Legenda Qin Chen

Legenda Qin Chen
Dimulainya Peperangan


__ADS_3

Jangan lupa like dan komentarnya, terimakasih...


°°°


Lembah Shenghuo.


Qin Chen, Putri Liu Yao, Zang Lei, dan Jenderal Shang Hong menunggu kedatangan pasukan Kerajaan Shu dan pasukan Pangeran Qing Moran di lembah Shenghuo.


Qin Chen dan yang lainnya sengaja datang lebih dulu ke lembah Shenghuo, menunggu kedatangan musuh yang kemungkinan akan sampai di lembah Shenghuo saat hari menjelang malam.


Selain mereka berempat, di lembah Shenghuo juga ada lima puluh ribu prajurit teratai perak dan lima puluh ribu prajurit teratai emas yang siap menyambut kedatangan musuh. Sementara itu, pasukan kuran-kura hitam telah bersiaga di sisi lain, dan siap melakukan serangan kejutan dari sisi belakang musuh seandainya pertempuran benar-benar tidak bisa terelakkan. Meski jumlah mereka tak seberapa, dengan kekuatan yang mereka miliki, pasukan kura-kura hitam dapat menjadi mimpi buruk pasukan musuh.


Jika melihat jumlah pasukan yang berada di sisi Putri Liu Yao, mungkin jumlah pasukan Putri Liu Yao akan menjadi bahan tertawaan Kasim Kerajaan yang membawa lebih dari dua ratus ribu prajurit Kerajaan Shu. Apalgi di sisinya ada kekuatan Pangeran Qing Moran yang membawa serta ribuan pasukan elit Kekaisaran, dan jangan melupakan keberadaan Pendekar Tongkat Naga.


Akan tetapi pasukan Putri Liu Yao bukanlah pasukan yang mengandalkan jumlah. Mereka adalah pasukan yang mengandalkan kekuatan dan strategi perang. Meski memiliki kelemahan yang mencolok dalam jumlah, semua kelemahan akan tertutupi oleh kekuatan dan strategi perang yang mereka miliki.


Di bawah pohon yang cukup rindang, Qin Chen sedang mematangkan strategi perang bersama Putri Liu Yao dan dua orang lainnya. Mereka sepakat tidak melakukan serangan lebih dulu, dan baru menyerang setelah musuh terlebih dahulu menyerang. Meski tidak melakukan serangan lebih dulu, mereka tidak akan memberi ampun pada musuh yang datang menyerang.


Setelah selesai mematangkan strategi perang, Zang Lei dan Jenderal Shang Hong pergi untuk memastikan kesiapa pasukan mereka.


“Seberapa kamu yakin kita tidak dapat menghindari peperangan dengan mereka?” tanya Putri Liu Yao pada Qin Chen.


“Pangeran Qing Moran sangat menginginkanmu, ditambah dia sekarang datang bersama Kasim Kerajaan Shu. Dari situ aku yakin kita tidak dapat menghindari peperangan yang sudah ada di depan mata,” jawab Qin Chen.


Putri Liu Yao menganggukkan kepala setuju. “Dengan begini kita akan menghadapi dua peperangan di dua tempat yang berbeda karena saat ini Kota Zhuhai sedang diserang oleh Kerajaan Ming dan Kerajaan Gui,” kata Putri Liu Yao khawatir dengan hasil akhir peperangan.


Qin Chen menunjukkan senyuman lembut di wajahnya. “Dengan kekuatan yang kita miliki, aku yakin kita masih dapat memenangkan peperangan di tempat ini ataupun di Kota Zhuhai,” ujar Qin Chen menenangkan Putri Liu Yao.


“Sejak awal kita sudah tahu akan kalah dalam jumlah saat harus berperang di dua tempat berbeda. Akan tetapi, kita sudah mengantisipasi itu semua dengan pelatihan keras yang dilakukan seluruh prajurit selama beberapa hari terakhir. Dengan pelatihan keras yang sudah mereka selesaikan, meski jumlah musuh lebih banyak, mereka hanya akan musnah dihadapkan pasukan kita,” ungkap Qin Chen yang senantiasa menunjukkan senyuman lembut di wajahnya.

__ADS_1


Putri Liu Yao tersenyum di balik cadarnya membalas senyuman Qin Chen, lalu dia berkata “Begitu perang ini berakhir dan kemenangan berada di tangan kita, bagaimana kalau kita segera menggelar pesta pernikahan?” Putri Liu Yao menatap wajah Qin Chen begitu dia selesai mengatakan apa yang ingin dia katakan pada Qin Chen.


Qin Chen tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. “Kita akan menggelar pesta pernikahan begitu permasalahan Kerajaan Shu terselesaikan karena aku ingin ada seseorang yang mendampingimu saat kita melakukan prosesi pernikahan,” kata Qin Chen yang ingin Raja Liu Feng menjadi saksi pernikahannya dengan Putri Liu Yao.


Putri Liu Yao mengerti apa yang menjadi keinginan Qin Chen, dan dia sama sekali tidak merasa keberatan saat keinginan itu. “Meski dia tetap enggan merestui hubungan kita, pernikahan kita akan tetap terjadi,” kata Putri Liu Yao dengan sediki membuka cadar, dan menunjukkan senyuman di bibirnya.


Qin Chen kembali menganggukkan kepala menunjukkan kalau dia setuju dengan apa yang dikatakan Putri Liu Yao.


