Legenda Qin Chen

Legenda Qin Chen
Membeli Senjata


__ADS_3

Jangan lupa like dan komentarnya, terimakasih.


...----------------...


Satu hari berlalu dengan begitu cepat. Di istana Kekaisaran Shu.


Setelah mengantar kepergian para Raja yang akan kembali ke Kerajaan mereka masing-masing, dengan hanya berpenampilan selayaknya penduduk ibukota pada umumnya, Qin Chen dan Liu Yao pergi berkeliling ibukota tanpa pengawalan. Meskipun terlihat tanpa pengawalan, sebenarnya ada Jin Yan dan Jin Fan yang melakukan pengawalan dari tempat tersembunyi.


Berada di tengah-tengah ibukota tanpa ada yang mengetahui identitas mereka, Qin Chen membawa Liu Yao menuju tempat pandai besi terbaik yang ada di ibukota. Qin Chen tahu tempat itu dari Jin Fan yang belum lama ini memesan sebuah pedang dari tempat itu.


Sampai di tempat pandai besi yang ternyata tidak begitu jauh dari istana Kekaisaran, kedatangan Qin Chen dan Liu Yao disambut ramah oleh dua orang pria yang bertugas menyambut kedatangan pelanggan.


Berada di dalam bangunan tempat pandai besi, Qin Chen dan Liu Yao dibuat takjub dengan segala jenis senjata yang tersusun rapi di tempat itu. Bahkan di beberapa sudut ruangan terdapat perisai yang sekilas kualitasnya lebih baik dibandingkan yang selama ini dipakai oleh prajurit Kekaisaran.


“Selamat datang Tuan dan Nyonya di tempat kami, kalau kami boleh tau, apa maksud tujuan Tuan dan Nyonya ke tempat kami? Apa Tuan dan Nyonya menginginkan senjata yang sudah ada, atau mau melakukan pesanan khusus?” tanya pria yang sebelumnya mempersilahkan Qin Chen dan Liu Yao masuk ke dalam tempat pandai besi.


“Aku ingin melakukan pesanan khusus, dan aku berharap kalian bisa menyelesaikan pesananku,” jawab Qin Chen sambil tersenyum.


“Kalau begitu Tuan dan Nyonya bisa menunggu sebentar karena aku harus memanggil pemilik tempat ini untuk meleyani keinginan Tuan,” kata pria itu lalu dia membiarkan wanit yang bersamanya menemani Qin Chen dan Liu Yao, sementara dia pergi menemui pemilik pandai besi.


Tak lama pria yang sebelumnya kembali datang bersama seorang pria paruh baya bertubuh besar penuh otot, dengan jenggot panjang yang membuat penampilannya terlihat selayaknya seorang Jenderal Perang Kekaisaran. Dari sekali melihat, Qin Chen tahu kalau pria itu adalah pemilik pandai besi.


“Ayah, Tuan ini yang ingin melakukan pesanan khusus,” kata pria yang sama.


Pria berjenggot panjang segera berlutut setelah melihat Qin Chen dan Liu Yao, membuat bingung pria dan wanita yang merupakan putra dan putrinya.


“Yan Zong memberi hormat pada Yang Mulia Kaisar dan Yang Mulia Permaisuri,” kata Yan Zong, pemilik pandai besi memberi hormat pada Qin Chen dan Liu Yao.

__ADS_1


“Paman Zong bangkitlah, kedatanganku ke tempat ini hanya untuk memesan pedang untukku dan juga untuk istriku,” balas Qin Chen sambil membantu Yan Zong bangkit.


Yan Zong segera bangkit mengikuti perintah Qin Chen. Sedangkan putra dan putrinya mereka masih terdiam karena terkejut setelah tahu siapa sosok Tuan dan Nyonya yang sedang mereka layani. Keduanya tidak menyangka kalau Tuan dan Nyonya itu adalah Kaisar dan Permaisuri Kekaisaran mereka.


Setelah Yan Zong bangkit berdiri, Qin Chen mulai menjelaskan pedang seperti apa yang dia inginkan. “Paman Zong, apa Paman bisa membuatkan aku sebuah pedang yang tahan dengan suhu panas? Kalau untuk Yao'er, tolong Paman buatkan dia pedang yang ringan, tapi haruslah kuat dan tajam,” kata Qin Chen mengutarakan keinginannya.


Senyum lebar terlihat di bibir Yan Zong setelah mendengar perkataan Qin Chen. Dia merasa apa yang diinginkan Qin Chen, dia sudah memilikinya.


“Yang Mulia bisa mengikutiku karena sepertinya aku sudah memiliki pedang yang Yang Mulia inginkan,” ajak Yan Zong.


Qin Chen dan Liu Yao kemudian mengikuti Yan Zong memasuki sebuah ruangan khusus tempat dia tersimpannya karya tebaik Yan Zong sebagai pandai besi terbaik yang dimiliki Kekaisaran Shu. Setelah berada di ruangan khusus yang hanya terdapat beberapa senjata mulai dari tombak, pedang, cambuk, busur panah, serta perisa, Yan Zong menunjukkan dua pedang pada Qin Chen dan Liu Yao.


