
Bima menggendong Renata keluar dari kamar mandi. Pria itu basah kuyup karena Renata dengan penuh amarah sengaja menyiram tubuh Bima.
Perempuan itu sungguh tidak terima karena laki-laki itu membantunya mandi. Bima bahkan dengan tidak tahu malu menunggu dirinya sampai selesai berendam.
Tak tinggal diam, laki-laki egois itu bahkan mengganggunya dengan ikut membantu menggosok tubuhnya.
Sialan!
Sedari tadi Renata terus mengumpat. Seandainya saja dia tidak lumpuh, pasti sudah menghajar Bima habis-habisan. Meskipun Bima adalah suaminya, tetap saja, laki-laki itu adalah orang yang paling Renata benci sekarang ini.
"Aku membencimu!" Renata berteriak penuh amarah.
"Aku tahu kau sangat membenciku. Aku hanya ingin kau membantumu mandi, tidak lebih. Kau lihat sendiri kan, aku tidak melakukan apa pun padamu?" Bima mengambil handuk di dalam lemari sesuai petunjuk Renata.
Laki-laki itu bermaksud mengeringkan rambut Renata, tetapi perempuan itu segera menepis tangannya.
"Pergilah!" Renata menatap tajam ke arah Bima.
"Aku akan membantumu mengganti baju."
"Tuan Abimanyu!"
Bima menghela napas panjang.
"Baiklah! Aku akan mengambilkan baju untukmu, baru aku keluar." Bima beranjak dari hadapan Renata menuju lemari pakaian. Sementara Renata mengepalkan tangannya.
*Dasar kepala batu! Aku sungguh menyesal karena telah mengizinkan dia ke rumah.
Susah payah aku menahan kebencianku saat berhadapan dengannya, kenapa dia justru mengujiku?
__ADS_1
Brengsek*!
Renata meraih ponsel di atas nakas. Saat ini dirinya duduk di tepi ranjang.
Renata mengirimkan pesan pada Rangga agar segera masuk ke dalam kamarnya.
Dalam hati, ia juga merutuki kedua adiknya yang bahkan tidak terlihat batang hidungnya sedari tadi. Biasanya Rangga akan membangunkannya untuk sarapan, tetapi, pagi ini adik lelakinya itu tidak terlihat sama sekali.
Bima meletakkan baju yang ia pilih untuk Renata di sisi ranjang. Wajah Renata memerah saat terlihat sepasang underwear miliknya.
Melihat wajah Renata yang merah padam, Bima tersenyum.
"Tidak usah malu, aku bahkan sudah melihat isinya beberapa menit lalu." Bima tersenyum manis.
"Brengsek!"
"Suami kau bilang?" Renata berteriak marah. Kedua matanya menatap Bima yang tampak terkejut mendengar teriakannya.
"Setelah semua yang terjadi, sekarang kau bilang kau adalah suamiku? Apa kau lupa, kalau kau selalu mengatakan kalau aku ini adalah pembantumu dan kau adalah majikanku?"
"Renata, aku-"
"Dengar, Tuan Bima, aku memang mengizinkanmu datang ke rumah ini untuk menemuiku, tapi dengan satu syarat, jangan memaksaku untuk melakukan sesuatu yang kau inginkan!"
"Tuan memang masih suamiku, tapi hanya di atas kertas!"
Bima menatap tak percaya mendengar ucapan Renata. Semua kata-kata yang keluar dari mulut Renata adalah kata-kata yang pernah diucapkannya pada perempuan itu.
Memang benar, dulu, ia memang tidak pernah mengakui Renata sebagai istrinya. Bukan hanya itu, Bima juga sering mengatakan pada Renata kalau pernikahan mereka hanyalah pernikahan di atas kertas.
__ADS_1
Kini, saat perempuan itu membalikkan semua kata-katanya, kenapa sudut hatinya begitu sakit?
Renata menatap tajam ke arah Bima. Kedua tangannya terkepal erat.
Rasa hormatnya pada laki-laki itu hilang sudah. Rasa cintanya pada pria itu bahkan entah kemana perginya. Hatinya terlalu sakit, hingga mati rasa.
Laki-laki di depannya ini sudah menghancurkan hatinya hingga berkeping-keping. Saking hancurnya, jantung yang biasanya berdetak lebih cepat ketika berhadapan dengan Bima, kini sudah tidak dirasakannya lagi.
Entah kemana perginya.
"Maafkan aku. Aku salah. Tidak seharusnya aku memaksamu tadi. Maaf!" Bima menangkup kedua tangannya. Memohon pada Renata agar perempuan itu mau memaafkannya.
Bima sungguh menyesal karena sudah membuat perempuan di depannya ini kembali marah padanya.
"Maafkan aku."
"Dari kemarin kau juga meminta maaf padaku. Tapi nyatanya kau kembali melakukan kesalahan." Renata masih menatap penuh amarah.
"Maaf!"
"Maafkan aku. Aku janji, aku tidak akan membuatmu marah lagi."
"Maaf!"
"Aku membencimu, Tuan. Sangat membencimu!"
"Renata ...."
Bersambung ....
__ADS_1