
Renata membuka matanya dengan perlahan. Wajahnya terlihat meringis kesakitan. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya yang terluka saat Renata mencoba menggerakkan badannya.
Aldrian yang sedari tadi berada di sisi Renata langsung memegang tangan perempuan itu. Sementara Bima, saat ini pria itu sedang menemui Shinta untuk menyelesaikan masalah mereka.
Aldrian menyuruh pria itu untuk menemui Shinta agar masalahnya dengan perempuan itu segera selesai. Namun, Aldrian juga memperingatkan Bima untuk berhati-hati karena kemungkinan besar, keluarga Shinta pasti tidak akan mudah menerima keputusan Bima.
Tadinya Aldrian tidak ingin ikut campur, tetapi, demi kenyamanan Renata, ia terpaksa membantu Bima. Aldrian tidak mau sesuatu kembali menimpa Renata. Aldrian sangat yakin, Shinta pun tidak akan tinggal diam seandainya Bima tiba-tiba memutuskan hubungannya dengan perempuan itu begitu saja.
Dalam hati ia merutuki Bima karena semua penderitaan yang dialami oleh Renata semua berawal dari pria bodoh itu.
"A-Al ...." Bibir Renata terbuka memanggil Aldrian.
Aldrian dengan cepat mengambil air minum saat melihat Renata mulai mencoba berbicara padanya.
Aldrian menyuapi air minum dengan sendok karena Renata kesusahan minum air itu menggunakan sedotan.
Hati Aldrian bagai teriris melihat Renata yang biasanya ceria itu terlihat tidak berdaya. Perempuan cantik itu kini terlihat begitu menyedihkan karena tubuhnya penuh dengan luka.
Renata memejamkan matanya, bibirnya mendesis, sementara wajahnya meringis merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
Perempuan itu tampaknya belum sadar sepenuhnya. Renata kembali membuka matanya. Pandangannya berkeliling ke seluruh ruangan.
Netranya kemudian menatap Aldrian yang kini sedang menatapnya. Tangan lelaki itu mengusap punggung tangannya.
"Kamu berada di rumah sakit." Aldrian seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Renata.
__ADS_1
Sementara, Renata mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi.
"Kamu mengalami kecelakaan-"
"I-ibu. Ma-mana i-bu." Suara Renata terdengar lirih. Dalam kepalanya terlintas potongan-potongan kejadian saat sebelum terjadinya kecelakaan.
"I-ibu ...."
"Tenanglah! Ibu Yati masih dirawat di ruang ICU."
Air mata Renata langsung jatuh ke pipinya. Perempuan itu menangis saat mengingat ibunya. Bayangan saat perempuan yang melahirkannya itu tertabrak mobil hingga tubuhnya terlempar beberapa meter kembali terlintas.
Rasa sakit menjalar di sekujur tubuhnya. Bukan hanya tubuhnya, tetapi juga hatinya. Aldrian melingkarkan tangannya, memeluk perempuan itu. Hatinya ikut diremas-remas saat melihat Renata begitu menderita.
"Sabar, Ren, ini ujian buat kamu. Aku yakin, kamu pasti kuat melewatinya. Aku akan selalu ada di sampingmu sampai kau kembali pulih seperti semula."
"Tenanglah! Semua akan baik-baik saja. Kau hanya perlu beristirahat agar cepat pulih," ucap Aldrian mencoba menghibur Renata. Padahal, ia sendiri tidak yakin, apalagi saat melihat keadaan Bi Yati.
Perempuan paruh baya itu terluka parah.
Suara ketukan pintu membuat Aldrian melepaskan pelukannya. Laki-laki itu menoleh ke arah pintu dan mendapati Devan dengan seragam dokternya tersenyum ke arahnya.
"Aku ingin memeriksa pasien." Aldrian tersenyum kemudian menyingkir dari hadapan Renata.
"Kapan dia sadar?" Devan tampak terkejut sambil menatap Aldrian.
__ADS_1
"Dia baru saja sadar, maaf, aku lupa memberitahumu." Saking senangnya melihat Renata membuka mata dan berbicara padanya, membuat Aldrian lupa pesan Devan.
Devan menghela napas panjang sambil menggelengkan kepalanya. Sementara itu, Renata mengusap perutnya saat melihat Devan mendekatinya.
"Dok-ter, bagaimana de-ngan dia?" lirih Renata saat Devan mulai memeriksanya.
Mendengar ucapan Renata, Devan menghentikan tangannya yang sedang memeriksa Renata menggunakan stetoskop.
Netra cokelatnya menatap Renata dengan tatapan iba. Hatinya berdenyut nyeri saat membayangkan bagaimana hancurnya hati Renata saat mengetahui kalau dia mengalami keguguran.
"Dok ...." Renata menatap Devan dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Dokter ... bagaimana dengan dia?"
Devan mendekati Renata. Pria itu menatap Renata dengan kedua mata berembun. Renata menggeleng pelan.
"Jangan bilang ...."
"Maaf! Kami sudah berusaha semampu kami, tapi, ternyata Tuhan berkehendak lain," ucap Devan pelan. Pria itu mendekati Renata kemudian memeluk Renata yang langsung menangis histeris.
"Tidak! Tidak mungkin ... tidaakk!" Renata menangis sekuat tenaga. Merasakan rasa sakit di hatinya. Sekujur tubuhnya terasa sakit akibat luka yang dideritanya. Namun, hatinya lebih sakit saat mendapati kenyataan kalau calon buah hatinya sudah tiada bahkan sebelum terlahir ke dunia.
"Tidaaakkk ...!"
Bersambung ....
__ADS_1
Baca juga karya temen otor yang nggak kalah keren yuk!