Legenda Qin Chen

Legenda Qin Chen
Kamu Memang Jelek


__ADS_3

Jangan lupa like dan komentarnya, terimakasih...


°°°


Kota Nanjing, ibukota Kerajaan Shu.


Keadaan Kota Nanjing perlahan mulai pulih setelah beberapa hari yang lalu keadaan kota dibuat kacau saat Kasim Kerajaan menjabat sebagai Raja Kerajaan Shu. Semua orang yang membuat kacau Kota Nanjing telah mendapatkan hukuman mati, hukuman yang setimpal dengan perbuatan mereka.


Keamanan Kota Nanjing saat ini tidak dipegang oleh prajurit Kerajaan, setelah banyaknya prajurit Kerajaan yang ternyata merupakan orang-orang yang setia pada Kasim Kerajaan. Untuk Keamanan Kota Nanjing, saat ini dilakukan oleh pasukan Kura-Kura Hitam yang dipimpin langsung oleh Zang Lei. Keamanan dari gerbang kota sampai istana Kerajaan semuanya menjadi tanggungjawab pasukan Kura-Kura Hitam.


Hanya satu tempat yang masalah keamanannya berada di luar tanggungjawab pasukan Kura-Kura Hitam. Tempat itu adalah istana Putri Mahkota, yang mendapat penjagaan ketat dari pasukan Naga Hitam dan pasukan Teratai Emas.


Dari keseluruhan istana yang berada di Kota Nanjing, istana Putri Mahkota adalah tempat yang paling sulit untuk dimasuki. Bahkan lebih sulit memasuki istana Putri Mahkota dibandingkan memasuki istana Kerajaan.


Siapapun yang ingin memasuki istana Putri Mahkota harus izin terlebih dahulu pada penjaga, selain itu mereka juga akan mendapatkan pemeriksaan ketat sebelum mendapatkan izin memasuki istana. Tidak jarang ada orang yang langsung dihukum mati saat mencoba memasuki istana Putri Mahkota karena orang-orang itu terbukti memiliki niat buruk pada Sang Putri.


Meski terkenal akan ketegasan dan kekejamannya, tapi penduduk Kota Nanjing tetap menyukai keberadaan Putri Mahkota yang selalu bersikap adil, dan senantiasa memberi hukuman pada mereka yang pantas mendapatkannya.


°°°


Qin Chen dan Putri Liu Yao memutuskan berkeliling Kota Nanjing setelah menyelesaikan pekerjaan mereka. Tanpa pengawalan, Putri Liu Yao lebih leluasa memeluk lengan Qin Chen di sepanjang jalan yang mereka lewati. Meski tidak memakai pakaian mewah yang menunjukkan identitasnya sebagai Putri Mahkota, tetap saja banyak penduduk Kota Nanjing yang mengenali Putri Liu Yao karena memasang kecantikan Sang Putri, tak pernah luntur meski senantiasa dia menggunakan cadar.


Melintasi pusat keramaian Kota Nanjing, banyak pasang mata yang memberi tatapan memuja pada sosok Putri Liu Yao. Akan tetapi, tatapan memuja mereka segera berubah menjadi tatapan meremehkan saat mereka mengarahkan tatapan mata pada Qin Chen. Terutama tatapan mata seperti itu ditunjukkan oleh pemuda Kota Nanjing yang tergila-gila akan kecantikan dan keindahan yang dimiliki Putri Liu Yao.


Sekelompok pemuda berpakaian mewah tiba-tiba muncul dan memberi hormat pada Putri Liu Yao, lalu salah satu dari mereka yang penampilannya paling menonjol berkata, “Yang Mulia Putri Mahkota, tidak aman bagi Yang Mulia berkeliling kota tanpa kehadiran pengawal. Untuk itu hamba dan teman-teman hamba menawarkan diri mengawal Yang Mulia, sekaligus menemani Yang Mulia berkeliling kota...”

__ADS_1


“Aku sangat berterimakasih atas tawaran kalian. Akan tetapi, saat ini aku tidak membutuhkan pengawal untuk menemaniku berkeliling kota. Jadi, sebaiknya kalian segera menyingkir dan beri jalan pada kami untuk lewat!” kata Putri Liu Yao tegas, tapi sekelompok pemuda yang berdiri di hadapannya tak kunjung menyingkir dan memberi jalan padanya.


“Maaf Yang Mulia, kami tetap akan menjadi pengawal Yang Mulia,” kata pemuda yang sama, dan dia kekeuh tidak mau menyingkir.


“Daripada Yang Mulia didampingi pria tidak jelas sepertinya, jauh lebih baik kami yang mendampingi Yang Mulia!” kata pemuda lainnya, dan entah kenapa orang-orang di sekitarnya setuju dengan perkataan pemuda itu.


Mendengar itu, Putri Liu Yao langsung melepas pelukan di lengan Qin Chen, dan perlahan dia berjalan mendekati pemuda yang dengan begitu berani menghina pria yang sangat dia cintai.


Pemuda yang baru saja menghina Qin Chen, dia menunjukkan senyuman lebar di wajahnya saat melihat Sang Putri berjalan mendekat ke arahnya. Namun, seketik senyum di wajahnya menghilang saat dia melihat sorot mata penuh kemarahan Putri Liu Yao yang ditujukan padanya. Merasakan sesuatu yang buruk akan menimpa dirinya, pemuda itu perlahan berjalan mundur. Akan tetapi gerakannya jauh lebih lambat dibandingkan langkah kaki Putri Liu Yao.


