
Jangan lupa like dan komentarnya, terimakasih.
...----------------...
Kekaisaran kembali melancarkan serangan di hari kedua tak lama setelah matahari terbit dari ufuk timur.
Mengerahkan Kavaleri Rajawali Perak dan kelima pendekar pelindung Kekaisaran, Kaisar Qing Luo berharap serangannya kali ini dapat menembus benteng pertahanan Kerajaan Shu.
Namun, sebuah keanehan terjadi saat Kavaleri Rajawali Perak dan kelima pendekar pelindung Kekaisaran melesat maju menyerang benteng pertahanan Kerajaan Shu. Tak ada serangan dari meriam, bola api, maupun hujan anak panah.
Saat Kavaleri Rajawali Perak yang dipimpin lima pendekar pelindung Kekaisaran Qing dan dua Jenderal Kekaisaran hanya berjarak 200 meter dari benteng pertahanan Kerajaan Shu, tiba-tiba saja gerbang benteng terbuka dan keluar ribuan prajurit menyambut kedatangan mereka.
Terlihat jelas oleh pihak Kekaisaran Qing ada dua sosok yang memimpin ribuan prajurit yang terus keluar dari dalam benteng pertahanan Kerajaan Shu.
Terus melesat maju dan hanya menyisakan jarak kurang dari seratus meter dengan benteng pertahanan Kerajaan Shu, Kavaleri Rajawali Perak dan tujuh orang yang memimpin mereka dihadang puluhan ribu prajurit, yang mereka ketahui sebagai pasukan Teratai Perak dan pasukan Teratai Emas.
Meski jumlah musuh lebih sedikit, Kavaleri Rajawali Perak tidak mengendurkan kewaspadaan mereka, begitu juga dengan ketujuh pemimpin mereka.
Benturan dua kekuatan akhirnya terjadi. Seratus lima puluh ribu prajurit anggota Kavaleri Rajawali Perak, bertemu dengan sembilan puluh ribu prajurit yang tergabung dalam pasukan Teratai Perak dan pasukan Teratai Emas. Meski Kavaleri Rajawali Perak unggul dalam jumlah, mereka terlihat kewalahan menghadapi serangan pasukan yang mereka anggap sebagai kekuatan utama Kerajaan Shu.
Sedangkan ketujuh pemimpin Kavaleri Rajawali Perak, mereka saat ini berhadapan dengan dua pemimpin utama pasukan musuh, dan empat orang yang merupakan Jenderal Kerajaan Shu.
Kedua pemimpin musuh yang dihadapi pemimpin Kavaleri Rajawali Perak adalah Qin Chen dan Putri Liu Yao. Keduanya turun langsung ke medan perang dan saat ini mereka sedang berhadapan dengan tiga pendekar pelindung Kekaisaran Qing. Dua pendekar pria menyerang Qin Chen, dan seorang pendekar wanita menyerang Putri Liu Yao.
"Kalian berdua cukup kuat dibandingkan salah satu pendekar pelindung Kekaisaran yang malam itu aku jadikan hadiah untuk Kaisar Qing Luo. Dia hanya unggul dalam kecepatan, tapi sisanya dia sangatlah lemah,” ujar Qin Chen mencoba memprovokasi kedua lawannya, dan itu cukup berhasil membuat mereka terprovokasi.
“Ternyata kami tidak perlu bersusah-payah mencari keberadaanmu, kau justru mendatangi kami untuk kematian. Membunuh salah satu saudara kami, kau dan seluruh orang yang berhubungan denganmu harus mati di tangan kami!” seru pendekar pelindung Kekaisaran Qing yang merupakan pendekar terkuat diantara lainnya.
Seharusnya mereka berdua memanggik yang lainnya untuk menghadapi sosok yang berhasil mengalahkan salah satu saudara mereka. Namun, melihat yang lainnya sedang sibuk dengan pertempuran mereka masing-masing, keduanya memutuskan melawan Qin Chen tanpa bantuan saudara dan saudari mereka. Meskipun hanya berdua, mereka memiliki keyakinan dapat mengalahkan Qin Chen.