Pedang pertama memiliki bilah tajam berwarna merah, dan ukurannya sangat pas untuk Qin Chen yang mengutamakan keseimbangan antara kecepatan dan kekuatan. Sedangkan pedang kedua memiliki bilah tajam berwarna biru, dan ukurannya lebih kecil dari pedang pertama. Dari ukuran, pedang itu sangat cocok digunakan Liu Yao yang berfokus pada kecepatan dan kelincahan.


“Yang Mulia Kaisar, Yang Mulia Permaisuri, hamba rasa kedua pedang ini sesuai dengan apa yang sebelumnya diinginkan oleh Yang Mulia.”


“Pedang dengan bilah merah menyala, selain kuat dan tidak terlalu berat, pedang ini juga tahan panas. Pedang tidak akan melebur meskipun di masukkan ke dalam kawah gunung berapi.”


“Paman, apa aku boleh mencobanya?” tanya Qin Chen penasaran dengan ketahanan pedang yang menurutnya sangat kuat dan kokoh.


“Tentu saja, Yang Mulia bisa mencobanya,” Yan Zong menyerahkan pedang dengan bilah tajam berwarna merah pada Qin Chen.


Begitu menerima dan memegang pedang yang diberikan Yan Zong padanya, Qin Chen mencobanya mengalirkan hawa panas dari teknik Tubuh Dewa Matahari.


Tiba-tiba suhu di ruangan itu meningkat, tapi masih aman untuk Liu Yao dan Yan Zong. Akan tetapi, suhu panas keseluruhannya mengarah pada pedang di tangan Qin Chen, dan luar biasanya pedang itu masih terlihat utun tidak mengalami sedikitpun kerusakan.


Melihat itu senyum lebar terlihat jelas di wajah Qin Chen, dan dia cepat-cepat menghilangkan hawa panas yang dikeluarkannya.

__ADS_1


Merasakan suhu ruangan kembali normal, Yan Zong dapat bernafas lega, sedangkan Liu Yao dia hanya bersikap tenang sambil menunjukkan senyum tipis di balik cadarnya.


“Paman, aku akan membeli keduanya,” kata Qin Chen sangat yakin dengan pilihannya.


“Kalau Yang Mulia bersedia, hamba ingin menghadiahkan kedua senjata itu pada Yang Mulia yang telah membuat Kerajaan Shu kembali ke era kejayaan, bahkan saat ini Kerajaan itu telah berubah menjadi Kekaisaran terkuat dan terbesar di wilayah timur,” balas Yan Zong.


“Apa Paman yakin memberikan kedua pedang ini padaku? Bukannr Paman akan merugi besar dengan menyerahkan semua ini secara cuma-cuma padaku?” tanya Qin Chen tidak tidak percaya Yan Zong memberikan dua pedang yang begitu luar biasa kepadanya.


“Hamba jauh lebih senang karena dapat memberi hadiah secara langsung pada Yang Mulia, daripada hamba menerima bayaran dari Yang Mulia,” balas Yan Zong.


Qin Chen pada akhirnya menerima kedua senjata itu sebagai hadiah dari Yan Zong, dan dia hanya bisa berjanji pada Yan Zong akan menggunakan pedang hadiahnya untuk melindungi Kekaisaran Shu. Bukan hanya Qin Chen yang berjanji, Liu Yao juga mengatakan janji yang sama pada Yan Zong.


Setelah sedikit berbincang santai yang dipenuhi kehangatan bersama Yan Zong, Qin Chen dan Liu Yao pamit meninggalkan pandai besi milik Yan Zong.


Begitu Qin Chen dan Liu Yao pergi meninggalkan pandai besi miliknya, Yan Zong memanggil putra dan putrinya. “Yan Ran, Yan Qiqi, besok kalian pergi ke istana dan serahkan lencana ini pada penjaga gerbang. Dengan melihat kalian memiliki lencana ini, mereka tahu harus mengantarkan kalian kemana,” kata Yan Zong sambil menyerahkan masing-masing satu lencana pada Yan Ran dan Yan Qiqi.


“Ayah, lencana apa ini? Kenapa tiba-tiba Ayah memberikan lencana ini pada kami, dan menyuruh kami pergi ke istana Kekaisaran?” tanya Yan Ran penasaran dengan lencana pemberian Yan Zong.


Senyum terlihat di wajah Yan mendengar itu. “Mulai besok kalian akan menjadi pengawal pribadi Yang Mulia Kaisar dan Yang Mulia Permaisuri,” jawab Yan Zong.


“Menjadi pengawal pribadi Yang Mulia Kaisar dan Yang Mulia Permaisuri?” seru Yan Qiqi terkejut.


“Hahahaha... ya, mulai besok putra dan putriku akan menjadi pengawal pribadi Yang Mulia Kaisar dan Yang Mulia Permaisuri,” kata Yan Zong bersuara lantang, membuat semua orang di pandai besi miliknya mendengar apa yang dia katakan.


“Ayah, apa ini bayaran untuk pedang yang dibawa Yang Mulia Kaisar dan Yang Mulia Permaisuri? Bukannya bayaran ini terlalu mahal?” tanya Yan Ran.


“Ini semua bukan bayaran, semua ini murni hadiah dari Yang Mulia Kaisar karena ayah kalian berhasil membuat senang Yang Mulia Kaisar dan Yang Mulia Permaisuri,” jawab Yan Zong dengan dipenuhi kebanggaan pada pencapaian yang baru dia capai.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung.


__ADS_2