MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 71 KENYATAAN


__ADS_3

Bima menghajar Panji tanpa ampun, membuat semua orang yang berada di sekitar mereka berteriak, termasuk Wilda yang tak menyangka kalau Bima ada di sana, mendengar pembicaraannya dengan Panji.


Beberapa petugas keamanan mendekati mereka berdua. Mereka melerai perkelahian kedua pria yang sedang sama-sama terbakar emosi itu.


"Brengsek! Berani-beraninya kalian menipuku!" Bima kembali berteriak dan kembali bersiap memukul Panji. Namun kedua petugas keamanan itu dengan sigap memegangi tangan Bima kemungkinan menarik laki-laki itu keluar, begitupun dengan Panji.


"Selesaikan masalah kalian di luar, bukan di sini, ini rumah sakit!" tegas sang petugas dengan marah. Sementara Bima mendengus kesal sambil mengepalkan tangannya.


Niat hatinya ingin menyelesaikan masalahnya dengan Shinta secara baik-baik batal sudah, apalagi saat ia mendengar sendiri pembicaraan Panji dan sang ibu mertua.


Panji bahkan dengan begitu yakin mengatakan pada Wilda kalau anak yang dikandung Shinta adalah anaknya.


Bima kemudian mengingat setiap kali dirinya berhubungan dengan Shinta. Memang benar yang dikatakan oleh Panji, setiap kali ia bermain dengan Shinta, perempuan itu selalu mengingatkannya untuk memakai pengaman.


Namun, beberapa bulan setelah itu, Bima tidak lagi memakainya karena Shinta selalu menolaknya. Setelahnya, Bima tidak ingat kapannya, Shinta tiba-tiba mengatakan kalau dirinya saat itu sedang hamil.


*Sial! Berarti selama ini aku sudah ditipu mentah-mentah oleh mereka berdua.


Brengsek*!


Bima menatap tajam ke arah Panji yang sama-sama di gelandang oleh petugas keamanan bertubuh kekar itu.

__ADS_1


Mereka berdua kini sudah berada di luar rumah sakit.


"Kalau kalian masih mau berantem, cari tempat lain, bukan di sini. Kalian tahu kan, ini rumah sakit?" Sang petugas keamanan itu kembali mengingatkan. Sebelum akhirnya mereka pergi meninggalkan Bima dan Panji.


Kedua orang itu sama-sama saling menatap tajam, penuh amarah.


"Sejak kapan kau berhubungan dengan Shinta?" Bima menatap Panji dengan sorot mata penuh permusuhan. Sementara Panji tersenyum mengejek sambil menatap Bima yang terlihat menahan emosinya.


"Apa kau benar-benar ingin tahu, Tuan Abimanyu?" Panji menatap Bima sambil tersenyum kecil.


"Shinta sudah menggunakan jasaku bahkan saat aku masih duduk di bangku SMA."


"Apa?" Bima sangat terkejut mendengar pengakuan Panji.


"Brengsek!" Bima memukul wajah Panji dengan keras, membuat sudut bibir Panji langsung berdarah.


Pria itu tersenyum smirk.


"Kenapa? Kau kaget karena wanita pujaanmu itu ternyata tidaklah sebaik yang kau bayangkan?"


"Shinta adalah wanita bebas sebelum terikat denganmu. Kami bahkan sudah berkali-kali tinggal bersama di apartemen miliknya. Setiap kali Shinta pulang dari pemotretan, kami selalu menghabiskan malam panas bersama." Panji mengatakan semua rahasia yang selama ini disimpan rapat oleh Shinta di belakang Bima.

__ADS_1


Bima menarik kerah baju Panji.


"Katakan padaku, anak siapa yang ada dalam kandungan Shinta, apa dia benar-benar anakmu?" Bima menatap tajam penuh amarah.


"Kami sudah sering melakukannya tanpa pengaman, karena Shinta lebih suka kalau kita melakukannya tanpa memakai itu. Lebih puas katanya." Panji tertawa di ujung ucapannya.


Sebuah pukulan kembali mendarat di wajah pria muda itu.


"Brengsek!"


Bima kembali melayangkan tinjunya, tetapi kali ini pria itu menghindar. Panji memegang tangan Bima yang bersiap menghajarnya.


"Hubungan kami sudah lama terjalin, sebelum akhirnya dia memilihmu untuk menjadi pendampingmu."


"Tapi, satu hal yang perlu kau ketahui, Bima. Shinta tidak pernah mencintaimu, dia hanya mencintai uangmu, karena dengan uang yang kau berikan, dia bisa memenuhi semua kebutuhan dan keinginannya." Panji menatap Bima yang tampak terkejut.


"Apalagi, semenjak dia hamil, hampir seluruh pekerjaannya di ambil alih oleh model lain. Saat ini Shinta hanya bergantung pada kemewahan yang kau berikan karena uang hasil jerih payahnya sebagai model dia pakai untuk membayarku setiap kali dia ingin aku memuaskan hasratnya di tempat tidur." Panji tertawa puas saat melihat reaksi Bima yang tampak terkejut.


.


Bersambung ....

__ADS_1


Jangan lupa baca juga karya temen Author yang satu ini.



__ADS_2