
Jangan lupa like dan komentarnya, terimakasih.
...----------------...
Dengan menggunakan teknik Tubuh Dewa Matahari dan teknik Napas Api kekuatan Qin Chen melonjak drastis. Ditambah dia telah membuka seluruh titik pusat tenaga dalam di tubuhnya, membuat seluruh bagian tubuhnya dapat teraliri tenaga dalam.
Lao Pi yang menjadi lawan Qin Chen mulai ketakutan, kekuatan Qin Chen benar-benar di luar dugaannya.
“Teknik Tubuh Dewa Matahari dan teknik Napas Api? Darimana bocah itu mempelajari kedua teknik yang sudah lama menghilang dari dunia persilatan?” ujar lirih Lao Pi.
Lao terus menghindari serangan Qin Chen, dan sesekali dia menggunakan tangan atau kakinya untuk melawan menangkis serangan Qin Chen.
“Tangan dan kakiku terasa terbakar tiap kali aku gunakan menangkis serangannya,” gumam Lao Pi.
“Kalau seperti ini, sebaiknya aku membuat celah dan secepatnya pergi dari tempat ini...” Lao Pi mencoba melawan Qin Chen dengan mengerahkan seluruh kekuatannya.
Bukan untuk mengalahkan Qin Chen karena itu sangat mustahil dia lakukan untuk saat ini, dia mengerahkan seluruh kekuatannya hanya untuk membuat celah supaya dia dapat pergi melarikan diri.
Qin Chen tentu tahu kalau Lao Pi berencana melarikan diri, tapi dia yang memang belum ingin memberi kematian pada Lao Pi, dia berencana membuat wanita itu kehilangan kekuatannya.
Bagi seorang pendekar yang sudah berlatih selama puluhan tahun untuk meningkatkan kekuatannya, lebih baik dia mati dalam pertempuran dibandingkan harus kehilangan seluruh kekuatan yang sudah dilatih selama puluhan tahun.
Qin Chen mengalirkan tenaga dalam ke ujung jari-jari tangannya, lalu dengan gerakan yang sangat cepat dia menyerang titik pusat tenaga dalam di tubuh Lao Pi.
Serangan Qin Chen yang sangat cepat membuat Lao Pi tidak sadar kalau hampir seluruh titik pusat tenaga dalamnya telah diserang Qin Chen.
Senyuman tipis terlihat di wajah Qin Chen saat dia berhasil menyerang 12 dari 13 titik pusat tenaga dalam di tubuh Lao Pi. Dia sengaja menyisakan satu titik pusat tenaga dalam supaya Lao Pi dapat kembali dan menemui muridnya.
Memberi instruksi pada yang lainnya untuk segera mundur, Qin Chen akhirnya mundur meninggalkan Lao Pi begitu yang lainnya sudah cukup jauh meninggalkan tempat pertempuran.
Tak lama setelah Qin Chen dan orang-orangnya mundur, Lao Pi tiba-tiba saja jatuh terduduk dan dia tidak lagi dapat mengalirkan tenaga dalam ke sebagian besar anggota tubuhnya.
“Apa yang terjadi pada tubuhku? Kenapa hanya satu titik pusat tenaga dalam yang menerima aliran tenaga dalam?” gumam Lao Pi sambil mencoba memeriksa keadaan tubuhnya.
Hampir dua jam memeriksa seluruh bagian tubuhnya berulang kalia, barulah Lao Pi percaya apa yang terjadi pada tubuhnya.
Lao Pi berteriak marah setelah tau apa yang terjadi pada tubuhnya.
“Bocah sialan, beraninya dia menghancurkan hasil pelatihanku selama puluhan tahun!...” Meski berteriak marah, Lao Pi merasa hidupnya tak lagi berguna seperti sebelumnya.
__ADS_1
Kini Lao Pi tahu kenapa Qin Chen tiba-tiba menarik diri dari pertempuran padahal dia punya kesempatan mengakhiri hidupnya.
Senyuman penuh kemarahan terlihat di wajah Lao Pi setelah tahu kenyataannya. “Sengaja membiarkanku tersiksa daripada langsung membunuhku. Bocah siapan, ternyata kau lebih kejam daripada yang sering aku lakukan pada musuh-musuhku...”
Melihat sekeliling dan hanya menemukan empat pria berjubah hitam yang telah mati, Lao Pi pada akhirnya memilih kembali ke Kerajaan Chu hanya dengan menggunakan sedikit tenaga dalam yang mengalir di tubuhnya.
...----------------...
Istana Kerajaan Shu.
Putri Liu Yao menyambut kedatangan Qin Chen dan yang lainnya. Perasaan lega dia rasakan melihat Qin Chen dan yang lainnya dalam keadaan baik-baik saja.
“Apa semua berhasil sesuai rencana kamu?” tanya Putri Liu Yao pada Qin Chen yang langsung menganggukkan kepala setelah mendengar pertanyaan yang terlontar keluar dari mulutnya.
“Semua berhasil sesuai rencana,” ujar Qin Chen sambil menunjukkan senyuman tulus di wajahnya.
Putri Liu Yao tersenyum mendengarnya lalu dia mengajak Qin Chen dan yang lainnya untuk menikmati makan siang bersama di taman istana Kerajaan.
Namun, Qiao Bao, Jin Han, Jin Yan, Jin Fan, serta Mu Niao, mereka secara halus menolak ajakan Putri Liu Yao untuk makan siang bersama karena mereka tahu keberadaan mereka hanya akan mengganggu waktu kebersamaan sang Putri dan kekasihnya.
