MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 97 MEMAAFKAN ITU MUDAH


__ADS_3

Sejak kejadian pagi itu, Renata tidak lagi memperbolehkan Bima datang ke rumahnya. Perempuan itu benar-benar marah dan tidak mengizinkan laki-laki itu kembali mendekatinya.


Renata menyuruh Rangga dan Damar menjaga rumah mereka dari Bima. Perempuan itu benar-benar tidak ingin bertemu lagi dengan pria itu.


Sementara Bima, pria itu setiap hari datang ke rumah Renata. Meskipun Rangga dan Damar berkali-kali mengusirnya bahkan memukulnya, laki-laki itu tidak pantang menyerah.


Bima tetap berusaha mencari cara agar dia bisa bertemu dengan Renata. Setiap hari, laki-laki itu bahkan terus berteriak memanggil Renata agar Renata mau memaafkannya.


Namun, Renata tetap pada pendiriannya. Perempuan itu sudah memutuskan untuk melupakan semua kenangan masa lalunya bersama Bima, termasuk perasaan cintanya terhadap pria itu.


Devan datang ke rumah Renata pagi-pagi sekali setelah mendapat telepon dari perempuan itu. Baru ini adalah jadwal terapi Renata. Tidak biasanya, Renata ingin ia menjemputnya ke rumah.


Langkah Devan terhenti saat ia melihat Renata sedang berdebat dengan Bima.


"Ren, aku mohon, beri aku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku padamu. Aku minta maaf karena selama ini aku sudah membuatmu menderita. Maafkan aku, aku mohon ...." Bima menangkup kedua tangannya di depan dada. Laki-laki itu sudah tidak peduli lagi dengan harga dirinya di depan Renata.


Kedua matanya sudah basah oleh air mata. Semenjak kejadian kecelakaan yang menimpa Renata dan ibunya, Bima berubah menjadi pria yang cengeng karena seringkali menangis di depan Renata.


"Aku mohon ... izinkan aku merawatmu sampai sembuh agar aku bisa membayar kesalahan yang aku perbuat padamu juga ibumu." Bima sudah terisak sambil menatap perempuan yang kini duduk di depannya di atas kursi roda.


Melihat pemandangan itu, Bima merasakan sesak di dadanya. Hatinya bagai ditusuk ribuan jarum melihat keadaan Renata. Apalagi, saat Bima mendengar penjelasan Devan kalau kemungkinan Renata bisa berjalan lagi sangat kecil.


Bima semakin terisak menatap Renata yang masih bergeming menatapnya tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.


"Maaf! Maafkan aku. Aku akan melakukan apapun agar kau mau memaafkan aku. Aku bahkan rela bersujud di kakimu seandainya itu memang bisa membuatmu memaafkan aku."


"Renata, aku mohon ...."


Bima menatap penuh harap pada Renata.


"Apa Tuan sudah selesai bicara?"

__ADS_1


"Renata-"


"Memaafkan itu mudah. Melupakan rasa sakit yang kau berikan itu yang susah."


"Hatiku sakit saat melihatmu."


"Ren ...."


Bima menatap perempuan cantik di depannya dengan kedua mata berkaca-kaca. Kedua pipinya bahkan sudah basah oleh air mata.


"Aku rela melakukan apapun asal kamu bisa memaafkan aku. Aku bahkan bersedia berlutut di kakimu, merendahkan diriku di hadapanmu seandainya itu bisa membuatmu memaafkan semua kesalahan yang pernah aku perbuat," ulang Bima sambil terisak.


"Meskipun kau bersimpuh di hadapanku dan ribuan kali meminta maaf padaku, tetap saja, itu tidak akan bisa mengembalikan nyawa ibuku juga anakku!"


"Renata ...."


"Apa menurutmu, semua kata maafmu itu bisa membuatku kembali berjalan?" Renata menatap Bima dengan rasa sakit di hatinya. Air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya turun begitu saja membasahi wajah cantiknya.


"Maafkan aku. Aku tahu kesalahanku begitu besar padamu. Tapi aku mohon ... maafkan aku. Beri aku kesempatan kedua agar aku bisa menebus semua kesalahanku, Ren, aku mohon ...."


"Meskipun aku memaafkanmu, luka yang kau berikan padaku tidak akan hilang dengan mudah."


Bima semakin terisak mendengar ucapan Renata. Laki-laki itu memeluk kaki Renata.


"Maaf! Maafkan aku ...."


Renata menahan rasa sesak di dadanya. Hatinya berdenyut sakit. Bima adalah laki-laki pertama yang menjadi penghuni hatinya. Susah payah ia mencoba melupakan pria itu.


"Maafkan aku." Suara Bima kembali terdengar. Pria itu mendongak menatapnya.


Renata menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Aku akan memaafkanmu setelah kita resmi bercerai."


"Renata." Bima menatap Renata tak percaya.


Sementara Renata menatap Devan yang saat ini berdiri di depan pintu. Dokter tampan itu sedari tadi memperhatikan dirinya juga Bima.


"Devan, kita pergi sekarang."


"Devan?" Bima menoleh ke belakang.


Devan melangkah mendekati Renata. Bukan hanya Devan. Rangga dan Damar yang sedari tadi bersembunyi di kamar mengintip perdebatan Renata dan Bima pun mendekati Renata.


Damar menarik dua koper besar. Sementara Rangga mengangkat kursi roda yang diduduki oleh Renata setelah Devan mengangkat tubuh Renata dan menggendongnya.


"Mau kemana kalian?" Bima tampak terkejut melihat mereka bertiga membawa Renata.


"Mbak Renata mau melakukan terapi," jawab Rangga sebelum dia keluar dari rumah.


"Melakukan terapi? Tapi kenapa kalian membawa koper?"


"Mbak Renata butuh ketenangan biar dia nggak stres."


"Apa maksud kamu Rangga?" Bima mengejar Rangga yang ingin masuk ke dalam mobil. Sementara Renata sudah berada di dalam mobil bersama Devan. Sedangkan Damar tampak sedang memasukkan koper ke dalam mobil.


"Tuan, kalau Tuan mengganggu Mbak Renata terus, yang ada Mbak Renata itu tidak akan sembuh-sembuh karena stres."


"Apa maksud kamu Rangga?"


"Mbak Renata butuh ketenangan agar dia bisa cepat sembuh. Sebaiknya Tuan jangan mengganggunya." Rangga menatap tajam ke arah Bima yang tampak terkejut.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2