MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 36 KAPAN KAU MEMBELI RUMAH ITU?


__ADS_3

Setelah selesai memasak di rumah besar Abimanyu, Renata segera pergi dari rumah itu tanpa menghiraukan Bima. Pria itu berusaha meminta maaf, tetapi Renata mengabaikannya sama sekali.


Renata sudah benar-benar berniat membentengi hatinya agar tidak goyah dan luluh meskipun saat ini Bima terus berusaha mendekatinya.


Entah mengapa pria itu sedikit berubah. Bukan berubah lebih baik, tetapi berubah semakin menyebalkan.


Saat awal-awal pernikahan, Renata sangat berharap kalau Bima akan bersikap baik padanya. Namun, belakangan ini, Renata justru lebih suka dengan sikap Bima yang pemarah dan egois.


Bukannya apa-apa, Renata hanya takut kembali berharap jika tiba-tiba Bima berubah baik dan perhatian padanya.


***


Beberapa hari berlalu. Sesuai keinginan Bima, Renata hanya datang untuk memasak di rumah besar itu karena sudah ada dua orang asisten rumah tangga yang bertugas membersihkan rumah besar itu.


"Aku akan mengantarmu," ucap Bima. Pagi itu, setelah Shinta berpamitan pergi untuk berbelanja bersama teman-temannya, Bima langsung menarik tangan Renata dan membawa perempuan itu naik ke mobil.


Renata ingin menolak, tetapi percuma saja karena laki-laki egois itu sudah dapat dipastikan tidak akan pernah mau menerima penolakan.


Mobil melaju di jalanan ibukota yang lumayan padat pagi itu. Mereka berdua saling terdiam tanpa ada yang berniat memulai pembicaraan.

__ADS_1


Bima yang tampak serius mengemudi, sesekali melirik Renata dengan ekor matanya. Gadis itu menatap lurus ke depan tanpa menoleh ke arahnya sama sekali.


Pernikahan mereka sudah berjalan beberapa bulan, tetapi hubungan mereka tidak ada kemajuan. Bahkan Bima merasa kalau saat ini Renata sengaja terus menjauh darinya.


Awalnya Bima memang tidak peduli dan tidak ingin mengetahui apa pun tentang Renata. Akan tetapi, entah mengapa semakin hari pikirannya selalu tertuju pada gadis itu.


"Kapan kau membeli rumah itu?" Bima akhirnya memulai pembicaraan. Kemarin malam, dia menyuruh Mang Udin untuk mengikuti Renata.


Bima sungguh terkejut saat mendengar ucapan Mang Udin kalau ternyata Renata tinggal di sebuah rumah yang ternyata adalah rumah miliknya sendiri.


"Dari mana kau mendapatkan uang untuk membeli rumah itu?" lanjut Bima tanpa memperhatikan wajah Renata yang terlihat sangat terkejut mendengar ucapannya.


"Tuan mengikuti saya?"


Renata berdecak sebal mendengar ucapan pria disebelahnya itu.


"Dari mana kau mendapatkan uang untuk membeli rumah itu? Tidak mungkin dari hasil kerja di kafe bukan?" Bima melirik wajah cantik Renata yang berubah cemberut dengan ekor matanya.


Sebenarnya tanpa Bima bertanya pun, pria itu sudah tahu kalau Renata mengambil uang yang dia berikan untuk membeli rumah. Waktu itu, Bima pikir uang dengan nominal tinggi itu Renata berikan untuk kepentingan keluarganya. Namun, ternyata dugaan Bima salah.

__ADS_1


Dia tidak menyangka kalau Renata mengambil uang ratusan juta itu untuk membeli rumah.


"Saya tidak mungkin tinggal bersama Tuan dan istri muda Tuan di rumah besar itu, karena itu saya mengambil uang yang Tuan berikan pada saya untuk membeli rumah."


Bima menghela napas panjang saat lagi-lagi kalimat itu yang keluar dari mulut Renata.


'Tidak ingin tinggal dengan istri muda.'


'Tidak ingin tinggal dengan madu.


'Tidak ingin satu rumah dengan istri baru.'


Kalimat-kalimat itu sering sekali keluar dari mulut Renata ketika berdebat dengan Bima.


"Saya akan mengembalikan rumah itu pada Tuan kalau saya sudah bercerai dengan Tuan."


"Aduh!"


Renata meringis saat kepalanya menghantam kaca mobil karena Bima mendadak menghentikan mobilnya dengan tiba-tiba setelah mendengar ucapannya.

__ADS_1


"Apa-apaan Tuan ini? Kenapa berhenti mendadak?"


Bersambung ....


__ADS_2