
Jangan lupa like dan komentarnya, terimakasih.
...----------------...
“Bukan hanya sekedar datang untuk menyerang, ternyata Kekaisaran Qing mengerahkan seluruh kekuatan terbaiknya untuk menyerang kita. Bukan hanya kemunculan enam pendekar pelindung Kekaisaran, Kavaleri Rajawali Perak ternyata juga turun ke medan perang,” ujar Qin Chen begitu dia sampai di benteng pertahanan Kerajaan Shu, dan melihat kekuatan Kekaisaran Qing.
Selain melihat kekuatan pasukan Kekaisaran Qing, Qin Chen juga melihat seberapa banyak persenjataan berat yang dimiliki Kekaisaran Qing. Dari apa yang dia lihat, setidaknya Kekaisaran Qing memiliki tiga puluh meriam, dua puluh pelontar api, dan dua alat penghancur gerbang benteng. Selain itu, ada puluhan menara berjalan yang biasanya digunakan untuk menaikkan prajurit ke atas benteng.
Qin Chen dapat mengukur seberapa besar kekuatan musuhnya, tapi dia tidak terburu-buru menunjukkan kekuatan sesungguhnya perbatasa Kerajaan Shu pada musuh karena dia masih mencari-cari keberadaan kekuatan lain, yang mungkin saja masih disembunyikan pihak musuh.
Menatap keseluruhan medan perang, Qin Chen menggelengkan kepalanya. Tempat lapang yang berpasir, tak lama lagi akan menjadi lautan darah dan mayat.
“Semua memang harus di selesaikan dengan peperangan,” gumam Qin Chen sambil menghela napas.
“Memang hanya peperangan yang dapat menyelesaikan semuanya,” kata Putri Liu Yao yang sejak awal sudah berada di samping Qin Chen.
Qin Chen menoleh melihat Putri Liu Yao lalu dia menganggukkan kepala. “Ratusan ribu nyawa akan melayang dalam peperangan yang tak lama lagi akan terjadi di tempat ini,” ujarnya.
“Saat genderang perang sudah di tabuh, hanya ada dua pilihan untuk kita. Menang dengan banyak kerugian, atau kalah membawa serta kehancuran,” ungkap Putri Liu Yao.
Setelahnya Qin Chen dan Putri Liu Yao tidak lagi melanjutkan obrolan mereka. Keduanya bersama-sama pergi ke barak prajurit untuk mempersiapkan mereka semua sebelum dimulainya hari pertempuran.
Qin Chen menyiapkan prajurit yang akan menggunakan anak panah untuk mengurangi jumlah musuh dari kejauhan. Sedangkan Putri Liu Yao, dia pergi menyiapkan prajurit yang akan mengoperasikan persenjataan berat. Selain itu, Putri Liu Yao juga menyiapkan prajurit khusus untuk menjaga gudang persenjataan yang dipisah menjadi empat lokasi berbeda.
Gudang persenjataan sengaja terpisah untuk menghindari kerugian secara keseluruhan saat serangan musuh tanpa sengaja menghancurkan gudang persenjataan.
Semua itu adalah ide Qin Chen berkat pengalamannya di masa lalu, yang mana dia pernah mengalami kerugian besar saat satu-satunya gudang persenjataannya waktu itu tidak sengaja dihancurkan pihak musuh. Sejak saat itu, Qin Chen tak lagi menyimpan persenjataan di tempat yang sama.
__ADS_1
“Jumlah kita hanya setengah dari jumlah musuh, tapi dengan semua persiapan yang sudah kita lakukan, jumlah bukanlah kekuatan utama yang dapat memenangkan sebuah peperangan.”
“Tekad untuk menang adalah faktor utama yang mempengaruhi jalannya peperangan. Selama kalian masih memiliki tekad untuk menang, musuh yang hanya mengandalkan jumlah tak akan memiliki kesempatan menang melawan kalian.”
“Pertahankan tekad kemenangan yang kalian inginkan, dan gunakan tekad itu untuk melawan musuh yang tak lama lagi datang. Ingat, tekad kemenangan dan setiap senjata di tangan kalian, adalah jaminan kematian untuk musuh kalian!” seru Qin Chen dengan suara lantang.
Seluruh prajurit mengangkat senjatanya tinggi-tinggi, lalu bersamaan mereka berteriak, “PASTI MENANG...”
Terlihat jelas senyuman lebar di wajah Qin Chen saat dia melihat semangat yang ditunjukkan seluruh prajurit Kerajaan Shu.
Semangat dalam peperangan juga sesuatu yang dapat menentukan jalannya peperangan, oleh karena itu apa yang sebelumnya disampaikan oleh Qin Chen adalah sesuatu yang wajib dilakukan untuk membakar semangat seluruh prajurit.
“Dengan semangat dan tekad untuk memenangkan peperangan yang dimiliki prajurit Kerajaan Shu, Kekaisaran Qing telah menemukan lawan yang setara, dan mereka akan menjadi pihak yang kalah seandainya mereka tidak memiliki semangat serta tekad menang seperti yang dimiliki prajurit Kerajaan Shu,” gumam lirih Qin Chen.
