MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 89 KEMARAHAN ALDRIAN


__ADS_3

"Rangga!"


"Damar!"


Renata berteriak memanggil kedua adiknya. Biasanya dua orang laki-laki kesayangannya itu menjaganya dari Bima, tetapi kenapa sekarang mereka tidak ada?


"Aku mengunci adik kesayanganmu itu di dalam kamar, agar mereka tidak menggangu kita."


"Ap-apa? Apa maksudmu, Tuan?" Kedua mata Renata kembali melotot. Sementara Bima tersenyum manis.


"Aku hanya ingin membawamu jalan-jalan keluar, tetapi mereka berdua melarangku."


"Tuan!"


Bima menurunkan tubuh Renata di kursi mobil. Laki-laki itu membantu Renata memakai sabuk pengaman. Dia bahkan tidak memedulikan Renata yang terus memberontak.


"Lepaskan aku!"


"Dengar, Renata! Aku hanya ingin membawamu ke suatu tempat yang aku yakin kamu pasti menyukainya."


"Aku tidak menyukai apa pun. Apalagi pergi bersamamu!" Renata berteriak marah.


Sungguh! Semakin lama, dirinya semakin membenci pria yang pernah menjadi impiannya itu.


Kenapa pria itu terus memaksanya? Kenapa dia tidak mengerti kalau aku benar-benar tidak ingin melihat wajahnya?


"Aku tidak ingin pergi denganmu! Aku hanya ingin di rumah saja bersama adik-adikku!"


"Aku-"


Ucapan Renata terhenti saat bibir Bima membungkam mulutnya. Bima mencium Renata karena perempuan itu tidak berhenti berteriak.


"Brengsek, kau, Abimanyu!" Renata berteriak penuh amarah saat Bima melepaskan ciumannya.


Sementara Bima tersentak kaget mendengar Renata memakinya. Pria itu kemudian menatap Renata dengan tatapan bersalah.


"Maaf!"


"Dasar brengsek! Aku tidak ingin pergi denganmu, tapi kenapa kau memaksaku untuk pergi?" teriak Renata. Namun, detik berikutnya perempuan itu memegangi kepalanya yang terasa sakit.

__ADS_1


"Renata-"


"Aku tidak ingin pergi denganmu, aku mohon ... tidakkah kau mengerti ucapanku?"


Renata kembali meringis kesakitan. Saat rasa sakit kembali menyerang kepalanya.


"Renata." Bima terlihat panik saat melihat wajah Renata yang terlihat pucat.


"Ya, Tuhan ... apa yang sudah aku lakukan?"


"Renata!" Bima menangkup wajah Renata yang kini basah oleh air mata.


"Maafkan aku." Bima mendekap tubuh Renata sebentar.


"Kita ke rumah sakit sekarang!" Bima membenarkan posisi duduk Renata, kemudian menutup pintu mobil.


Belum sempat Bima masuk ke dalam mobilnya. Sebuah mobil berhenti di depan pintu gerbang rumah Renata.


Aldrian dan Devan keluar dari mobil dengan wajah penuh amarah.


"Apa-apaan kau, Bima?"


Kedua matanya membola saat melihat Renata meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya. Wajahnya terlihat pucat.


"Renata!"


"Dokter ...."


Devan memeluk Renata.


"Sakit ...."


Pria itu dengan cepat melepaskan seatbelt kemudian membawa Renata keluar dari mobil Bima.


"Bertahanlah! Kita akan segera ke rumah sakit." Wajah Devan berubah panik.


Aldrian yang melihat Devan terlihat panik, melepaskan cengkeraman tangannya pada Bima.


"Ada apa, Dev?"

__ADS_1


"Renata kesakitan di bagian kepalanya. Aku takut terjadi sesuatu padanya!" Devan menjawab dengan panik.


Aldrian membuka pintu mobil Devan. Sementara Devan langsung mendudukkan tubuh Renata di kursi penumpang.


"Kau urus pria brengsek itu!" Devan menatap Bima dengan tajam.


"Sialan, kau Bima! Tidak tahukah kau, kalau Renata masih dalam proses penyembuhan?"


"Brengsek!"


Devan bergegas masuk ke dalam mobil setelah memaki Bima. Devan kemudian melajukan mobilnya ke rumah sakit.


Aldrian menatap Bima yang kini terdiam setelah mendengar teriakan Devan.


"Apa sekarang kau puas? Sudah berkali-kali aku bilang, jangan ganggu Renata dulu, tapi kenapa kau tidak pernah mengerti?"


"Apa kau ingin melihat Renata menyusul ibunya baru kau merasa puas?!"


"Aldrian!"


Bima berteriak marah mendengar ucapan Aldrian.


"Kenapa? Bukankah itu benar?"


"Kalau kau menginginkan Renata hidup dan kembali pulih, kau pasti akan berpikir ribuan kali untuk membawa Renata pergi. Apalagi sampai memaksanya. Apa kau sudah gila, Bima? Kau bisa saja membuat Renata celaka!"


"Dasar brengsek!" Sebuah bogeman mentah mendarat di wajah Bima. Amarah Aldrian memuncak. Saudara sepupu sialannya itu memang benar-benar keterlaluan.


Entah dengan apa lagi dia harus memberitahu Bima kalau Renata tidak ingin bertemu dengannya saat ini.


"Apa kau tidak sadar, kalau yang kau lakukan itu sangat membahayakan Renata?" Aldrian menatap Bima yang saat ini mengusap darah yang keluar dari bibirnya yang terluka akibat pukulan Aldrian.


"Kau sudah dewasa, Bima. Bukan anak kecil yang semua kemauanmu harus selalu dituruti. Tidak semua yang kau inginkan harus kau dapatkan!"


Bima masih terdiam sambil mengepalkan tangannya.


"Sekarang aku tanya padamu. Seandainya kau berada di posisi Renata, apa yang kau lakukan saat melihat orang yang telah menyebabkan kematian ibu dan anakmu berada di hadapanmu?"


Aldrian berteriak dengan penuh kemarahan. Sementara Bima tersentak kaget mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Aldrian.

__ADS_1


__ADS_2