Mereka pada akhirnya pergi meninggalkan istana Kerajaan, dan bersama-sama pergi ke istana milik Putri Liu Yao.
“Mereka benar-benar pengertian,” kata Putri Liu Yao pada Qin Chen begitu mereka duduk berdua di taman istana Kerajaan.
Qin Chen mengangguk sambil tersenyum dan dia juga merasa kalau Qiao Bao dan yang lainnya sangat pengertian.
Melihat makanan sudah datang, Putri Liu Yao dan Qin Chen memutuskan menikmati makan siang mereka, dan baru melanjutkan obrolan setelah selesai makan.
...----------------...
Istana Kekaisaran Qing.
Kaisar Qing Luo sedang menerima kunjungan dari Raja Kerajaan Gui, Gui Mo, atau yang biasa dikenal sebagai pendekar Tangan Iblis. Di aula istana Kekaisaran, Kaisar Qing Luo dengan senang menyambut kedatangan Raja Gui Mo.
“Yang Mulia, maksud kedatangan hamba adalah untuk membahas permasalahan dengan Kerajaan Shu...” Raja Gui Mo langsung saja menyampaikan maksud dari kunjungannya ke Kekaisaran Qing.
“Yang Mulia, hamba ingin bekerjasama dengan Kekaisaran Qing untuk menghancurkan Kerajaan Shu,” kata Raja Gui Mo menambahkan.
"Hamba yakin Yang Mulia memiliki tujuan yang sama, dan dengan bersama-sama kita bisa menghancurkan musuh yang sama,” ujarnya.
__ADS_1
Kaisar Qing Luo menganggukkan kepalanya. “Aku memang ingin membalaskan kematian putraku pada Kerajaan Shu, tapi aku merasa butuh beberapa waktu untuk menyiapkan kekuatan pasukan untuk menghancurkan Kerajaan Shu,” ungkap sang Kaisar.
“Tentu kamu tahu seseorang di Kerajaan Shu berhasil mengalahkan salah satu tokoh kuat di Kekaisaranku? Dari situ aku merasa Kerajaan Shu tidak selemah yang aku pikirkan, dan untuk menyerang mereka aku membutuhkan waktu untuk menghimpun seluruh kekuatan Kekaisaran Qing,” kata Kaisar Qing Luo menambahkan.
Raja Gui Mo menganggukkan kepalanya mengerti. Dia sendiri pernah melihat kekuatan Kerajaan Shu, dan harus diakui kalah Kerajaan Shu memang sangat kuat. Itu juga yang membuat dia memutuskan menjalin kerjasama dengan Kekaisaran Qing untuk menghancurkan Kerajaan Shu.
“Kapanpun Yang Mulia ingin menyerang Kerajaan Shu, hamba dan seluruh kekuatan Kerajaan Gui siap berjuang bersama Yang Mulia,” ujar Raja Gui Mo.
“Sebenarnya apa yang membuat kamu ingin menghancurkan Kerajaan Shu?” tanya Kaisar Qing Luo.
“Yang Mulia, sebenarnya ini adalah dendam pribadi hamba dengan Raja Liu Feng, dan hamba merasa dendam itu belum terbalaskan sebelum hamba menghancurkan Kerajaan Shu,” jawab Raja Gui Mo.
“Bukannya saat ini Kerajaan Shu sudah tidak dipimpin oleh orang itu, melainkan dipimpin putrinya. Apa kamu tetap ingin membalaskan dendam pada Kerajaan Shu?...”
Raja Gui Mo sejenak terdiam, tapi tak lama dia berkata dengan tegas, “Siapapun yang memimpin Kerajaan Shu, dendam tetaplah dendam, dan hamba tetap akan menghancurkan Kerajaan Shu...”
Setelah mendengar itu Kaisar Qing Luo setuju menjalin kerjasama dengan Kerajaan Gui, dan bersama-sama mereka menentukan waktu yang tepat untuk menyerang Kerajaan Shu.
...----------------...
Istana Kerajaan Shu.
“Bagaimana perkembangan kekuatan Kerajaan Shui, apa semua berjalan seperti keinginanmu?” tanya Qin Chen pada Putri Liu Yao setelah keduanya menyelesaikan makan siang bersama.
“Semua berjalan seperti yang aku inginkan, dan sekarang ada tambahan lima puluh ribu prajurit yang memperkuat pertahanan Kerajaan Shu,” jawab Putri Liu Yao.
“Itu masih belum cukup untuk mengimbangi kekuatan mereka yang mengincar Kerajaan Shu. Sebaiknya kita mempercepat rencana perekrutan mantan prajurit Kerajaan Ming, untuk memperkuat kekuatan Kerajaan Shu,” ujar Qin Chen.
“Aku akan mengirim Jin Han, Jin Yan, Jin Fan, serta Mu Niao untuk melakukan perekrutan. Dengan pengalaman mereka melakukan perekrutan, dalam waktu singkat kita pasti mendapatkan kekuatan tambahan untuk mempertahankan Kerajaan Shu,” lanjut Qin Chen.
Putri Liu Yao mengangguk setuju. “Dengan banyaknya permasalahan Kerajaan Shu, sepertinya kita harus menunda lebih lama lagi acara pernikahan kita,” kata Putri Liu Yao.
Qin Chen hanya tersenyum mendengar perkataan Putri Liu Yao.
“Setelah semua permasalahan selesai, kita akan segera melangsungkan pernikahan,” kata Qin Chen sambil membelai lembut rambut panjang Putri Liu Yao.
...----------------...
Bersambung.
__ADS_1