MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 81 AKU MENYESAL


__ADS_3

Renata merintih saat ia merasakan sakit di tubuh bagian belakangnya. Perempuan itu memegangi pinggangnya.


Damar yang sekarang berada di depan Renata terlihat sangat khawatir.


"Mbak Rena."


"Sakit, Dam. Sakit ...."


"Sebentar Mbak, aku panggil dokter." Damar beranjak memencet tombol darurat, kemudian langsung menelepon Rangga yang saat ini sedang menemani Devan makan siang sambil.


Devan sengaja mengajak Rangga makan siang bersama karena dokter tampan itu ingin membicarakan tentang keadaan Renata.


Damar menatap iba pada sang kakak. Remaja 18 tahun itu ikut mengusap pinggang sang kakak.


Beberapa menit kemudian seorang perawat datang bersamaan dengan Devan dan Rangga. Devan segera memeriksa Renata. Setelah diperiksa, Devan memberikan obat pada Renata.


Devan menatap Renata yang sekarang terlihat sedikit tenang karena pengaruh obat.


"Terus jaga dia. Kabari aku kalau terjadi sesuatu." Devan menepuk bahu Rangga."


"Baik, Dokter."

__ADS_1


***


Rangga dan Damar juga Aldrian, sedang menunggu Renata yang saat ini sedang melakukan pemeriksaan. Sementara Bima, pria itu juga duduk di kursi tunggu tidak jauh dari mereka.


Rangga dan adiknya tidak mengizinkan pria itu menemui Renata setelah mereka tahu yang sebenarnya.


Mereka sangat marah karena ibu mereka meninggal karena saat itu Bima mengabaikannya dan lebih memilih menolong perempuan yang kemarin datang ke kamar inap Renata.


Renata sedang menjalani pemeriksaan CT scane pada bagian tulang belakangnya.


Renata sangat terkejut saat menyadari kalau kedua kakinya tidak bisa digerakkan. Tubuh bagian belakangnya terasa sakit akibat kecelakaan itu.


Perempuan itu menangis dan dan sangat panik saat menyadari kalau setengah badannya tidak bisa bergerak.


Rangga dan Damar juga Aldrian ikut menitikkan air mata saat perempuan itu menangis. Mereka bertiga juga tidak bisa membayangkan seandainya Renata benar-benar lumpuh akibat kecelakaan itu.


Tidak jauh dari mereka, Bima duduk di kursi tunggu sambil menundukkan wajahnya. Bahunya bergetar karena menangis. Pria itu menangis saat melihat Renata menangis histeris.


Apa yang telah aku lakukan? Demi menolong perempuan pengkhianat itu, aku telah menyebabkan calon anakku dan juga ibu mertuaku meninggal dunia.


Bima menutup wajahnya. Laki-laki itu menangis menyesali yang terjadi. Menyesal karena telah membuat orang yang tidak bersalah menanggung akibat dari perbuatannya.

__ADS_1


Kini, hatinya kembali dihantui penyesalan yang mendalam saat melihat kondisi Renata.


Seandainya benar, kamu tidak bisa berjalan, aku pasti akan menyesal seumur hidup.


Bima masih menutup wajahnya. Laki-laki itu menangis.


Maafkan aku, Ren. Maaf!


Bima meratapi kebodohannya karena selama ini dia terlalu percaya pada Shinta. Rasa cintanya pada istri keduanya itu membutakan mata hatinya hingga dia tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.


Bagi Bima, Renata tetaplah bersalah. Oleh karena itu, saat sebelum kecelakaan terjadi, laki-laki tampan itu tidak mempercayai Renata.


Bahkan saat sang ibu mertua menjelaskan pun, Bima tetap keras kepala dan menganggap semua yang diucapkan perempuan paruh baya itu adalah kebohongan.


Apalagi, saat itu Bima melihat dengan mata kepala sendiri saat Renata seolah menarik tangan Shinta hingga akhirnya perempuan itu terjatuh.


Namun, karena posisi Renata tertutup oleh tubuh Shinta sebelum Shinta terjatuh, Bima salah paham pada Renata dan ibunya.


Maafkan aku, Ren. Aku benar-benar minta maaf.


Aku menyesal, sangat menyesal karena telah membuat kamu menderita selama ini.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2