
"Siapa bilang aku sudah menikah? Memangnya bulan madu itu hanya untuk orang yang sudah menikah saja?
"Hah?"
Devan menatap Aldrian dengan tatapan tak percaya.
"Tutup mulutmu, Dev. Makanya, kamu itu jangan perjaka terus. Biar tahu bagaimana nikmatnya-"
"Berhenti bicara. Pergilah! Sana pergi, cepat!" usir Devan saat mendengar ucapan Aldrian. Dia sudah menebak, kalau sebentar lagi sahabatnya itu pasti akan meledeknya.
Aldrian tertawa melihat kekesalan Devan. Pria itu selalu merasa kesal jika ia dan Bima meledeknya. Di antara mereka bertiga sudah jelas dipastikan kalau hanya Devanlah yang masih perjaka.
"Kau harus mengakhirinya, biar kau bisa merasakan-"
"Diam, Aldrian! Paling tidak, aku tidak murahan seperti kalian!" Devan menatap sengit pada Aldrian.
"Siapa bilang aku murahan? Aku hanya melakukannya dengan Vanya. Tidak dengan perempuan lain."
"Iya, karena sekarang hanya perempuan itu yang membuatmu merasa puas. Sebelum bertemu dengan Vanya, kau pasti sudah berpetualang dengan bermacam-macam perempuan di luar sana bukan?" Devan terlihat kesal, sementara Aldrian semakin tertawa.
Apa yang dikatakan Devan memang benar. Sebelum bertemu dengan Vanya, dia adalah seorang Cassanova. Namun, selama beberapa tahun ini, ia hanya menghabiskan malam dan menyalurkan hasratnya hanya dengan Vanya.
Perempuan itu telah mengubah dunianya. Ah! Mengingat perempuan itu, Aldrian jadi ingin cepat-cepat pulang.
"Sepertinya aku harus cepat-cepat menikahinya, Dev."
__ADS_1
"Baguslah, kalau kau sadar! Perempuan itu juga butuh status. Kau tidak bisa membiarkan dia terus berada di sampingmu tanpa status yang jelas." Devan menatap sahabatnya itu.
"Iya, aku harus segera menikahinya sebelum perutnya mulai membesar."
"Apa? Maksud kamu, Vanya hamil?" seru Devan kaget.
"Turunkan suaramu, Dev! Kau ini, seperti orang yang belum pernah mendengar perempuan hamil saja." Aldrian menatap kesal.
"Kamu dan Vanya belum menikah, Bodoh! Kenapa kau menghamili dia?"
"Kami bercinta hampir setiap hari. Jelas saja dia hamil. Masa begitu saja kamu nggak ngerti. Dasar dokter bodoh!"
Devan menepuk kepala Aldrian.
"Pulang sana! Bicara denganmu hanya akan membuatku bertambah gila."
"Lama-lama kau benar-benar akan menjadi gila kalau terus memendam perasaan kamu pada Renata, Dev." Kali ini Aldrian bicara serius.
Sementara Devan langsung terdiam. Ucapan Aldrian tepat ke sasaran. Devan memang merasa sebentar lagi dirinya akan menjadi gila karena tidak bisa melupakan Renata.
"Bawa Renata berobat ke luar negeri agar dia cepat pulih." Melihat Devan terdiam, Aldrian mengalihkan pembicaraan.
"Kalau Renata mau, sudah lama aku membawanya berobat ke sana." Laki-laki itu menyandarkan kepalanya.
"Aku sudah bicara dengan Renata, dia mau."
__ADS_1
"Mau apa?"
"Dia mau berobat keluar negeri asalkan kau mau menemaninya di sana."
"A-apa?" Devan menatap Aldrian dengan tatapan tak percaya.
"Renata mau pergi berobat ke sana asal dia pergi denganmu dan tinggal bersama kamu di sana." Devan semakin terkejut mendengar ucapan Aldrian.
"Aku akan mengurus semuanya, termasuk biaya pengobatan Renata. Kamu hanya tinggal menyebutkan ke mana kau akan pergi dan di mana kalian akan tinggal."
"Aku ...."
"Aku serahkan Renata padamu. Aku menyayangi Renata, tetapi ternyata aku hanya mencintai Vanya. Sekarang aku sudah yakin dengan perasaanku, karena itu, aku ingin kau menjaganya dengan baik."
"Tapi, Al, Bima-"
"Aku yakin, suatu saat pria kepala batu itu akan mengerti, kalau tidak semua yang dia inginkan di dunia ini harus menjadi miliknya. Saat ini Bima memang mencintai Renata, tapi Renata sudah tidak mencintainya lagi. Aku hanya ingin Renata bahagia, Dev."
"Renata pantas bahagia. Dia harus sembuh, Renata harus segera pulih agar dia bisa bahagia." Aldrian menatap Devan dengan serius.
"Kalau Renata memang setuju, aku akan membawanya berobat ke luar negeri. Renata hanya perlu berjuang sedikit lagi agar dia bisa kembali pulih."
"Aku percaya padamu, Dev."
"Terima kasih, Al."
__ADS_1
"Kalau kau benar-benar mencintainya, berjuanglah! Jangan hanya menunggu takdir mendekatimu."
Bersambung ....