
Jangan lupa like dan komentarnya, terimakasih.
...----------------...
Setelah menyaksikan sendiri kehancuran gudang senjata di benteng pertahanan Kekaisaran Barat, Qin Chen kembali ke benteng Kerajaan Qiao, dan langsung masuk kedalam tenda miliknya. Baru juga berganti pakaian, Jin Yan meminta izin masuk ke dalam tenda.
Qin Chen mempersilahkan Jin Yan masuk kemudia dia menceritakan padanya apa yang telah dia lakukan di benteng pertahanan Kekaisaran Barat. Semua dia ceritakan pada Jin Yan tanda ada yang ditutupi. Sedangkan Jin Yan yang mendengar cerita Qin Chen, dia dapat bernapas lega karena Kaisarnya tidak melakukan sesuatu yang membuat nyawanya dalam bahaya.
Menilai dari apa yang telah dilakukan Kaisarnya, Jin Yan bisa membayangkan kepanikan seperti apa yang terjadi di benteng pertahanan Kekaisaran Barat, saat pagi nanti mereka mendapat serangan dari tiga arah berbeda. Tanpa adanya senjata, mereka hanya bisa bertahan di dalam benteng, dan menunggu terjadinya pertempuran jarak dekat.
Kecil kemungkinan benteng itu di tinggalkan tanpa ada penjagaan karena benteng itu merupakan gerbang memasuki wilayah Kekaisaran Barat. Selama benteng itu masih ada, sangat sulit untuk mengalahkan Kekaisaran Barat. Akan tetapi begitu benteng itu dapat ditembus, bukan sesuatu yang sulit untuk merangsek maju ke wilayah Kekaisaran Barat, dan mengambil alih wilayah di sepanjang jalan menuju ibukota Kekaisaran.
“Apa kamu dan prajurit yang datang bersamamu sudah cukup istirahat?” tanya Qin Chen pada Jin Yan.
“Yang Mulia, kami semua sudah cukup beristirahat dan siap bergerak menyerang musuh,” jawab tegas Jin Yan.
Qin Chen mengangguk. “Siapkan semuanya karena tak lama lagi kita akan mulai bergerak ke sisi depan benteng pertahanan Kekaisaran Barat!” perintah Qin Chen.
“Baik Yang Mulia, hamba akan segera menyiapkan semuanya.” Jin Yan pamit undur diri untuk menyiapkan prajurit Kekaisaran Shu.
Sedangkan Qin Chen, dia keluar dari tenda, kemudian berjalan ke tenda Raja Kerajaan Qiao untuk menemui Qiao Bao dan Jin Han.
“Apa kalian sudah menyiapkan prajurit?” tanya Qin Chen begitu dia bertemu dengan Qiao Bao dan Jin Han.
__ADS_1
“Yang Mulia, kamu sudah menyiapkan mereka,” jawab Jin Han sedangkan Qiao Bao hanya menganggukkan kepala.
Qin Chen yang melihat persiapan prajurit Kerajaan Han dan Kerajaan Qiao, dia melihat seluruh prajurit telah siap dengan perlengkapan dan persenjataan yang mereka miliki, dan sekarang mereka bisa bergerak ke posisi masing-masing yang sebelumnya telah ditentukan.
“Kalau begitu, aku akan memimpin prajuritku menuju medan perang!” Qin Chen tidak menceritakan pada mereka apa yang baru saja dia lakukan di benteng pertahanan Kekaisaran Barat.
Tidak lagi memiliki urusan di tempat Qiao Bao dan Jin Han, Qin Chen kembali ke tenda miliknya untuk memakai perlengkapan perang miliknya, tak lupa dia membawa serta pedang pemberian Yan Zong. “Pedang ini sepertinya memang tercipta untukku karena hanya pedang ini yang mampu menahan hawa panas tubuhku saat menggunakan teknik Tubuh Dewa Matahari,” gumam Qin Chen sambil memegang pedangnya menggunakan tangan kiri.
Setelah memakai zirah perang dan menggenggam erat pedangnya, Qin Chen berjalan menuju berisan prajurit Kekaisaran Shu dengan didampingi Jin Yan, dan tiga orang Jenderal Kekaisaran Shu. Melihat kedatangan Qin Chen, seluruh prajurit memberi hormat penuh kebanggaan karena mereka dapat berperang bersama sang Kaisar.
Qin Chen mengangkat tangannya, menerima penghormatan yang diberikan seluruh prajurit Kekaisaran Shu. “Kita datang untuk memusnahkan musuh dan memenangkan pertempuran. Jadi, apapun yang terjadi kita pasti memenangkan pertempuran ini!” kata Qin Chen dengan suara lantang.
Seluruh prajurit bersorak penuh semangat, dan mereka segera membentuk barisan untuk pergi ke medan perang.
Qin Chen dan prajurit yang dia pimpin menjadi kelompok terakhir yang pergi meninggalkan benteng Kerajaan Qiao. Sedangkan Jin Han dan Qiao Bao, keduanya sudah lebih dulu meninggalkan benteng karena perjalanan yang mereka tempuh dua kali lebih jauh dibandingkan yang ditempuh Qin Chen dan prajuritnya.
Dari tempatnya Qin Chen dapat melihat kepanikan yang sedang terjadi di benteng pertahanan Kekaisaran Barat.
Bagaimanapun juga saat ini matahari baru saja terbit, dan mereka sudah melihat keberadaan musuh tepat berada di depan mata. Ditambah peristiwa sebelumnya yang membuat mereka kehilangan seluruh senjata di gudang persenjataan, wajar jika saat ini prajurit Kekaisaran Barat dilanda kepanikan.
