MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 106 PERASAAN DEVAN


__ADS_3

Setiap hari Devan selalu memberikan semangat pada Renata agar perempuan itu tidak merasa putus asa dan terus berjuang agar bisa kembali berjalan.


Berkali-kali Renata menyerah. Namun, saat melihat beberapa dokter yang selalu semangat memberinya dukungan dan membantu Renata agar sembuh, semangat Renata kembali bangkit.


Devan juga mendatangkan beberapa dokter ahli untuk memeriksa Renata. Mereka memang mengatakan kalau hanya ada kemungkinan kecil untuk Renata sembuh. Akan tetapi, saat para dokter itu melihat semangat Devan agar perempuan itu bisa sembuh, akhirnya mereka pun bekerja sama agar mereka bisa menangani Renata sebaik mungkin hingga perempuan itu bisa kembali berjalan.


Beberapa cara dilakukan oleh para dokter agar Renata bisa segera pulih. Seperti saat ini, Renata yang tadinya tidak bisa menggerakkan kakinya, kini sedikit demi sedikit sudah mulai bisa digerakkan.


Melihat perubahan itu beberapa dokter yang tadinya merasa pesimis kembali bersemangat.


"Dokter Devan benar-benar hebat. Lihatlah, Dok, sudah ada kemajuan. Kakinya sudah bisa bergerak." Salah satu dokter yang selama ini bersama Devan dengan penuh kesabaran merawat Renata memeluk Devan dan salah satu teman dokternya yang lain.


"Ini adalah awal yang bagus. Setelah setahun lebih kita berusaha, akhirnya Renata bisa menggerakkan kakinya." Dokter bernama Riko itu juga sangat bahagia saat Dokter Jeremy memeluknya.


Sementara kedua mata Renata berkaca-kaca. Perempuan itu sungguh berterima kasih pada para dokter muda yang kini masih dengan sabar menemaninya hingga pulih.


Dua dokter itu adalah dokter yang Devan pilih setelah beberapa dokter ahli yang pernah dibawa Devan memilih menyerah.


"Terima kasih." Ucapan terima kasih Renata membuat ketiga dokter itu menatap ke arah Renata.


"Ini adalah awal yang bagus buat kamu, Ren. Mulai sekarang, kamu harus bertambah semangat. Kami akan membantumu sampai kau sembuh." Dokter Jeremy yang usianya terpaut tiga tahun dari Devan itu tersenyum menatap Renata.


"Terima kasih, Dokter." Jeremy menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kamu harus sering berlatih dan kembali semangat. Aku yakin, sebentar lagi kau pasti akan pulih dan bisa kembali berjalan." Riko menambahkan.


"Terima kasih, Dokter Riko."


"Sama-sama. Sekarang sebaiknya kamu beristirahat. Besok kita mulai lagi latihannya." Renata mengangguk sambil tersenyum.


"Dev, bawa Renata ke kamarnya. Dia harus beristirahat."


Devan mengangguk mendengar ucapan Riko. Pria itu kemudian melangkah ke dalam rumah sambil mendorong kursi roda Renata.


"Akhirnya perjuangan kita selama ini tidak sia-sia. Tadinya aku hampir menyerah, tapi saat melihat semangat Dokter Devan, aku merasa tidak enak jika harus berhenti."


"Sama. Aku juga hampir menyerah, tapi akhirnya keajaiban datang. Aku sungguh sangat senang melihat Renata bisa menggerakkan kakinya."


Mereka berdua saling berpandangan sebelum akhirnya melangkah bersama-sama menuju ke dalam villa.


Devan membantu membaringkan tubuh Renata ke atas ranjang. Pria itu memijat kaki Renata sebentar.


"Kamu pasti lelah."


Renata hanya menganggukkan kepalanya sambil menatap dokter tampan itu. Terbiasa bersama Devan, membuat Renata merasa nyaman.


"Terima kasih, Dokter. Terima kasih, Dev ...." Renata meraih tangan Devan dan menggenggamnya erat.

__ADS_1


"Aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu masih terus bersemangat dan mau berjuang."


"Itu karena kamu, Dev. Setelah ini, apa aku benar-benar akan sembuh Dev?"


"Tentu saja. Kamu hanya perlu berjuang sedikit lagi agar kamu bisa segera pulih."


Kedua netra mereka bertemu dengan tangan yang masih saling menggenggam.


"Dev ...."


"Hmm ...." Devan memindai wajah cantik di depannya itu. Menyimpan wajah itu di dalam memorinya.


"Setelah aku sembuh, apa kau akan meninggalkan aku?" Renata menatap kedua mata Devan yang seolah menghipnotisnya.


"Apa yang kamu katakan?" Tangan Devan yang satunya bergerak membelai rambut Renata. Sementara pandangannya tidak beralih sedikit pun dari Renata.


"A-aku ... aku hanya terbiasa denganmu selama ini, aku pasti akan-"


"Aku tidak akan meninggalkanmu. Bahkan jika kau mengizinkan, aku ingin selalu berada di sampingmu." Suara Devan terdengar merdu di telinga Renata.


Perempuan itu menatap Devan yang saat ini menatapnya dengan lekat.


"Aku mencintaimu, Ren. Aku jatuh cinta padamu bahkan jauh sebelum kamu menikah dengan dia."

__ADS_1


"De- Devan ...."


Bersambung ....


__ADS_2