MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 62 TIDAK PERCAYA


__ADS_3

Aldrian memperhatikan dua orang itu sambil mengepalkan tangannya, bayangan ketika Panji membuat Renata tidak sadarkan diri karena pengaruh obat kembali terlintas.


Sialan! Kenapa aku harus melihat pria itu di sini?


Aldrian mencoba tidak peduli, tetapi saat mengingat perempuan di sampingnya adalah perempuan yang ia kenal sebagai istri Bima, mau tidak mau, Aldrian pun merasa penasaran.


Pria itu kemudian mengikuti Panji dan Shinta. Usia Panji memang lebih muda dari Shinta, tetapi tidak akan menutup kemungkinan kalau pria itu mempunyai hubungan khusus bukan?


Aldrian mengikuti sepasang kekasih itu, sementara di dalam ruang rawat inap, Bima yang masih penasaran dengan ucapan Renata tentang kedatangan Shinta ke rumahnya, kembali bertanya.


Setelah Aldrian keluar dari ruangan itu, Bima mendekati ranjang Renata. Pria itu menatap Renata yang sedang berbicara dengan Bi Yati.


"Apa yang Shinta bicarakan saat datang ke rumahmu kemarin?"


Bi Yati menatap menantunya, kemudian pandangan beralih pada Renata.


Renata menghembuskan napas panjang. "Istrimu meminta kita segera bercerai. Dia bilang aku telah merebutmu dari dia." Renata menatap Bima dengan tatapan tak terbaca.


"Lalu, kau jawab apa?" Bima dengan tidak punya perasaan justru balik bertanya.


"Menurut Tuan, apa yang harus kujawab?" Renata menatap dengan kesal, sementara Bi Yati hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tidak mengerti dengan jalan pikiran Bima yang tidak peka sama sekali.


Tidak tahukah dia kalau apa yang dia ucapkan itu bisa saja menyakiti hati Renata?

__ADS_1


"Dia tidak terima saat aku mengatakan padanya kalau aku adalah istri pertama, jadi, yang seharusnya disebut merebut suami itu adalah dia kan? Kenapa harus aku?"


"Rena-"


"Biar dia tahu, seperti apa perempuan yang menjadi istri keduanya." Renata menatap Bima yang sudah terlihat marah. Sementara Bi Yati menggelengkan kepalanya.


"Asal Tuan tahu, perempuan pujaan Tuan itu bahkan hampir saja mencelakai ibuku." Renata mengepalkan tangannya saat mengingat perlakuan Shinta kemarin.


Perempuan itu mendorong sang ibu saat ibunya ikut melerai pertengkaran mereka.


"Shinta tidak mungkin berbuat jahat pada seseorang kalau tidak ada yang terlebih dahulu memulainya." Bima masih dengan tegas membela Shinta tanpa menyadari kalau apa yang dia lakukan itu membuat sudut hati Renata terasa sakit.


"Renata tidak melakukan apapun pada Nona Shinta, Bima. Justru sebaliknya, Nona Shintalah yang memancing keributan," jelas Bi Yati. Namun, Bima tidak menanggapi ucapan mertuanya itu.


"Dengar, Renata. Aku tahu siapa kamu dan siapa Shinta. Tidak mungkin Shinta-"


"Renata-"


"Kalau Tuan tidak mau, biar aku urus sendiri." Renata menatap tajam ke arah Bima yang terlihat kesal.


"Aku hanya ingin membela Shinta karena aku yakin ia tidak bersalah, kenapa kau harus kesal?" gerutu Bima. Namun, suaranya masih terdengar oleh Renata dan Bi Yati.


"Terserah Tuan mau bicara apa, karena walaupun yang aku katakan adalah kebenaran, aku yakin, Tuan tidak akan pernah percaya dengan apa yang aku katakan!"

__ADS_1


Bima terdiam mendengar ucapan Renata. Ego dan rasa cintanya terhadap Shinta membuat pria itu menutup telinga dengan apa yang sudah dikatakan oleh Renata. Wanita yang diam-diam sudah menyelinap ke hatinya tanpa dia sadari.


"Kau tunggu di sini, biar aku yang urus semuanya," ucap Bima.


"Aku ikut denganmu. Kita langsung pulang setelah kau membayar biaya rumah sakit agar kita tidak usah kembali ke sini." Bima menatap Renata. Dalam hati ia membenarkan ucapan perempuan itu.


Daripada nanti dia balik lagi ke kamar setelah mengurus kepulangan Renata, lebih baik perempuan itu langsung ikut dengannya.


Bima keluar ruangan. Sebentar kemudian, laki-laki itu datang sambil membawa kursi roda.


Bima mendekati Renata, kemudian mengangkat tubuh Renata. Laki-laki itu membantu Renata duduk di kursi roda. Sejenak, kedua netranya menatap istri pertamanya itu.


"Kamu benar-benar sudah tidak apa-apa?" Bima merapikan rambut Renata.


"kalau masih ada yang terasa sakit, lebih baik kau dirawat dulu di sini," ucap Bima lagi. Rasa khawatir kembali menyelinap saat melihat wajah pucat Renata.


"Aku mau pulang sekarang." Renata menundukkan kepalanya. Tatapan Bima dan perlakuan pria itu membuat kerja jantungnya bertambah.


Mereka bertiga kemudian keluar dari ruangan itu. Bima mendorong kursi roda yang diduduki oleh Renata diiringi oleh Bi Yati yang melangkah di sampingnya.


Sementara itu di tempat lain, Aldrian menutup mulutnya dengan wajah terkejut saat melihat dua insan yang sedari tadi dia ikuti kini sedang berciuman di sebelah mobil yang terparkir di depannya.


Bersambung ....

__ADS_1


Baca juga karya punya temen Author yuk!



__ADS_2