MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 101 KEMARAHAN SHINTA


__ADS_3

Seorang perempuan cantik turun dari mobil, kemudian bergegas mengejar Bima yang saat itu baru saja keluar dari dalam rumah.


Pagi itu Bima sudah bersiap ke kantor, ketika tiba-tiba perempuan yang sangat dikenalnya itu datang dengan raut wajah penuh amarah.


"Apa-apaan kamu, Bima? Kenapa kau tidak memberikan bagian sepeserpun dari harta gono-gini?" Shinta berteriak marah. Perempuan itu tidak menyangka kalau Bima benar-benar tidak memberinya bagian apa pun dari aset miliknya setelah mereka bercerai.


"Harta gono-gini apa yang kau maksud, Shinta? Memangnya selama ini kau sudah melakukan apa sampai kau menuntut harta gono-gini? Apa kau lupa, kalau semua kemewahan yang selama ini kau dapatkan itu berasal dariku? Dari semua hartaku?" Suara Bima tak kalah meninggi.


"Kemewahan yang kudapatkan adalah kewajibanmu menafkahi aku karena aku adalah istrimu, Bima! Tapi harta gono-gini adalah pembagian harta kita️ setelah menikah!" Shinta kembali berteriak. Sementara Bima tertawa terbahak-bahak.


"Memangnya apa yang kau punya setelah menikah denganku? Apa ada uangmu yang keluar untuk keperluan rumah ini?"


Shinta terdiam mendengar ucapan Bima, karena semua yang dikatakan oleh Bima itu adalah benar.


"Setiap hari kerjaan kamu itu hanya menghabiskan uang yang kuberikan padamu. Bukan hanya itu, kau bahkan memakai uang yang kuberikan untuk membayar pria-pria sewaanmu!" Bima mengepalkan tangannya saat ia mengingat kembali ucapan Panji saat itu.


Shinta sangat terkejut mendengar ucapan Bima.


"Kenapa? Itu benar bukan? Uang penghasilanmu sebagai model juga telah kau habiskan untuk berfoya-foya, dan sekarang, kau dengan tidak tahu malu ingin meminta harta gono-gini?"


"Kau meminta rumah ini?" Bima menunjuk ke arah rumah mewah yang selama bertahun-tahun ia tinggali.

__ADS_1


"Rumah ini adalah rumah keluarga Abimanyu. Rumah peninggalan ayah dan ibuku. Rumah ini tidak ada hubungannya sama sekali denganmu!"


"Tapi aku tetap berhak karena aku adalah istrimu!"


"Sebentar lagi kau adalah mantan istriku! Kau tidak berhak atas semua hartaku karena kau sendiri yang telah mengkhianati pernikahan kita!"


"Aku tidak akan memberikan sepeserpun uangku padamu. Selama menjadi istriku, kau sudah banyak menghabiskan uangku bukan? Jadi, aku tidak perlu lagi memberikanmu uang!"


Bima menatap tajam ke arah Shinta, kemudian dia bergegas meninggalkan Shinta. Namun, baru beberapa langkah, teriakan Shinta membuatnya berhenti. Amarahnya naik seketika saat dia mendengar perempuan itu menghina wanita yang saat ini sangat dirindukannya.


"Kalau aku tidak mendapatkan apa-apa, berarti kau juga tidak boleh memberikan apa pun pada pembantu sialan itu!"


Dua kartu debit yang setiap bulan Bima isi seperlunya. Bima hanya memberikan uang pada Renata sesuai keinginan Bima sendiri. Uang yang ia berikan pada Renata bahkan tidak ada setengahnya dari uang yang ia berikan pada Shinta.


Mengingat itu, Bima mengepalkan tangannya saat rasa sakit serasa menghujam jantungnya. Renata bahkan meninggalkan dua kartu debit itu saat dirinya pergi meninggalkan rumahnya bersama kedua adiknya.


"Apa kau tahu, Shinta? Renata bahkan tidak pernah meminta uang sepeserpun dariku kecuali uang bulanan yang aku berikan padanya untuk keperluan bulanan rumah besar ini!" Bima menunjuk ke arah rumah megahnya.


"Perempuan itu tidak seperti dirimu yang hobinya berfoya-foya dengan teman-teman sosialitamu dan menghabiskan uang!"


"Tentu saja dia berbeda denganku, Bima. Apa kau lupa, dia itu hanya seorang pembantu di rumah ini? Ibumu saja yang buta karena dengan begitu bodoh menikahkan kamu dengan pembantu sialan itu!"

__ADS_1


"Jaga mulutmu, Shinta!" Bima berteriak marah saat mendengar makian Shinta terhadap Renata dan ibunya.


"Kenapa? Bukankah itu benar?"


"Dia hanya seorang pembantu, sedangkan aku adalah seorang model. Tentu saja kehidupan kami sangat berbeda. Jadi wajar, kalau dia tidak butuh uang banyak untuk merawat dirinya. Dia juga tidak perlu uang banyak untuk bergaya, karena kehidupan dia hanya seputar dapur dan menyapu lantai!"


"Brengsek!"


"Kau benar-benar sudah keterlaluan, Shinta!" Bima berteriak marah. Pria itu bermaksud mendekati Shinta untuk meluapkan amarahnya.


Namun, suara dering ponsel membuatnya mengurungkan niat. Bima lupa, kalau saat ini dia harus segera berangkat ke kantor karena sudah ada janji dengan beberapa rekan bisnisnya.


"Mang Dadang ...."


"Seret perempuan ini keluar!"


"Bima ...." Shinta menatap kaget ke arah Bima.


"Mang Dadang ...!"


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2