Di tempat prajurit yang bertugas mengoperasikan persenjataan berat, Putri Liu Yao juga berhasil membangkitkan semangat dan tekad memenangkan peperangan seluruh prajurit di tempat itu.
“Keempat Jenderal yang biasa memimpin kalian, mereka telah ditugaskan menjaga benteng ini. Jadi, saat kalian pergi berperang, aku dan Putri Liu Yao yang akan menjadi pemimpin kalian. Jika ada yang tidak setuju, kalian bisa tetap tinggal di dalam benteng, dan ikut melindungi benteng ini,” ujar Qin Chen.
Mendengar semua itu seluruh prajurit utama Kerajaan Shu saling pandang satu sama lain, lalu diwaktu bersamaan mereka berkata dengan suara lantang. “Kami akan menerima seluruh tugas, yang Yang Mulia berikan pada kami...”
Seluruh prajurit berlutut sambil menangkupkan kedua tangan mereka. Semua sadar dengan apa yang mereka lakukan, dan tak satupun dari mereka terpaksa melakukan itu.
Qin Chen dan Putri Liu Yao mengangguk puas. “Aku sangat menghargai keputusan kalian, dan aku sekarang memberi tugas pertama pada kalian semua untuk beristirahat karena tugas utama kalian sudah menanti saat matahari pagi muncul dari ufuk timur,” kata Qin Chen.
“Baik Yang Mulia.” Seluruh prajurit sangat mematuhi perkataan Qin Chen, dan semua prajurit segera mengistirahatkan tubuh mereka supaya di keesokan hari mereka siap berperang di medan peperangan.
Tidak ingin mengganggu istirahat mereka, Qin Chen dan Putri Liu Yao pergi meninggalkan barak prajurit. Keduanya kembali menaiki benteng, melihat perkemahan musuh yang terlihat di kejauhan.
__ADS_1
“Dari api yang berkorban di perkemahan mereka, aku bisa tahu kalau jumlah mereka jauh lebih banyak dibandingkan jumlah prajurit yang kita miliki,” ujar Putri Liu Yao.
“Apa kamu takut?” tanya Qin Chen sambil menatap wajah Putri Liu Yao yang sekarang tak lagi tertutup cadar.
Mendengar itu Putri Liu Yao menggelengkan kepala. “Aku sama sekali tidak takut. Sebaliknya, aku justru semakin bersemangat menghadapi mereka, dan semua racun yang aku miliki tak sabar membunuh sebanyak-banyaknya prajurit musuh,” jawab Putri Liu Yao.
Qin Chen tersenyum mendengarnya. "Sebenarnya aku masih sedikit tidak percaya kalau kamu adalah pendekar yang dijuluki pendekar wanita seribu racun. Namun, melihat keahlian kamu meracik racun, mau tidak mau aku harus percaya kalau kamulah sosok pendekar wanita seribu racun,” kata Qin Chen.
“Sebenarnya aku sendiri tidak terlalu menyukai julukan yang mereka berikan padaku, tapi mau tidak mau aku menerima julukan yang mereka berikan padaku. Akan tetapi, selama aku memakai cadar dan tak menggunakan jurus seribu racun yang aku miliki, tak akan ada yang tahu kalau aku adalah pendekar yang mereka juluki sebagai pendekar seribu racun,” ujar Putri Liu Yao.
Qin Chen menganggukkan kepala. “Dalam peperangan yang tak lama lagi akan terjadi di tempat ini, mungkinkah aku dapat melihat kehebatan pendekar seribu racun? Ataukah mungkin sang pendekar akan tetap menyembunyikan identitasnya?” kata Qin Chen menatap lekat wajah Putri Liu Yao.
“Musuh yang kali ini akan kita hadapi bukanlah musuh sembarangan. Enam pendekar pelindung Kekaisaran semuanya merupakan pendekar tingkat Raja. Kalau aku tidak serius menghadapi mereka, sulit bagiku dapat mengalahkan mereka,” ujar Putri Liu Yao sadar akan kekuatan musuhnya.
“Mereka memang kuat dan aku tidak ingin kamu terlalu memaksakan diri saat berhadapan dengan mereka. Jika merasa tidak bisa mengalahkan mereka, kamu bisa memilih mundur, dan serahkan mereka padaku,” kata Qin Chen.
Meski sama-sama berada di tingkat Raja, kekuatan Qin Chen jauh melampaui kekuatan Putri Liu Yao. Bahkan, dia dapat mengalahkan pendekar tingkat Kaisar dengan sedikit usaha.
“Meski mereka merupakan pendekar tingkat Raja, aku memiliki banyak cara untuk mengalahkan mereka. Enam orang seperti mereka tidak akan menjadi masalah besar untukku,” ujar Qin Chen yang kali ini mengarahkan pandangannya ke arah langit malam yang bertaburan bintang.
“Jangan kira cuma kamu yang masih menyembunyikan kekuatan yang sesungguhnya. Aku sendiri juga masih memiliki banyak cara, dan aku memiliki keyakinan dapat mengalahkan pendekar tingkat Kaisar dengan banyaknya cara yang aku miliki untuk mengalahkan mereka,” ungkap Putri Liu Yao.
Keduanya sama-sama menatap langit malam bertabur bintang, sambil menyunggingkan senyuman di bibir.
...----------------...
Bersambung.
__ADS_1