“Mereka dulu yang mulai, tapi mereka juga yang tidak siap saat kita datang menyerang,” ujar Qin Chen yang masih menunggu isyarat dari Qiao Bao dan Jin Han untuk memulai serangan.
Qin Chen terus menatap sisi kanan dan kiri benteng, dan pada akhirnya apa yang dia tunggu-tunggu akhirnya terlihat. Sebuah bunga api di tembakkan ke udara dari sisi kanan dan kiri benteng pertahanan Kekaisaran Barat, dan itu adalah tanda dari Jin Han dan Qiao Bao untuknya supaya prajurit di sisi depan benteng segera memulai serangan.
__ADS_1
Suasana pagi yang semula begitu tenang, tiba-tiba dipenuhi dengan suara ledakan saat puluhan meriam prajurit Kekaisaran Shu mulai menggempur benteng pertahanan Kekaisaran Shu. Setelah puluhan peluru ditembakkan meriam milik prajurit Kekaisaran Shu, kini giliran meriam milik prajurit kerajaaan Han dan Kerajaan Qiao yang menggempur benteng pertahanan Kekaisaran Barat.
Sementara itu keadaan di dalam benteng pertahanan Kekaisaran Barat benar-benar kacau. Kaisar Bernard dan Putra Mahkota Arthur sama sekali tidak bisa menenangkan prajurit yang mereka miliki. Seluruh prajurit berlarian tanpa arah karena panik dan takut. Hanya beberapa dari mereka yang tetap tenang tapi pada akhirnya mereka mati terkena ledakan meriam yang terus menghujani benteng dari tiga arah berbeda.
Kaisar Bernard dan Putra Mahkota Arthur yang tidak tahu lagi harus melakukan apa untuk menenangkan prajurit di dalam benteng, keduanya memutuskan pergi meninggalkan benteng melalui gerbang belakang. Akan tetapi, belum juga mereka pergi, dinding benteng di sebelah kanan dan kiri runtuh setelah berkali-kali terkena tembakan meriam.
Runtuhnya dinding benteng dibarengi dengan masuknya ribuan prajurit dari Kerajaan Qiao dan Kerajaan Han kedalam benteng. Prajurit yang penuh semangat bertemu dengan prajurit yang sejak tadi di landa kepanikan dan ketakutan. Pembantaian segera terjadi di dalam benteng pertahanan Kekaisaran Barat, bersama dengan tak lagi terdengarnya suara ledakan meriam.
“Segera buka gerbang dan biarkan prajurit Kekaisaran Shu masuk ke dalam benteng ikut bersenang-senang bersama kita!” teriak Qiao Bao yang ternyata sudah berada di dalam benteng dengan pedang bermandikan darah.
Gerbang benteng terbuka, dan masuklah prajurit Kekaisaran Shu yang begitu semangat mengakhiri nyawa musuh mereka. Melihat pemandangan yang begitu mengerikan saat prajuritnya di bantai musuh, Kaisar Bernard dan Putra Mahkota Arthur hanya bisa berlari ke gerbang belakang, dan secepatnya mereka ingin pergi meninggalkan benteng.
Dengan menaiki kuda dan dikawak dua Jenderal serta ratusan prajurit elite Kekaisaran Barat, Kaisar Bernard dan Putra Mahkota Arthur memacu kuda mereka menuju gerbang belakang. Namun, baru juga mereka melihat bentuk gerbang yang akan memberi mereka harapan hidup, sepasang anak panah tertancap di dada kuda mereka, membuat keduanya terlempar dari atas kuda.
Kaisar Bernard dan Putra Mahkota Arthur tidak mengalami luka serius, tapi sekarang mereka sudah berada di tengah-tengah kepungan musuh yang membuat barisan melingkar mengelilingi mereka. Untuk prajurit dan para Jenderal yang sebelumnya mengawal keduanya, tak satupun dari prajurit dan Jenderal yang selamat setelah anak panah menghujam ke tubuh mereka.
Kaisar Bernard dan Putra Mahkota Arthur sekarang hanya bisa menatap penuh rasa takut pada keberadaan musuh yang mengelilingi mereka. Bahkan Putra Mahkota Arthur sudah mengeluarkan air seni, dan membuat bau tidak sedap yang berasal dari air seninya.
Qin Chen yang ikut mengelilingi Kaisar Bernard dan Putra Mahkota Arthur, mengambil satu langkah maju, kemudian dia berkata, “Apa pria ini yang tiba-tiba mengeluarkan dekrit ingin menjadikan wanitaku sebagai Selir nya? Sungguh orangtua yang tidak tahu diri karena ingin mengambil wanita pria lain untuk dijadikan Selir rendahan di Kekaisarannya.” Qin Chen masih ingat bagaimana Kaisar Bernard merendahkan Liu Yao dengan ingin menjadikannya sebagai Selir rendahan di Kekaisaran Barat.
“Asal kau tahu, wanita yang ingin kamu jadikan Selir rendahan adalah Permaisuri Kekaisaran Shu, dan itu adalah sebuah penghinaan besar untuk Kekaisaran Shu.”
“Sebagai seorang Kaisar, tentu kamu tahu hukuman apa yang pantas diberikan untuk orang yang berani menghina keluarga Kekaisaran, apalagi yang dihina adalah seorang Permaisuri Kekaisaran!” ujar Qin Chen.
__ADS_1
...----------------...
Bersambung.