
Jangan lupa like dan komentarnya, terimakasih.
...----------------...
Qiao Bao, Jenderal Shang Hong, dan Zang Lei baru saja sampai di istana Kerajaan Shu setelah menyelesaikan tugas mereka di bekas wilayah Kerajaan Ming. Begitu sampai, mereka langsung pergi menemui Putri Liu Yao di ruang kerjanya.
Kebetulan saat mereka datang, di ruang kerja Putri Liu Yao ada Qin Chen. Jadi, sekalian mereka bisa melaporkan apa yang mereka hasilkan selama menjalankan tugas di bekas wilayah Kerajaan Ming.
“Sebagian besar mereka yang dulunya merupakan penduduk Kerajaan Ming, mereka setuju dan mendukung wilayah mereka menjadi bagian dari Kerajaan Shu,” ujar Qiao Bao.
“Namun, ada beberapa orang yang lebih memilih pergi ke Kerajaan Gui karena mereka tidak ingin tunduk dibawah kepemimpinan Kerajaan Shu,” imbuhnya.
“Biarkan mereka yang pergi, sekarang sebaiknya kita berfokus pada penyatuan wilayah,” ujar Putri Liu Yao.
“Putri, seluruh penguasa kota yang dulunya merupakan wilayah Kerajaan Ming, mereka sangat senang saat Kerajaan Shu mengambil alih kota mereka,” kata Jenderal Shang Hong.
“Selama ini meski kota mereka bagian dari Kerajaan Ming, mereka sama sekali tidak mendapatkan manfaat dari Kerajaan. Mereka justru harus mengalami banyak kerugian dengan tingginya pajak yang ditetapkan Kerajaan,” imbuhnya.
“Bukan hanya pajak yang tinggi, tapi banyak penduduk kota mereka yang dipaksa menjadi budak, bahkan banyak wanita muda yang diambil paksa dari keluarganya, dan mereka dibawa ke ibukota Kerajaan untuk dijadikan wanita penghibur,” ujar Sang Lei.
“Aku tidak menyangka Kerajaan Ming begitu buruk mengolah wilayah kekuasaannya,” kata Putri Liu Yao prihatin dengan nasib penduduk yang dulunya bagian dari Kerajaan Ming.
“Putri, dalam waktu dekat penguasa kota akan mengunjungi istana untuk menyatakan kesetiaan mereka pada Kerajaan Shu, dan mereka bersedia membantu Kerajaan Shu selama keberadaan mereka mendapatkan perhatian dari pihak Kerajaan,” kata Qiao Bao menyampaikan pesan para penguasa kota yang pernah bertemu dengannya.
“Kapanpun mereka datang dengan senang hati aku menyambut kedatangan mereka,” kata Putri Liu Yao sambil menunjukkan senyuman di balik cadarnya.
Selesai menyampaikan apa yang ingin mereka sampaikan. Qiao Bao, Jenderal Shang Hong, Zang Lei, mereka pamit undur diri meninggalkan ruang kerja Putri Liu Yao.
“Mereka akan menjadi kekuatan tambahan untuk Kerajaan Shu,” kata Putri Liu Yao pada Qin Chen yang hanya menganggukkan kepala.
...----------------...
Dua hari berlalu Jin Hab, Mu Niao, dan pasukan yang mereka bawa telah sampai di ibukota Kerajaan Shu.
__ADS_1
Qin Chen yang sudah menunggu kedatangan mereka di gerbang ibukota, dia membawa mereka semua ke istana Putri Liu Yao.
“Jin Han, Mu Niao, dan kalian semua. Mulai hari ini, tempat ini akan menjadi rumah kalian. Khusus untuk kediaman Putri Liu Yao. Mu Niao, kamu bisa menggunakan tempat itu bersama anggota pasukan Naga Emas,” kata Qin Chen.
“Jin Han, kerahkan pasukan yang kamu bawa untuk menjaga tempat ini, dan kamu bisa tinggal di kediaman utama yang berada di bagian tengah kawasan istana ini,” kata Qin Chen.
“Baik Tuan,” jawab Jin Han dan Mu Niao bersamaan.
Qin Chen menganggukkan kepala, lalu dia menyuruh Jin Han dan Mu Niao mengikutinya pergi ke salah satu ruangan.
“Katakan informasi apa yang kalian dapatkan sebelum pergi meninggalkan istana Kerajaan Chu?” tanya Qin Chen begitu mereka sampai di ruang pertemuan di istana milik Putri Liu Yao.
Jin Han langsung saja menceritakan pada Qin Chen tujuan Ratu Liu Wei menumpuk puluhan ribu prajuritnya di wilayah dekat perbatasan Kerajaan Shu.
“Ternyata dia masih ingin mencelakai Putri Liu YaoYao, tapi bukannya sebelum ini kamu mengatakan Ratu Li Wei ingin datang sendiri untuk mencelakai Putri Liu Yao, kenapa sekarang tiba-tiba dia membiarkan gurunya yang melakukannya?” tanya Qin Chen pada Mu Niao.
