MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 109 MEMAAFKAN BUKAN BERARTI KEMBALI KE MASA LALU


__ADS_3

"Apapun alasannya, kita sudah bercerai, Tuan. Aku bukan istrimu lagi!" Renata berteriak kesal. Ia menatap laki-laki yang sudah lama tidak pernah ditemuinya itu.


Setelah sekian lama, ternyata Tuan belum berubah juga.


Bima menghela napas panjang. Kali ini ia akan mencoba bersikap sabar. Bima tidak ingin berdebat dengan Renata. Pertemuan ini adalah saat yang sudah lama ia tunggu-tunggu.


Selama berbulan-bulan Bima menahan diri dan hanya bisa melihat Renata dadu balik pagar villa karena Aldrian melarangnya masuk. Kini, ia tidak mungkin menyia-nyiakan pertemuannya dengan Renata hanya dengan berdebat dan bertengkar.


"Kamu benar. Kita memang sudah bercerai. Tapi aku tidak pernah menginginkan perceraian ini. Kamu yang memaksaku untuk bercerai." Bima mengungkapkan isi hatinya.


Memang benar, saat itu ia memang tidak ingin bercerai dengan Renata. Bukan karena Bima sudah mengetahui kebusukan Renata, tetapi dia tidak ingin bercerai dengan perempuan itu karena Bima takut, setelah Renata bercerai darinya, Renata akan jatuh ke pelukan Aldrian.


Bima tidak suka jika Renata terlalu dekat dengan Aldrian. Laki-laki itu sangat kesal saat melihat Renata dengan Aldrian sementara saat bersama dirinya, Renata begitu keras kepala menolak dirinya.


Bima tidak menyadari kalau kekesalannya terhadap Aldrian saat itu adalah bentuk rasa cemburunya pada Renata.


Cintanya terhadap Renata yang menyelinap masuk ke hatinya tanpa ia sadari membuatnya selalu naik darah ketika melihat Aldrian dan Renata dekat.

__ADS_1


"Maafkan aku." Bima menatap Renata yang saat ini masih menatapnya.


"Aku sudah berjanji pada Tuan kalau aku akan memaafkan Tuan setelah kita resmi bercerai. Aku sudah memaafkan Tuan, meskipun rasanya sangat sulit, tetapi setiap hari aku berusaha untuk memaafkan semua kesalahan yang telah Tuan lakukan."


"Renata ...." Kedua mata Bima membola. Ia sungguh tidak menyangka kalau Renata ternyata sudah memaafkannya.


"Benarkah apa yang kamu katakan, Ren?" Bima menatap Renata dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Tapi Tuan jangan senang dulu. Aku memang memaafkan Tuan, tapi bukan berarti aku tidak lagi membenci Tuan."


"Apa maksudmu, Ren? Kamu memaafkan aku tapi kamu tetap membenci-"


"Renata-"


"Masa lalu kita sudah berakhir. Aku sudah melupakan semuanya, tetapi rasa sakit ini kembali terasa saat aku bertemu kembali dengan Tuan."


"Renata ...." Kali ini Bima sudah menangis. Mendengar ucapan Renata membuat sudut hatinya terasa nyeri. Mendengar perempuan itu memaafkannya, membuat hati Bima sangat senang, tetapi saat mendengar perempuan itu mengatakan tidak bisa kembali mengulang masa lalu membuat hati Bima yang awalnya melayang serasa kembali dijatuhkan ke dasar jurang.

__ADS_1


Bima memang ingin sekali mendapatkan maaf dari Renata, tetapi bukan hanya kata maaf, melainkan Bima juga ingin mereka bisa kembali seperti dulu.


Bima ingin menebus semua kesalahan yang pernah ia perbuat pada Renata. Pria itu ingin Renata kembali memberikan kesempatan agar mereka kembali bersama karena saat ini Bima sangat mencintai Renata.


Laki-laki itu ingin menunjukkan pada Renata kalau saat ini dia sangat mencintai Renata dan akan memperlakukan perempuan itu dengan baik. Akan tetapi ....


"Jangan menemuiku lagi." Bima menggeleng dengan air mata membasahi wajah tampannya.


"Beri kesempatan padaku untuk kembali bersamamu, Ren. Aku akan membuktikan padamu kalau cintaku sangat besar untukmu. Berikan waktu padaku untuk menebus waktu yang terbuang sia-sia karena dulu aku telah menyia-nyiakan kamu, Ren, aku mohon ...."


Renata menatap Bima yang terlihat begitu menyedihkan. Namun, dalam hati ia seolah mati rasa. Semua luka yang pernah ia rasakan karena pria itu, membuatnya tidak lagi bisa menerima Bima.


Bahkan debaran dadanya yang biasanya menggila, kini tak lagi dirasakannya.


"Aku memaafkan Tuan, tapi bukan berarti aku akan kembali lagi bersama Tuan, karena rasa cinta yang pernah aku miliki untuk Tuan, sudah tidak tersisa lagi di sini." Renata menepuk dadanya pelan. Sementara Bima kembali terisak.


Lagi-lagi, Bima merasakan dadanya terasa sesak, jantungnya seolah diremas-remas, dan jangan hatinya yang serasa hancur berkeping-keping.

__ADS_1


Waktu setahun perpisahan mereka ternyata tidak mampu membuat Renata melupakan semua yang telah terjadi di antara mereka.


Bersambung ....


__ADS_2