Legenda Qin Chen

Legenda Qin Chen
Keberadaan Putri Palsu


__ADS_3

Jangan lupa like dan komentarnya, terimakasih.


...----------------...


Pagi hari Qin Chen akhirnya sampai di kediamannya, yang berada di dalam kawasan istana Kerajaan Shu. Meskipun sudah beberapa saat berada di kediamannya, belum ada seorangpun yang tahu kalau Qin Chen telah kembali termasuk Liu Yao. Namun, baru juga sampai di kawasan istana, Qin Chen mendengar desas-desus tidak menyenangkan yang dia dengar dari pembicaraan prajurit serta pelayan yang melewati kediamannya.


“Putra Mahkota Arthur ternyata sangat menginginkan Putri Liu Yao. Dia jauh-jauh datang dari wilayah barat hanya untuk menemui Putri Liu Yao, dan aku tidak menyangka mereka sudah berada di kamar yang sama selama dua malam ini.”


“Menurutmu, apa akan terjadi peperangan besar begitu Yang Mulia Qin Chen kembali dari Kekaisaran Qing?”


“Peperangan itu mungkin terjadi, tapi aku rasa Putri Liu Yao pastinya lebih memilih Putra Mahkota Arthur yang merupakan calon penguasa wilayah barat.”


Qin Chen yang mendengar itu mengerutkan keningnya. Dia tidak begitu saja percaya dengan desas-desus itu sebelum membuktikannya secara langsung.


Seharian berada di dalam kediamannya, malam hari dengan menggunakan pakaian serba hitam, Qin Chen keluar dari kediamannya, dan langsung melesat menuju kediaman Liu Yao.


Meskipun penjagaan kediaman Liu Yao di istana Kerajaan sangat ketat, ditambah adanya penjagaan dari prajurit Kekaisaran Barat, tetap saja bukan hal sulit bagi Qin Chen menerobos penjagaan mereka.


Hanya dalam hitungan detik Qin Chen telah sampai di dalam kediaman Liu Yao, dan dengan gerakan cepat yang tak menimbulkan suara dia berhasil menyusup ke kamar Liu Yao dimana saat ini didalam kamar terdapat Arthur dan wanita bercadar.


Keduanya sedang saling tindih di atas ranjang, dengan milik Arthur terus keluar masuk milik wanita bercadar yang ditumbuhi bulu lebat berwarna hitam. Dari situ, Qin Chen tahu kalau itu bukanlah Liu Yao, melainkan wanita yang sedang menyamar menjadi dirinya.


Akan tetapi dari suara, bentuk tubuh, Qin Chen akui wanita itu sangat mirip dengan Liu Yao yang dia kenal. Kalau saja dia tidak melihat milik wanita yang ditumbuhi bulu lebat, mungkin dia akan terkecoh oleh penyamaran wanita itu.


Menggunakan tenaga dalam untuk mencari keberadaan Liu Yao, Qin Chen dapat merasakan jejak tenaga dalam wanita itu dari ruangan tak jauh dari tempatnya saat ini.


“Aku tidak tau apa yang dia rencanakan, tapi sepertinya dia sedang menikmati permainannya,” gumam lirih Qin Chen.


Dalam satu kali tarikan nafas Qin Chen menghilang dari tempatnya, dan muncul di tempat wanita yang sedang membasuh tubuhnya di dalam kolam pemandian air hangat.


“Setelah melihat pemandangan panas di kota itu, dan melihat pergulatan di kamar sebelah. Aku merasa tidak bisa menahan keinginanku untuk melakukan itu dengannya,” gumam Qin Chen yang keberadaannya belum disadari wanita yang merendam sebagian tubuh polosnya di kedalaman kolam.


Qin Chen yang sudah tidak sabar, langsung saja dia menanggalkan pakaian luar serta topeng miliknya, dan hanya menyisakan pakaian dalam tipis berwarna putih.

__ADS_1


Melihat wanita di kolam pemandian yang tak lain adalah Liu Yao masih belum menyadari keberadaannya, menggunakan tenaga dalam dia mengunci pintu pemandian, kemudian dia langsung masuk kedalam kolam pemandian dan memeluk tubuh Liu Yao dari belakang.


“Siapa kamu? Lepaskan aku!” kata Liu Yao yang merasakan adanya benda menggesek-gesek bagian belakang tubuhnya.


“Kenapa aku harus melepaskannya? Apa kamu tidak menginginkannya?” tanya Qin Chen yang seketika membuat Liu Yao terdiam dengan wajah mulai memerah.


Tak lagi mendapat penolakan dari wanitanya, Qin Chen mulai meraba bagian atas tubuh Liu Yao, kedua tangannya lincah memainkan dua bukit kembar Liu Yao yang kenyal dan hangat.


“Apa kamu sudah melihat permainan di kamar sebelah sampai-sampai kamu tidak tahan saat melihatku?” tanya Liu Yao sudah tahu identitas dari pria yang dia biarkan melakukan apapun pada tubuhnya.


Qin Chen tidak langsung menjawab, dia justru mengarahkan tangan kanannya ke milik Liu Yao yang sudah mulai becek dan seperti biasa tidak ada bulu tumbuh di tempat itu.


“Aku sudah tidak bisa menahannya,” ujar Qin Chen.


Liu Yao tau apa yang ingin dilakukan Qin Chen. Meskipun dalam keadaan berdiri di dalam kolam pemandian, dia sedikit mempermudah jalan Qin Chen melakukan apa yang ingin dia lakukan dengan sedikit melebarkan jarak kedua kakinya.


