Legenda Qin Chen

Legenda Qin Chen
Musnahnya Pasukan Kerajaan Chu


__ADS_3

Jangan lupa like dan komentarnya, terimakasih.


...----------------...


Barisan Kavaleri Naga Hitam yang dipimpin langsung oleh Qin Chen.


Zang Lei yang sebelumnya melakukan serangan secara sembunyi-sembunyi telah bergabung kembali dengan kekuatan utama Kavaleri Naga Hitam.


Melihat Zang Lei dan anggota Kavaleri Naga Hitam yang ikut pergi bersama Zang Lei kembali, Qin Chen tersenyum senang dengan kembalinya mereka, dan kini dia mengarahkan sorot mata tajamnya ke arah pasukan Kerajaan Chu.


“Mengambil alih beberapa wilayah tanpa mendapatkan perlawanan. Kalian benar-benar ingin mengambil sebanyak-banyaknya keuntungan, dari apa yang seharusnya menjadi milik kami setelah memenangkan perang!” seru Qin Chen bersuara lantang.


“Pasukan Kerajaan Song atau bisa aku katakan pasukan Kerajaan Chu yang sedang menyamar, kalian aku neri dua pilihan kalau tidak ingin berperang dengan kami,” ujar Qin Chen.


“Pilihan pertama kalian cukup menyerah dan menjadi tawanan untuk dijadikan budak. Pilihan kedua, kalian cukup membunuh diri kalian masing-masing. Kalau kalian tidak memilih salah satu diantara dua pilihan yang aku berikan, artinya kalian memilih berperang dengan kami, dan sebenarnya kami sangat berharap kalian mau berperang sampai akhir melawan kami!” kata Qin Chen sambil menunjukkan senyuman sinis di wajahnya.


Para Jenderal, wakil Jenderal, dan seluruh prajurit Kerajaan Chu yang menyamar sebagai prajurit Kerajaan Song hanya diam membisu. Semua pilihan yang diberikan Qin Chen tak satupun menguntungkan mereka. Menjadi budak artinya mereka akan menderita sebelum mati. Membunuh diri sendiri, tentu mereka tidak ingin mati semudah itu. Di saat kedua pilihan mereka coret dari daftar pilihan, artinya mereka hanya dapat berperang dengan musuh, dan mati berdarah-darah di medan perang.


Tanpa berpikir lebih lama lagi, para Jenderal Kerajaan Chu yang menjadi pemimpin pasukan, mereka menarik keluar pedang dari sarung, dan berteriak memberi perintah pada pasukannya untuk maju menyerang musuh.


Meskipun musuh terlihat lebih kuat, para Jenderal Kerajaan Chu yang memimpin pasukan menganggap kekuatan musuh dapat dikalahkan dengan jumlah yang dimiliki pasukannya.


Akan tetapi anggapannya sala besar. Kekuatan musuh bukanlah sesuatu yang dapat dikalahkan hanya dengan jumlah. Nyatanya, pasukan musuh yang melesat maju menyambut serangannya, dengan mudah mereka membabat prajurit Kerajaan Chu selayaknya membabat rumput liar.


Tidak mengalami kesusahan, Kavaleri Naga Hitam dengan mudah membabat habis prajurit Kerajaan Chu yang memilih melakukan pertempuran sampai mati dengan mereka.


“Aku akui pilihan mereka adalah pilihan seorang kesatria. Akan tetapi mereka sangat bodoh untuk menjadi kesatria yang sesungguhnya karena ketidakmampuan mengukur kekuatan yang dimiliki musuh,” ujar Qin Chen setelah melihat hasil akhir pertempuran antara Kavaleri Naga Hitam dan seluruh pasukan Kerajaan Chu.


...----------------...


Sementara itu di Kerajaan Gui yang sebelumnya dikuasai oleh Raja Gui Mo, hampir seluruh wilayah Kerajaan Gui saat ini berpindah tangan menjadi milik Kerajaan Shu.

__ADS_1


Qiao Bao, Jenderal Shang Hong, serta Jin Han, dengan mudah mereka mengambil alih kota-kota di Kerajaan Gui, dan sekarang hanya menyisakan ibukota Kerajaan Gui yang belum berhasil mereka ambil alih.


Namun, dengan terus bertambahnya jumlah prajurit yang ikut dengan mereka, setelah puluhan ribu prajurit pelindung kota-kota yang berhasil mereka kuasai memutuskan bergabung dengan pasukan Kerajaan Shu, mereka yakin dapat menguasai ibukota Kerajaan Gui dalam waktu dekat.


“Saudara Hong, menurutmu berapa lama waktu yang kita perlukan untuk menguasai seluruh wilayah Kerajaan Gui, termasuk wilayah ibukota Kerajaan Gui?” tanya Qiao Bao pada Jenderal Shang Hong.


“Dengan kekuatan yang ikut bersama kita, dua atau tiga hari kedepan aku yakin kita dapat menguasai seluruh wilayah Kerajaan Gui, termasuk wilayah ibukota Kerajaan Gui,” jawab Jenderal Shang Hong.


Melihat kekuatan yang sekarang dimiliki pasuka Kerajaan Shu, Qiao Bao setuju dengan jawaban Jenderal Shang Hong. Namun, meski terlihat mudah, tetap saja Qiao Bao mewaspadai perang yang kemungkinan akan terjadi saat mereka ingin menguasai ibukota Kerajaan Gui.


Jin Han sendiri, saat ini dia tidak berada di depan selayaknya Qiao Bao dan Jenderal Shang Hong. Dia, saat ini berada di barisan belakang, mengawasi pasukan yang berasal dari prajurit penjaga kota, yang sebelumnya merupakan prajurit Kerajaan Gui.