__ADS_1
Keduanya mengerahkan seluruh kekuatan, dan bergantian melakukan serangan membabi-buta ke arah Qin Chen. Akan tetapi seluruh serangan mereka masih dapat dihindari oleh Qin Chen.
Meskipun kecepatan dan kekuatan keduanya sangatlah luar biasa cepat dan kuat, tetap saja apa yang dilakukan keduanya tidak membuat mereka dapat melukai Qin Chen, bahkan mereka harus berusaha ekstra keras saat Qin Chen melakukan serangan balik.
Setelah bertukar lebih dari seratus jurus, kini keduanya yakin kalau hanya mereka saja itu masih belum cukup untuk mengalahkan Qin Chen, tapi mereka benar-benar tidak bisa meminta bantuan pada yang lainnya.
Sedangkan Qin Chen dia masih terlihat santai saat kedua lawannya mulai ketakutan akan kekuatan yang dimilikinya. Kalau saja Qin Chen belum mempelajari kitab Tubuh Dewa Matahari dan kitab Napas Api, dia tidak akan sesantai saat ini, dan mungkin dia sudah berhasil dipukul mundur oleh kedua lawan yang dimana salah satu dari mereka merupakan pendekar tongkat Kaisar.
Beruntung dia sudah mempelajari kedua kitab itu sehingga kekuatannya saat ini dapat meningkat berkali-kali lipat, dan lagi dia tidak cepat kehabisan tenaga dalam karena teknik Napas Api dapat kembali mengisi tenaga dalamnya jauh lebih cepat dibandingkan kedua lawannya. Meskipun mendominasi jalannya peperangan, dia tetap tidak menganggap remeh kedua lawannya.
Kembali bertukar jurus untuk kesekian kalinya, kali ini Qin Chen berhasil melukai kedua lawannya. Meski bukan luka serius yang berakibat fatal bagi mereka, tetap saja rasa sakit dari luka di tubuh mereka, membuat keduanya tidak seleluasa sebelumnya dalam melakukan serangan pada Qin Chen.
“Kak, sebaiknya kita mundur! Kekuatan kita berdua tidak akan mampu mengalahkannya.”
“Aku tidak tahu seberapa tinggi tingkat kekuatannya, tapi dia memang bukan lawan sepadan untukku yang baru saja menjadi pendekar Kaisar.”
Keduanya sepakat menarik diri dari pertempuran, dan akan datang membalas di hari selanjutnya. Akan tetapi, saat keduanya mencoba membuat celah untuk mundur, Qin Chen sama sekali tidak memberikan celah pada mereka.
Tanpa ampun Qin Chen terus menyerang kedua lawannya yang kali ini sama sekali tidak bisa menahan serangannya. Kalau saja di tangan Qin Chen terdapat sepasang pedang, mungkin kedua lawannya saat ini sudah terpotong menjadi ratusan bagian.
Qin Chen sejak awal dimulainya pertempuran hanya menggunakan tangan kosong untuk menyerang kedua lawannya, berbeda dengan kedua lawannya yang sudah mengeluarkan senjata saat mereka mulai terpojok. Akan tetapi, meski sudah menggunakan senjata, mereka tetap saja tidak bisa mengalahkan Qin Chen.
Meskipun sudah membuat kedua lawannya terluka parah dan kesulitan untuk bangkit, Qin Chen belum memiliki keinginan untuk segera mengakhiri hidup mereka.
Dia terus saja menikmati rintihan kesakitan kedua lawannya sambil melihat jalannya pertempuran di sekitarnya.
Dari apa yang dia lihat, kemenangan bisa dipastikan menjadi milik Kerajaan Shu, tapi saat dia berpikir seperti itu ujung kedua matanya dapat melihat prajurit Kekaisaran Qing yang sedang menyusun meriam dan bersiap melakukan serangan.
