
Bima membuka matanya saat merasakan usapan lembut di kepalanya. Netranya menatap Renata yang kini memejamkan mata sambil mengusap rambutnya.
Bima tersenyum. Senyum yang tak pernah ia perlihatkan sama sekali pada Renata. Kedua matanya kembali terpejam, menikmati rasa nyaman yang baru pertama kali ini ia rasakan saat bersama dengan Renata.
Biasanya, setiap bersama Renata dirinya selalu bertengkar dengan perempuan itu. Entah mengapa Bima selalu marah jika sudah bertemu dengan Renata.
Gadis itu sangat keras kepala, tidak ada satu pun keinginan Bima yang dituruti oleh Renata. Perempuan itu terus saja membantah, membuat Bima seringkali lepas kendali dan akhirnya berakhir dengan bertengkar dengan perempuan itu.
Kedekatan Renata dengan Aldrian adalah salah satu penyebab utama kenapa Bima sangat kesal pada Renata. Termasuk kejadian beberapa jam lalu saat Bima memergoki Renata sedang berpelukan dengan Aldrian.
Renata bisa begitu dekat dengan Aldrian, tetapi kenapa dia tidak mau dekat dengannya yang notabene adalah suaminya?
Mengingat Aldrian, perasaan Bima kembali kesal. Pria itu kemudian membuka matanya. Netranya bertabrakan dengan netra hitam milik Renata yang kini juga sedang menatapnya.
Sejenak Bima seolah terhipnotis. Pria itu tersenyum sambil menggenggam tangan Renata yang saat ini berada di kepalanya.
Sementara Renata tersadar dari lamunannya. Perempuan itu melepaskan tangannya dari genggaman Bima.
"Kau sudah sadar?"
"Menurut, Tuan?"
Bima menghela napas panjang.
Seperti biasanya, gadis itu senang sekali menguji kesabarannya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa kau tiba-tiba pingsan?" Bima mencoba berbicara lembut.
"Perasaan, saat aku datang, kau sedang baik-baik saja. Kau bahkan sedang berpelukan dengan Aldrian."
Renata berdecak sebal. Kenapa pria di depannya ini selalu mengatakan hal buruk tentang dirinya?
Tidak bisakah dia berpikir yang baik tentangnya sekali saja?
Sebelum Bima datang ke rumahnya, Renata memang sedang berpelukan dengan Aldrian, tetapi harusnya Bima bisa membedakan. Toh, Aldrian hanya merangkul bahunya saja, bukan memeluk seperti seorang kekasih.
"Kenapa Tuan selalu saja berpikiran jelek tentang aku dan Aldrian?"
"Siapapun akan berpikiran jelek, saat melihatmu dalam keadaan seperti itu. Berpelukan dengan seorang pria yang jelas-jelas bukan suamimu, Renata."
Renata mengalihkan pandangannya dari Bima. Perempuan cantik yang kini berwajah pucat itu menghela napas panjang.
"Aku hanya tidak suka kalau kau terlalu dekat dengan Aldrian. Apa aku salah?" Tanpa diduga oleh Renata, Bima tiba-tiba melingkarkan tangannya, kemudian memeluk dirinya.
"Kau bisa memelukku jika kau mau. Kau bisa mengatakan apa pun masalahmu padaku, lalu, kenapa harus dia?" bisik Bima.
Laki-laki itu mengecup lembut kening Renata.
Renata masih memejamkan matanya. Mencoba untuk tidak peduli dengan perlakuan Bima. Namun, tak urung jantungnya berdetak dengan cepat mendapat perlakuan seperti itu dari Bima.
Hal itu membuat Renata semakin kesal, karena sesakit apa pun dirinya, tetapi rasa cinta terhadap pria itu tidak juga pudar.
__ADS_1
"Ren, bisakah kita mulai dari awal? Cabut gugatan cerai itu dan kita bisa hidup bersama seperti-"
"Jangan mengada-ada, Tuan. Aku tidak bisa hidup dengan orang yang tidak pernah mencintaiku. Apalagi, laki-laki itu bahkan sudah memilih perempuan lain untuk menjadi pendamping hidupnya."
"Rena-"
"Tuan mencintai Nona Shinta. Tuan juga sudah menikah dengannya dan hidup bahagia bersamanya. Lalu, untuk apa Tuan terus mempertahankan aku?" Renata menatap Bima yang saat ini juga menatapnya.
"Tuan jangan egois. Aku juga ingin bahagia seperti Tuan, karena itu aku mohon-" Renata tak bisa melanjutkan ucapannya karena pria di depannya itu langsung membungkam bibirnya dengan ciuman.
Bima menghentikan aksinya saat Renata langsung menggigit bibirnya. Pria itu menatap Renata dengan frustasi.
"Aku tidak ingin bercerai denganmu, aku tidak mau memberikanmu pada laki-laki lain, kenapa kau tidak mengerti juga?"
"Kamu egois!"
"Iya. Aku memang egois! Aku-"
"Jika Tuan mengatakan semua ini di depan Nona Shinta, apa Tuan berani?"
"Aku-"
"Jangan sampai Nona Shinta kembali datang ke rumah dan melabrakku seperti kemarin. Dia sangat marah karena sampai saat ini kita belum bercerai. Dia bahkan mengancam akan mencelakai aku dan ibuku kalau aku tidak segera bercerai denganmu!"
Bersambung ....
__ADS_1
Sambil nunggu update, baca dulu karya punya temen Author yuk! Nggak kalah seru loh ....