Merasa mendapatkan bantuan, Qin Chen langsung saja memasukkan miliknya ke dalam milik Liu Yao yang masih saja sempit dan berdenyut-denyut, meskipun ini bukan kali pertama milik Liu Yao dimasukin milik Qin Chen.


Qin Chen yang sudah tidak tahan, dia langsung saja menggerakkan pinggulnya, membuat miliknya terus mengaduk-aduk milik Liu Yao. Terkadang gerakannya sangat cepat, dan kadang juga pelan. Dia terus melakukan itu sambil kedua tangannya memainkan bukit kenyal milik Liu Yao.


Qin Chen dan Liu Yao sama-sama menahan des*han kenikmatan supaya tidak keluar dari mulut mereka, tapi suara mereka yang sedang memburu kenikmatan pasti terdengar oleh mereka yang berada di balik pintu tepat kolam pemandian.


Hampir semalaman mereka melakukan itu di dalam pemandian kolam air hangat. Sudah tidak terhitung seberapa banyak Qin Chen menanam benihnya kedalam milik Liu Yao, yang jelas, saat ini keduanya terbaring lemas di kamar Liu Yao yang menyatu dengan ruang pemandian.


...----------------...


Pagi harinya, Qin Chen dan Liu Yao menambah satu ronde di atas tempat tidur, dan kali ini Qin Chen mengeluarkan cairan kenikmatannya di atas bukit kembar Liu Yao.


Setelah permainan panas di pagi hari, keduanya mandi bersama dan saat ini mereka sedang menikmati sarapan yang diantarkan oleh pelayan kepercayaan Liu Yao.


Selesai sarapan bersama, keduanya duduk menikmati teh hangat di dalam kamar.


“Sebenarnya aku ingin sedikit bermain denganmu, tapi ternyata kamu dengan mudah mengetahui permainanku,” kata Liu Yao sambil tersenyum.

__ADS_1


“Kalau saja aku belum melihat seluruh bagian tubuhmu, mungkin aku akan mengira wanita itu benar-benar kamu. Namun, apa yang dimiliki wanita itu menunjukkan kalau dia bukanlah kamu,” balas Qin Chen.


“Padahal aku sudah menyuruh dia memangkas habis bulu-bulu di sekitar miliknya, tapi ternyata Putra Mahkota menyukai miliknya yang dipenuhi bulu,” ujar Liu Yao.


Qin Chen hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala mendengar semua itu.


“Sekarang kamu bisa menjelaskan padaku, kenapa kamu memiliki rencana membuat wanita lain menggantikan posisimu, bahkan wanita itu terlihat tidak keberatan dan justru menikmati apa yang dilakukan orang itu?” tanya Qin Chen penasaran.


“Sejak pertama bertemu dengannya tiga hari yang lalu aku sudah tidak menyukai keberadaannya, dan lagi dia hanyalah orang yang menyamar sebagai Arthur. Oleh karena itu, aku membiarkan wanita lain menggantikan posisiku, dan aku akan mengungkap semuanya begitu kamu kembali,” jawab Liu Yao.


“Bagaimana kamu bisa tahu kalau dia bukan Arthur yang asli, melainkan hanya orang yang sedang menyamar?” kembali Qin Chen bertanya.


“Aku mengetahui semua itu dari mata-mata yang aku tempatkan di Kekaisaran Barat.” jawab Liu Yao.


“Melihatmu sudah berada di tempat ini bahkan sudah memberiku kepuasan yang sebenarnya aku masih menginginkannya lagi dan lagi, sepertinya ini waktu yang tepat untuk mengungkap semuanya,” ujar Liu Yao sambil bangkit dari duduknya yang mana sejak awal dia duduk di atas pangkuan Qin Chen.


Qin Chen ikut bangkit berdiri, lalu dia memimpin perjalanan menuju aula istana dimana pagi ini akan diadakan pertemuan membahas pernikahan kekuasaan antara Kekaisaran Barat dengan Kerajaan Shu.


“Memeluk lenganmu saja sudah membuat aku nyaman, pantas saja aku ingin terus melakukan itu denganmu,” bisik Liu Yao yang tidak sungkan menunjukkan kemesraan di depan banyak orang yang berjalan di belakangnya.


“Sepertinya malam ini kita akan melanjutkan yang tadi pagi, dan jangan menyalahkan aku kalau tenggorokanmu sakit seperti semalam,” balas Qin Chen sambil terkekeh pelan.


Mendengar itu Liu Yao langsung saja mencubit pinggang Qin Chen. “Punyamu terlalu besar untuk mulutku, dan lagi kamu ternyata sangat nakal karena memaksa itu masuk sepenuhnya ke mulutku,” ujar Liu Yao.


Empat pelayan pribadi Liu Yao yang mendengar semua itu mereka hanya bisa menghela nafas panjang, dan kini mereka tahu asal suara-suara aneh yang sempat membuat milik mereka basah.


Meski hanya mendengar dan tidak mencari tahu sumber suara yang semalam mereka dengar, akibat penyatuan tenaga dalam Qin Chen dan Liu Yao yang sangat kuat, membuat keempat pelayan yang berjaga di luar ruangan seolah merasakan apa yang sedang dilakukan Qin Chen dan Liu Yao.


Semalaman mereka menahan rasa aneh tapi sangat nikmat, dan paginya mereka merasakan lelah serta tubuh pegal-pegal seolah baru saja berlari ratusan kilometer.


“Aku tidak sabar melihat ekpresi pria itu yang beberapa hari ini menganggap dirinya telah berhasil menguasai Kerajaan Shu,” kata Liu Yao.


“Aku juga tidak sabar melihat semua itu,” balas Qin Chen.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung.


__ADS_2