Putri Liu Yao yang hanya berjarak satu langkah dari pemuda yang telah menghina Qin Chen, langsung saja dia menendang wajah pemuda itu, dan membuat si pemuda terpelanting kesamping menghantam dinding salah satu bangunan di Kota Nanjing.


Belum puas dengan sebuah tendanga, Putri Liu Yao mendekati pemuda itu dan kembali dia ingin menendangnya. Akan tetapi, dia segera mengurungkan keinginannya saat tiba-tiba Qin Chen muncul di depannya, sambil membuka topeng yang menutupi wajahnya.


“Jangan mengotori tubuhmu dengan memukuli pemuda lemah sepertinya! Biarkan Zang Lei yang mengurusi mereka...” Qin Chen mengarahkan telunjuk tangannya ke arah Zang Lei dan lima anggota pasukan Kura-Kura Hitam yang belum lama ini menunjukkan keberadaannya.


“Aku tidak akan membukanya tanpa seizin kamu. Lagi pula, sekalipun aku membuka topeng ini, siapa juga yang akan tertarik melihat wajah jelekku?” kata Qin Chen yang terasa seperti sebuah tamparan bagi pria di sekitar yang mendengar perkataannya.


Mereka telah melihat seperti apa rupa Qin Chen. Jika yang seperti itu dikatakan jelek, lalu sejelek apa wajah mereka? Di saat para pria hanya bisa tertunduk memikirkan sejelek apa wajah mereka, para wanita yang sempat melihat rupa Qin Chen, mereka kini tahu alasan Putri Liu Yao tak ingin lepas dari pria bertopeng yang selalu berada di sisinya.


Dengan ketampanan yang begitu sempurna, mereka para wanita rela memberikan semua untuk Qin Chen, meski mereka nantinya hanya akan menjadi gundik yang sekali pakai bisa langsung di buang.


“Ya, kamu memang jelek, dan di dunia ini hanya aku yang mau menerimamu. Jadi, jangan pernah membantah perkataanku!” kata tegas Putri Liu Yao begitu dia selesai memasang kembali topeng Qin Chen.


Mendengar semua itu, Qin Chen hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

__ADS_1


Selesai memasang topeng Qin Chen, Putri Liu Yao menatap sekelompok pemuda yang belum juga menyingkir dari jalannya. “Kalau kalian tidak cepat menyingkir, kalian akan bernasib sama dengan teman kalian itu!...” Putri Liu Yao menunjuk pemuda yang sudah tak sadarkan diri setelah terkena tendangannya.


Tidak ingin bernasib sama seperti salah satu teman mereka, sekelompok pemuda itu segera berlari pergi, tak lupa sekelompok pemuda itu berlari sambil menyeret teman mereka yang masih kehilangan kesadarannya.


Setelah kepergian sekelompok pemuda yang berhasil membuatnya marah, Putri Liu Yao memberi perintah pada Zang Lei untuk menyelidiki identitas para pemuda itu.


“Baik Yang Mulia, hamba segera menyelidiki identitas mereka,” kata Zang Lei lalu dia memberi hormat pada Putri Liu Yao dan Qin Chen, dan setelahnya dia pergi untuk mengumpulkan identitas pemuda yang begitu berani mengganggu kedua orang yang sangat dia hormati.


“Mau lanjut berkeliling, atau kembali ke istana?” tanya Qin Chen pada Putri Liu Yao, di tengah banyak pasang mata yang terus memandang ke arahnya.


Putri Liu Yao menunjuk taman kota yang tak begitu jauh dari tempatnya saat ini. “Aku ingin menghabiskan waktu di taman kota,” kata Putri Liu Yao tersenyum lembut di balik cadarnya, dan kembali dia memeluk lengan Qin Chen.


"Baiklah, kita akan menghabiskan waktu bersama di taman kota,” kata Qin Chen sambil melangkah bersama Putri Liu Yao menuju taman kota.


Sampai di taman kota, Qin Chen dan Putri Liu Yao pergi menuju sudut taman kota yang tidak terlalu banyak pengunjung, dan kalaupun ada pengunjung kebanyakan dari mereka adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta.


“Tempat ini memang tepat digunakan untuk menghabiskan waktu bersama orang terkasih,” kata Qin Chen.


Putri Liu Yao mengangguk mendengar itu, lalu dia berkata, “Taman ini bernama taman kasih sayang, dan benar adanya taman ini merupakan tempat yang tepat untuk menghabiskan waktu bersama orang terkasih...” Putri Liu Yao menyandarkan kepalanya ke lengan Qin Chen begitu dia menyelesaikan perkataannya.


Sementara itu, pengunjung taman yang melihat keberadaan Putri Liu Yao dan Qin Chen, mereka memilih pergi karena tidak ingin mengganggu kebahagiaan Sang Putri. Melihat semua itu, Qin Chen berkata lirih pada Putri Liu Yao, “Sepertinya mereka tahu kalau kita hanya ingin berduaan di tempat ini...”


Putri Liu Yao tiba-tiba melepas pelukannya di lengan Qin Chen, lalu dia berdiri di depan Qin Chen sambil menjinjitkan kakinya, “Ya, mereka tahu kita ingin menghabiskan waktu berdua...” kata Putri Liu Yao kemudian dia mendaratkan ciuman lembut ke bibir Qin Chen...


°°°

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2