"Aku sudah mengira kalian akan melakukan itu, tapi apa yang saat ini kalian lakukan hanya akan membuat kalian cepat mati dalam peperangan ini.” Memberi isyarat pada Mu Niao yang berada di puncak tertinggi benteng pertahanan Kerajaan Shu.
__ADS_1
Melihat isyarat yang diberikan Qin Chen dengan kedua matanya yang sangat tajam, Mu Niao segera membakar ujung anak panah yang dia pegang, dan setelah menarik tali busur panah dia melepaskan anak panah ke ketinggian.
Apa yang dilakukan Mu Niao adalah tanda supaya Zang Lei dan Kavaleri Naga Hitam segera masuk ke medan perang.
Benar saja, setelah anak panah Mu Niao melesat ke ketinggian, suara genderang perang terdengar dari sisi belakang pasukan Kekaisaran Qing. Bersamaan dengan terdengarnya suara genderang perang, nampak api membumbung tinggi dari arah perkemahan Kekaisaran Qing.
“Siapa yang menabuh gendang di arah belakang?” gumam Kaisar Qing Luo sambil membalikkan badan melihat arah belakang, tapi apa yang dia lihat benar-benar membuatnya terkejut dan tiba-tiba saja tubuhnya gemetaran.
“A-api itu, api itu berasal dari perkemahan. Se-sebenarnya apa yang terjadi di belakang sana?”
Baru juga Kaisar Qing Luo menutup mulutnya, ramai dia mendengar suara derap langkah kaki kuda dari arah belakang pasukannya, dan tak lama dia melihat puluhan ribu prajurit berzirah hitam, yang mengibarkan ribuan bendera berlambang kepala Naga berwarna Hitam.
Seorang prajurit berlari terburu-buru ke arah Kaisar Qing Luo, lalu dia melaporkan kejadian di perkemahan pada Kaisar. “Yang Mulia, mereka adalah Kavaleri Naga Hitam, kekuatan lainnya yang dimiliki Kerajaan Shu. Mereka sangat kuat dan kejam, seluruh prajurit di perkemahan telah mati di bantai mereka, dan perkemahan juga telah dibakar habis.”
“Kavaleri Naga Hitam? Ini buruk, kita harus secepatnya pergi meninggalkan tempat ini!” Kaisar Qing Luo mencoba mencari jalan keluar untuk dirinya sendiri.
Akan tetapi semua yang ingin dia lakukan sudah sangat terlambat. Semua sisi sudah dikepung musuh. Depan, belakang, kanan, maupun kiri, semua telah menjadi wilayah kekuasaan musuh, dan kini dia hanya bisa bertahan di tengah-tengah kepungan kekuatan musuh.
Semua musuh bergerak bersamaan dan semakin memojokkan pasukan Kekaisaran Qing, beserta Kaisar Qing Luo yang berada di tengah-tengah pasukannya.
Seluruh Jenderal Kekaisaran Qing telah mati di tangan musuh. Kelima pendekar pelindung Kekaisaran Qing juga dibuat tak berdaya oleh kekuatan musuh, dan terakhir seluruh prajurit Kavaleri Rajawali Perak telah gugur keseluruhannya.
Kini yang tersisa dari kekuatan Kekaisaran Qing hanyalah belasan ribu prajurit yang membuat lingkaran, mencoba melindungi Kaisar mereka.
Dilihat dari mana pun, Kekaisaran Qing bisa dipastikan menjadi pihak yang kalah. Meskipun mereka masih memiliki sosok Kaisar Qing Luo dan belasan ribu prajurit, apa yang bisa mereka lakukan saat ratusan ribu prajurit Kerajaan Shu mengepung mereka.
Hanya keajaiban yang dapat memenangkan mereka dalam peperangan, tapi sayangnya keajaiban itu tak akan pernah ada untuk mereka.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung.