
Renata menarik tangannya yang digenggam oleh Bima. Perempuan itu membuka matanya dan menatap Bima penuh kebencian.
Wajah tampan penuh air mata di depannya itu terlihat terkejut.
"Ren ... maaf! Aku tidak bermaksud mengganggumu. Aku-"
"Pergi!"
"Ren-"
"Pergi!" Renata menatap tajam ke arah pria itu. Bima terlihat menghapus air matanya dengan kedua tangannya.
"Maafkan aku karena aku sudah-"
"Pergi!"
"Renata, aku mohon, izinkan aku bicara sebentar. Aku-"
"Aku bilang pergi!" teriak Renata dengan marah. Hatinya terasa sakit saat melihat pria di depannya itu.
Bayangan saat sebelum kecelakaan kembali terlintas. Ia sangat ingat bagaimana pria itu memarahinya dan juga sang ibu. Pria itu langsung menyalahkannya saat melihat perempuan tercintanya terjatuh.
Seandainya saja Bima mau mendengarkan penjelasan dari ibunya, Renata yakin, perempuan yang melahirkannya itu tidak akan mengejarnya hingga ke jalanan.
Seandainya saja Bima mau bersimpati sedikit saja pada sang ibu yang berteriak memanggil dirinya ....
Renata memejamkan mata saat bayangan tubuh Bi Yati yang terlempar setelah dihantam oleh mobil yang melaju kencang ke arahnya.
__ADS_1
Perempuan itu mengepalkan kedua tangannya. Wajah pucatnya memerah saat amarah mulai menguasainya.
"Renata aku mohon, izinkan aku bicara sebentar denganmu. Aku ingin meminta maaf atas kesalahan yang aku-"
"Pergilah! Aku tidak mau mendengar penjelasan apapun darimu!"
"Ren-"
"Tuan, apa Tuan tidak mengerti apa yang aku ucapkan? Aku ingin Tuan cepat pergi dari sini!" Renata kembali berteriak marah.
"Aku hanya ingin bicara denganmu sebentar, Ren, aku ingin minta maaf. Aku-"
"Aku tidak ingin bertemu denganmu, aku juga tidak ingin bicara padamu, apa kau tidak mengerti?" Renata berteriak dengan kesal. Wajahnya terlihat meringis kesakitan hingga membuat pria di depannya merasa khawatir.
"Renata kamu tidak apa-apa?" Bima bermaksud menyentuh Renata, tetapi dengan kasar tangan Renata menepisnya.
"Renata." Bima terlihat khawatir. Tangannya langsung memencet tombol darurat di sebelah ranjang.
Renata menatap Bima dengan kedua mata berkaca-kaca.
Saking kesalnya, perempuan itu sampai menggeretakkan giginya.
Hati Bima seketika serasa diiris-iris. Laki-laki itu tersenyum getir menatap Renata. Selama bersama Renata, Bima memang tidak pernah akur. Perempuan itu seringkali mengajaknya bertengkar, apalagi setelah ia memutuskan untuk menikah dengan Shinta.
Awalnya, Renata masih menurut padanya. Wanita cantik itu bahkan pernah mengatakan akan tetap berjuang di sisinya demi memenuhi wasiat terakhir ibunya.
Namun, semua berubah setelah ia menikah dengan Shinta. Renata berubah keras kepala dan selalu membantah semua keinginannya. Bahkan Renata dengan lantang bersikeras ingin bercerai dengannya.
__ADS_1
Awalnya, Bima hanya menganggap ucapan Renata hanya angin lalu, tetapi ternyata Bima salah, karena tidak lama setelah itu, ia justru mendapatkan surat panggilan sidang dari pengadilan.
Namun, semenjak Bima mendengar ucapan dari Aldrian kalau Renata mencintainya, ia langsung bisa mencerna kenapa selama ini Renata selalu marah padanya.
Renata merasa sakit hati karena ia mencintai Shinta. Perempuan itu merasa tidak tahan bersamanya karena ia lebih memilih Shinta dan menikahinya.
Bima baru sadar, kalau semua perbuatannya pada Renata selama ini sangat melukai hati perempuan itu tanpa ia sadari.
Rasa cintanya terhadap Shinta, membuatnya menutup mata pada perempuan lain yang jelas-jelas mencintainya dengan tulus. Tanpa Bima sadari, dari awal pernikahannya dengan Renata, pria itu sudah mematahkan hati perempuan itu karena semua perbuatannya.
"Aku membencimu, Tuan. Aku sangat membencimu!"
"Renata ...."
"Tuan, aku mohon, tinggalkan aku sendiri. Aku benar-benar tidak ingin melihatmu." Air mata Renata mengalir deras di pipinya.
"Renata, aku tahu kamu sangat membenciku sekarang. Aku minta maaf. Aku minta maaf karena aku telah menyebabkan calon anak kita dan juga ibumu meninggal dunia. Aku-"
"Aku tidak bisa memaafkanmu."
"Ren-"
"Setelah semua yang terjadi, apa kau pikir aku masih bisa memaafkanmu?"
.
Bersambung ....
__ADS_1