Di saat Qin Chen dan Putri Liu Yao membahas pernikahan mereka, di jalan utama yang menghubungkan Kerajaan Ming dengan Kota Zhuhai, jebakan yang dipasang pasukan Naga Hitam terus memakan korban jiwa dari pasukan Kerajaan Ming dan Kerajaan Gui yang melakukan perjalanan menuju Kota Zhuhai.


“Kenapa tiba-tiba di tempat ini terdapat banyak jebakan dan lagi aku masih sangat asing dengan jebakan di tempat ini?” ujar Putra Mahkota Ming Lang.


“Yang Mulia, sepanjang jalan dipenuhi jebakan, dan sudah lebih dari lima ribu prajurit mati terkena jebakan,” kata prajurit Kerajaan Ming melaporkan keadaan prajurit di barisan terdepan.


Putra Mahkota Ming Lang terkejut mendengar banyaknya korban jiwa dari jebakan yang terpasang di sepanjang jalan menuju Kota Zhuhai.


Baru juga Putra Mahkota Ming Lang selesai berkata, prajurit di barisan terdepan kelihatan sebuah pedang tergeletak di tengah jalan yang mereka lalui, dan tanpa berpikir panjang dia langsung mengambil pedang yang cukup menarik perhatiann.


BOOM...


Ledakan besar terjadi memusnahkan prajurit yang baru mengambil pedang di jalan, dan ledakan itu ikut memusnahkan lebih dari seribu prajurit di sekitarnya.


“Jebakan seperti apa yang dapat memicu ledakan sebesar itu? Katakan padaku, siapa sebenarnya yang telah memasang jebakan di tempat ini?” seru Putra Mahkota Ming Lang sembari melihat orang-orang di sekelilingnya.


“Yang Mulia, hamba tidak tahu siapa yang telah memasang jebakan di tempat ini. Akan tetapi, hamba merasa jebakan yang dipasang di tempat ini semakin mematikan, saat kita semakin mendekati Kota Zhuhai...”


“Cepat katakan pada mereka yang berada di barisan depan untuk lebih berhati-hati!” kata Putra Mahkota Ming Lang tegas.


“Baik Yang Mulia...”

__ADS_1


Putra Mahkota Ming Lang melihat kepergian prajurit menuju barisan depan pasukan Kerajaan Ming. “Kalau jebakan yang dipasang di sepanjang jalan terus mengenai pasukanku, aku khawatir jumlah mereka hanya akan tersisa setengahnya saja saat sampai di Kota Zhuhai,” gumam Putra Mahkota Ming Lang.


Putra Mahkota Ming Lang tidak tahu bagaimana cara menghindari jebakan yang letaknya sangat tersembunyi, dan lagi dia tidak punya pilihan lain untuk pergi ke Kota Zhuhai selain melewati jalan yang dipenuhi jebakan mematikan.


“Meski masih ada pasukan dari Kerajaan Gui, tetap saja kehilangan banyak prajurit di sepanjang perjalanan adalah sebuah kerugian, dan semua itu dapat menurunkan mental bertarung pasukanku,” gumam Putra Mahkota Ming Lang yang benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan, selain meminta pasukan garis depan untuk lebih berhati-hati.


Sementara itu, di saat Putra Mahkota Ming Lang dilanda kebingungan, Jin Fan dan Jin Yan yang terus mengikuti pergerakan pasukan Kerajaan Ming dan Kerajaan Gui, keduanya tersenyum melihat jebakan yang dipasang pasukan Naga Hitam terus mengurangi jumlah musuh.


Saat pasukan Kerajaan Ming dan Kerajaan Gui berjarak lima kilometer dari Kota Zhuhai, Jin Fan segera mengirin kabar keberadaan musuh pada Qiao Bao yang berada di benteng pertahanan Kota Zhuhai menggunakan seekor burung merpati.


Burung merpati terbang cepat menuju Kota Zhuhai, dan kurang dari lima menit burung merpati mendarat di bahu Qiao Bao yang berdiri di titik tertinggi benteng pertahanan Kota Zhuhai.


Tak ada surat yang terikat di kaki burung merpati. Meski begitu, Qiao Bao tahu maksud dari kedatangan burung merpati yang dengan tenang masih bertengger di bahunya.


Sebelumnya Jin Fan dan Jin Yan mengatakan padanya kalau keduanya akan mengirim burung merpati saat musuh sudah berjarak kurang dari lima kilometer dari Kota Zhuhai. Dengan merpati yang masih bertengger di bahunya, dia tahu kalau musuh tak lama lagi dapat terlihat dari tempatnya.


“Jenderal, sebentar lagi mereka datang,” kata Qiao Bao pada dua Jenderal penjaga Kota Zhuhai yang langsung saja pergi mempersiapkan pasukan setelah mendengar perkataan Qiao Bao.


Sedangkan Jin Hui yang juga berada di Kota Zhuhai, saat ini dia memimpikan puluhan ribu pasukan Naga Hitam bersiap menyergap pasukan musuh.


“Seperti biasa, jumlah musuh lebih banyak daripada kita, tapi sebagai pasukan Naga Hitam, kita tidak akan gentar menghadapi mereka!” seru Jin Hui yang samar-samar mendengar derap langkah kaki dari ribuan prajurit tak jauh dari tempat persembunyiannya.


“Semua bersiap! Mereka segera datang,” ujar Jin Hui yang sudah memegang tombak di tangan kanannya.


°°°


Bersambung...


Khusus hari ini satu bab dulu. Besok up dua bab seperti biasa 😊😊

__ADS_1


__ADS_2