasan dan ada empat orang Jenderal Kerajaan Shu yang memimpin penjagaan di tempat itu.


“Saudara Han, sudah seberapa sering kamu turun ke medan perang?” tanya Qiao Bao pada Jin Han yang memacu kuda di sebelahnya.


“Sepuluh kali, seratus kali, atau berapapun itu, yang jelas aku sudah terlalu sering mendampingi tuan berada di medan perang,” jawab Jin Han.


Mendengar itu Qiao Bao tahu kalau menunjuk Jin Han sebagai pemimpin bukanlah sebuah kesalahan. Dengan pengalaman yang dimiliki Jin Han, diantara yang lainnya, hanya dia yang paling pantas ditunjuk sebagai pemimpin mewakili Qin Chen.


“Pengalamanku di medan perang tak sebanding dengan pengalaman saudara Han. Dalam peperangan kali ini, aku akan belajar banyak dari saudara Han,” ujar Qiao Bao tidak malu mengatakan itu.


Jin Han menganggukkan kepalanya. Meski pengalaman yang dimilikinya dia pelajari dari Qin Chen, dia tidak akan pelit berbagi apa yang sudah dia pelajari dari Qin Chen.


...----------------...


“Saat kita bermain-main di tempat ini, peperangan yang sesungguhnya akan terjadi di Kerajaan Shu,” kata Lao Sisi pada Ratu Li Wei.


“Menurut guru, apa Kerajaam Shu dapat bertahan dari serangan Kerajaan Gui dan Kekaisaran Qing?” tanya Ratu Li Wei.


“Kenapa juga harus bertahan kalau mereka dapat mengalahkan musuhnya? Dari apa yang mereka berikan secara percuma ke Kerajaan Tang, aku yakin kekuatan mereka jauh lebih besar dari apa yang kita perkirakan,” jawab Lao Sisi.


“Ditambah selama ini tidak tahu kekuatan seperti apa yang disembunyikan Kerajaan Shu, membuat kita tidak mengetahui secara pasti sebesar apa keluatan mereka. Akan tetapi, luar biasanya mereka dengan mudah dapat mengetahui seluruh informasi dari Kerajaan lainnya, maupun dari Kekaisaran.”


“Aku yakin mereka sudah memiliki persiapan matang menghadapi Kerajaan Gui dan Kekaisaran Qing. Ada kemungkinan Kerajaan Gui dan Kerajaan Qing akan mengalami kerugian sangat besar karena mereka melawan musuh, yang kekuatannya tidak mereka ketahui,” ungkap Lao Sisi.


Ratu Li Wei menganggukkan kepalanya setuju, dan dia merasa dapat memanfaatkan situasi seandainya Kekaisaran Qing dan Kerajaan Gui mengalami kekalahan dalam perang.


...----------------...


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2