“Aku tidak menyangka mereka sangat tidak memandang keberadaan Kerajaan Gui, padahal selama ini mereka bagian dari Kerajaan Gui.”


“Raja Gui Mo dan seluruh petinggi Kerajaan, sepertinya mereka berperilaku buruk pada rakyatnya sehingga mereka sama sekali tidak memandang keberadaan Kerajaan Gui,” ujar Jin Han melihat senyum senang prajurit Kerajaan Gui yang sekarang menjadi bagian dari prajurit Kerajaan Shu.


“Semoga saja di masa depan mereka tidak menjadi pengkhianat!” gumam Jin Han sambil terus memacu kudanya secara perlahan.


...----------------...


“Alangkah baiknya jika kita lebih dulu menguasai wilayah lainnya sebelum menyerang langsung ibukota Kekaisaran Qing,” jawab Qin Chen.


“Dengan menguasai wilayah lain dan hanya menyisakan wilayah ibukota Kekaisaran, kita tidak akan kesulitan menguasai ibukota Kekaisaran yang tak lagi memiliki dukungan dari wilayah lainnya,” lanjut Qin Chen menjelaskan.


Zang Lei mengangguk mengerti, dan dia merasa masih butuh banyak belajar tentang apa saja yang harus dilakukan untuk memenangkan sebuah peperangan.


“Setelah menyusuri wilayah selatan dan timur, sebaiknya sekarang kita pergi menuju utara, dan dalam lima hari kita akan sampai di ibukota Kekaisaran Qing,” kata Qin Chen pada Zang Lei lalu keduanya melanjutkan perjalanan menuju wilayah utara Kekaisaran Qing.


Qin Chen, Zang Lei, dan Kavaleri Naga Hitam bergerak menuju wilayah utara Kekaisaran Qing. Satu hari melakukan perjalanan, dua kota berhasil diambil alih dari kekuasaan Kekaisaran Qing.


Meskipun sudah mengambilalih dua kota dan hari sudah berganti malam, Qin Chen, Zang Lei dan Kavaleri Naga Hitam tidak menghentikan perjalanan mereka, dan pada akhirnya mereka berhasil kembali mengambil alih satu kota lainnya tepat di tengah malam.

__ADS_1


Tidak adanya perlawanan dari kota-kota yang sebelumnya menjadi bagian dari Kekaisaran Qing, membuat Qin Chen, Zang dan Kavaleri Naga Hitam tidak perlu berperang untuk mengambil alih wilayah Kekaisaran Qing.


...----------------...


Perkemahan Kerajaan Chu di perbatasan Kerajaan Song dengan wilayah Kekaisaran Qing, di tenda perawatan.


Ratu Li Wei hanya bisa menghela nafas panjang sambil menggelengkan kepala setelah mendengar kabar musnahnya padukan yang dikirim untuk mengambil alih beberapa wilayah Kekaisaran Qing. Dia tidak menyangka pasukan yang dikirim bertemu dengan pasukan Kerajaan Shu.


“Apa cuma kamu yang berhasil menyelamatkan diri?” tanya Ratu Li Wei pada salah satu wakil Jenderal yang berhasil melarikan diri saat pasukan Kerajaan Chu berperang dengan pasukan Kerajaan Shu.


“Yang Mulia, pasukan musuh sangat kuat, satu dari mereka dengan mudah membunuh puluhan prajur tanpa terluka, dan seorang pria bertopeng hang memimpin mereka bukan lawan sepadan para Jenderal. Mereka para Jenderal mati dalam satu kali serangan melawan pria itu. Sebuah keberuntungan hamba berhasil melarikan diri, dan melaporkan apa yang terjadi di tempat itu pada Yang Mulia,” jawab wakil Jenderal yang saat ini sedang mendapatkan perawatan karena luka tebasan pedang di punggungnya.


Ratu Li Wei bisa memperkirakan siapa sosok yang di maksud pria bertopeng hitam, dan dia merasa tidak ada yang aneh pasukannya musnah setelah bertemu dengan pria itu.


“Apa kamu tahu nama pasukan yang menyerang dan memusnahkan teman-temanmu?” tanya Ratu Li Wei.


Wakil Jenderal yang mendapat pertanyaan seperti itu, dia sejenak berpikir. “Yang Mulia, kalau tidak salah salah satu Jenderal sempat mengatakan kalau musuh adalah pasukan Naga Hitam yang dulunya merupakan pasukan dibawah pimpinan Pangeran Qin Chen,” jawabnya.


Ratu Li Wei menganggukkan kepala mendengar itu karena apa yang sebelumnya dia perkirakan merupakan sebuah kebenaran.


Setelah mendapatkan jawaban dari pertanyaannya, Ratu Li Wei pergi meninggalkan tenda perawatan. Baru juga keluar tenda perawatan, pria paruh baya menghampiri sang Ratu.


“Yang Mulia, apa perlu hamba turun tangan memimpin pasukan lainnya merangsek masuk ke wilayah Kekaisaran Qing, dan mengambil alih wilayah Kekaisaran Qing yang saat ini berada di tangan orang-orang Kerajaan Shu?” ujar pria paruh baya.


Ratu Li Wei menggelengkan kepalanya. “Untuk saat ini kita hanya perlu fokus pada Kerajaan Song. Biarkan mereka merasa menang karena berhasil menguasai seluruh wilayah Kekaisaran Qing. Jika semua berjalan sesuai rencana, pada akhirnya seluruh wilayah di kawasan timur ini, akan menjadi milik Kerajaan Chu,” kata Ratu Li Wei.


Pria paruh baya hanya menganggukkan kepalanya, lalu dia pergi mengikuti Ratu Li Wei yang berjalan menuju tenda paling besar di perkemay.


...----------------...


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2