“Ratu Li Wei tidak ingin melihat Tuan lebih lama bersama Putri Liu Yao. Oleh karena itu, Ratu Li Wei merencanakan semua itu, dan membiarkan gurunya mencelakai Putri Liu Yao,” jawab Mu Niao.
“Ini buruk, kekuatanku yang sekarang belum cukup untuk mengalahkan wanita tua itu,” kata Qin Chen sadar akan kekuatannya belum menyamai tingkat kekuatan Lao Pi.
“Itu bisa kita lakukan kalau kita tahu kapan datangnya wanita itu,” kata Qin Chen.
“Selama kita tidak tahu kapan kedatangannya, kecik kemungkinan kita bisa berkumpul dan bersama-sama melawannya,” imbuhnya.
“Tuan, bagaimana kalau kita mendatangi wanita itu sebelum dia mendatangi kita?” kata Jin Han.
“Benar juga, kenapa aku tidak kepikiran untuk mendatanginya. Mendatanginya jauh lebih baik daripada harus menunggu kedatangannya,” ujar Qin Chen.
Memutuskan mendatangi Lao Pi sebelum wanita itu bergerak, Qin Chen memberi tugas pada Jin Han mencari keberadaan Lao Pi.
“Begitu kamu menemukan dia, segera kirim kabar padaku dimana di berada supaya kita bisa bersama-sama melawannya. Selain kita, sepertinya aku juga membutuhkan bantuan Jin Fan dan Jin Yan,” ungkap Qin Chen.
Jin Han menganggukkan kepala sebagai tanda dia mengerti apa yang harus dia lakukan, dan dia akan berangkat mencari Lao Pi setalah bermalam di rumah barunya.
__ADS_1
Sebenarnya Jin Han tidak perlu pergi jauh mencari Lao Pi karena dari informasi yang dia dapat, wanita itu sudah berada di sekitaran ibukota Kerajaan Shu.
Daripada mencari, bisa dikatakan Jin Han hanya perlu memastikan keberadaan Lao Pi sebelum melaporkannya pada Qin Chen.
...----------------...
Ibukota Kerajaan Shu.
Seorang wanita yang masih terlihat cantik di usia yang tak lagi muda, sedang menikmati makanan di salah satu restoran yang terletak di pusat ibukota Kerajaan Shu.
Sambil menikmati makanannya, wanita yang tak lain adalah Lao Pi, dia terus mengawasi keadaan ibukota Kerajaan Shu yang siang ini terlihat sangat ramai.
Namun, dari ramainya orang-orang di ibukota Kerajaan Shu, Lao Pi belum melihat adanya prajurit penjaga ibukota. Sejak memulai makan sampai selesai makan, dia sama sekali tidak melihat keberadaan prajurit penjaga.
Senyum terlihat di wajahnya setelah dia yakin dengan keadaan ibukota Kerajaan Shu, dan dia juga yakin keadaan yang sama juga bisa dia lihat di istana Kerajaan Shu maupun istana lainnya yang berada di ibukota Kerajaan.
“Wanita itu sepertinya sudah mengerahkan sebagian besar prajurit Kerajaan ke wilayah perbatasan, dan membuat penjagaan di ibukota melemah,” gumam Lao Pi lirih.
Selesai makan, Lao Pie membayar makannya lalu dia pergi begitu saja meninggalkan restoran.
Baru beberapa langkah meninggalkan restoran, dia merasa ada sepasang mata yang sedang mengawasi pergerakannya. Namun, saat melihat sekeliling dia tidak menemukan adanya sosok yang dia rasa sedang mengawasi pergerakannya.
“Penjagaan ibukota Kerajaan memang hanya dilakukan oleh segelintir prajurit, tapi aku merasa mereka adalah prajurit khusus, termasuk prajurit yang sejak tadi diam-diam mengawasi pergerakanku,” gumam Lao Pi lalu sosoknya menghilang di tengah keramaian ibukota Kerajaan.
Tidak lagi melihat keberadaan Lao Pi, seseorang dengan topeng yang menutupi wajahnya keluar dari celah bangunan. “Dia ternyata sudah menyadari keberadaanku,” kata sosok bertopeng yang tak lain adalah Jin Han.
Pagi ini Jin Han pergi memastikan keberadaan Lao Pi. Setelah sepanjang pagi mencari, barulah dia menemukan keberadaan Lao Pi saat matahari sudah tepat berada di atas kepala.
“Sekarang kamu berhasil menghilang, tapi tak lama lagi aku pasti dapat menemukan keberadaanmu,” gumam Jin Han lalu dia kembali mencari keberadaan Lao Pi.
Akan tetapi, tanpa Jin Han sadari, sejak beberapa saat yang lalu sosok yang dia cari ternyata sedang mengawasi pergerakannya.
“Masih terlalu lemah dan kurang berpengalaman. Dengan kemampuan serendag itu, bagaimana mungkin dia dapat menemukan keberadaanku,” gumam Lao Pi lalu dia pergi ke arah berlawanan dari arah yang dituju Jin Han.
__ADS_1
...----------------...
Bersambung.