MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 40 SETENGAH SADAR


__ADS_3

"Hah? Siapa yang ribut sama sopir taksi online?"


"Tadi pagi aku lihat kamu marah-marah pas habis keluar dari mobil-"


"Oh ... iya, tadi pagi aku kesal karena ternyata sopir itu bawa orang lain di jok belakang," potong Renata asal.


Namun, dalam hati ia tertawa karena Panji menganggap kalau mobil Bima adalah taksi online.


"Apa kamu sedang ada masalah?" Panji kembali menatap wajah cantik Renata.


Renata menggeleng sambil meminum minuman bersoda yang diberikan oleh Panji.


"Aku hanya lelah. Pengunjung rame banget tadi."


"Biasa, kalau malam minggu kan emang rame." Panji masih menatap Renata sambil mengulas senyum di wajah tampannya.


Wajah Panji memang tampan. Pria itu paling tampan dan menjadi idola di antara teman-teman pegawai lainnya.


"Ren, gue pulang duluan ya, mumpung ada tumpangan gratis." Melan tersenyum manis sambil menunjuk ke arah Danu.


Begitupun Rindi yang ikut beranjak dari duduknya.


"Beresin dulu sampahnya, baru kalian boleh pulang!" seru Panji, membuat kelima orang yang sudah mau pergi itu tersenyum, kemudian segera membersihkan sampah sisa-sisa makanan yang baru saja mereka makan ramai-ramai.


"Lo jadi pulang sama Aldrian, Ren?" Panji yang tadi mendengar pembicaraan Renata dan teman-temannya merasa penasaran.


Renata yang mendadak merasa pusing hanya mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kamu janjian sama Pak Aldrian?"


"Hah?" Renata memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.


Sementara Panji tersenyum smirk.


"Pulang sama aku saja. Pak Aldrian sepertinya masih sibuk dengan Pak Kenzo." Panji meraih pundak Renata. Sementara Renata menyipitkan matanya.


Kedua tangannya masih memegangi kepalanya.


"Ada apa?" Panji memegang tangan Renata dan mendongakkan wajah cantik itu ke arahnya.


Wajah Renata terlihat merona. Kedua matanya sesekali terpejam.


"Kepalaku pusing banget, Panji." lirih Renata.


Panji tersenyum samar menatap wajah cantik Renata.


Sebentar lagi, kau akan takluk di hadapanku, Renata.


Panji memapah tubuh Renata. Ia meraih tas milik Renata juga ponsel gadis itu. Pria itu tersenyum smirk, kemudian membawa Renata menuju ke dalam taksi yang sudah sedari tadi menunggunya.


Aldrian, Kenzo dan Alea baru saja keluar dari kafe. Kenzo yang berjalan beriringan dengan Alea tak sengaja melihat Panji yang membawa Renata.


Pria itu sudah di depan mobil taksi berwarna biru yang berhenti tepat di depan kafe. Meskipun keadaan gelap dan terhalang mobil Aldrian yang terparkir tak jauh dari kafe, tetapi Kenzo masih bisa mengenali wajah Panji dan Renata yang tersorot lampu-lampu jalanan dan juga lampu mobil yang berseliweran di jalan raya.


"Aldrian." Aldrian yang sedang mencoba menghubungi Renata menatap ke arah Kenzo.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Kau lihat di sana?" Aldrian mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjukkan oleh Kenzo.


"Bukankah itu Panji?" Alea yang penasaran ikut menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh suaminya.


"Iya. Itu Panji dan Renata," jawab Kenzo.


"Renata?" Aldrian kemudian kembali memperhatikan ke arah dua orang yang terlihat seperti sedang berpelukan di depan sebuah mobil. Tangan sang pria bahkan sudah membuka pintu mobil itu.


"Cepat kejar mereka, Aldrian. Panji bukan orang baik. Pasti terjadi sesuatu pada Renata. Kalau tidak-"


"Aku akan ke sana!" Aldrian segera berlari mendengar ucapan Kenzo. Instingnya sebagai lelaki penakluk wanita langsung bekerja.


Panji sudah membawa masuk Renata ke dalam mobil saat Aldrian sampai. Aldrian langsung menghadang mobil berwarna biru itu saat sang sopir sudah menyalakan mesin mobil dan baru saja akan melajukan mobilnya.


"Berhenti!" Aldrian merentangkan tangannya. Kedua matanya menyipit karena lampu mobil yang langsung mengarah padanya.


Aldrian bergegas mengetuk pintu mobil dengan keras.


"Minggir!" Sang sopir yang merasa ketakutan melihat amarah Aldrian, langsung meminggirkan mobilnya.


Sementara, di jok penumpang, Panji mengepalkan tangannya saat mengetahui siapa yang menghalangi mobil taksi yang ditumpanginya bersama Renata.


Sialan! Kenapa tiba-tiba dia sudah berada di sini?


"Buka!"

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2