
"Jadi ini alasanmu ingin segera bercerai denganku, Renata? Agar kau bisa bersamanya?" Bima menatap Renata dengan tajam.
"Semuanya tidak seperti yang Tuan lihat." Renata menjawab santai.
"Kau jelas-jelas sedang berpelukan dengannya. Memangnya apa lagi yang harus kulihat?" Bima menatap tajam ke arah wanita yang beberapa hari ini membuatnya hampir gila karena tidak bisa menemuinya sama sekali.
Semenjak Shinta mengetahui pernikahannya dengan Renata, perempuan itu selalu mengawasinya agar dia tidak bisa menemui Renata.
Namun, bukan hanya itu saja alasan sebenarnya. Perempuan cantik ini tidak bisa dihubungi dan ditemuinya sama sekali. Kini, giliran Bima punya kesempatan menemui istri pertamanya itu, ia justru dibuat marah karena melihat Renata sedang berpelukan dengan Aldrian.
"Aku hanya menenangkan Renata. Dia butuh teman untuk berbagi."
"Teman? Teman mesra maksud kamu? Teman yang bahkan bisa kau ajak menemanimu di atas ran-"
"Renata tidak seperti kita. Jangan samakan dia seperti perempuan-perempuan lain di luar sana!" Adam mengingatkan. Netranya melirik Renata yang wajahnya sudah memerah karena marah.
Bima benar-benar bodoh! Kenapa dia tidak bisa bersikap baik sedikit saja pada Renata?
Aldrian menatap Bima dengan tajam.
"Mungkin kau benar, tapi melihat kemesraan kalian tadi, aku tidak yakin kalau kau tidak membawanya ke-"
"Bima!"
Aldrian mengepalkan tangannya.
"Kalau kau waras, kau pasti bisa membedakan mana yang benar dan mana yang tidak. Aku memang brengsek, tapi kau sangat tahu kalau aku hanya setia pada satu wanita. Aku tidak akan menyentuh wanita lain tanpa alasan yang jelas," ucap Aldrian membuka mata Bima.
__ADS_1
Aldrian sangat yakin, kalau saat ini Bima sedang cemburu. Pria itu sudah memiliki perasaan terhadap Renata, hanya saja, laki-laki bodoh itu tidak menyadarinya.
"Aku dan Renata sudah berteman cukup lama. Bahkan sebelum kau menikah dengannya, aku sudah berteman baik dengannya. Jadi-"
"Jadi ... maksudmu kau bisa memeluk Renata kapanpun karena dia adalah temanmu?" Bima menatap Aldrian dan Renata bergantian.
"Aldrian, apa kau pikir aku ini bodoh?"
"Memangnya kau baru sadar kalau kau ini bodoh, Tuan?"
"Renata!"
"Bagaimanapun, statusmu sekarang masih istriku, Renata. Kau tidak bisa seenaknya saja berdua bersama pria lain di belakangku!" teriak Bima.
Aldrian menatap tak percaya sambil tertawa kecil, sementara Renata mencibir ke arah pria itu.
Namun, di detik berikutnya, Renata merasa pusing. Perutnya terasa mual. Perempuan itu segera masuk ke dalam rumah.
Sementara Bi Yati yang sedari mengintip pembicaraan tiga orang itu langsung ikut mendekati Renata.
"Kamu kenapa?"
Bi Yati mendekati Renata yang tadi terburu-buru masuk ke kamar mandi.
"Entahlah, Bu. Perutku rasanya mual sekali."
Bi Yati memapah tubuh Renata. Wajah perempuan itu terlihat pucat. Namun, belum sampai mereka di pintu kamar mandi, tubuh Renata terjatuh tak sadarkan diri.
__ADS_1
Teriakan BI Yati membuat kedua pria yang sedari tadi menunggu Renata dengan gelisah langsung bergegas menghampiri Bi Yati.
"Renata!" Aldrian dan Bima berteriak bersamaan.
"Cepat angkat dia dan bawa ke rumah sakit!" teriak Aldrian.
Sementara dirinya menarik tangan Bi Yati agar segera keluar dari sana.
"Naik ke mobilku!" Aldrian berlari ke arah mobil dan membantu membukakan pintu mobil. Sementara Bi Yati berlari kecil setelah mengunci rumah.
Perempuan paruh baya itu naik ke dalam mobil Aldrian. Wajahnya terlihat panik.
"Cepat jalan!" teriak Bima dengan panik.
"Pintu gerbangnya ditutup dulu, Tuan."
"Biarkan saja, Bi, Renata lebih penting dari apapun!" seru Aldrian panik.
Sementara Bima memeluk tubuh Renata. Pria itu sungguh panik melihat wajah Renata yang terlihat sangat pucat.
"Bertahanlah! Aku mohon ...."
Bima mendekap erat tubuh Renata yang saat ini sedang berada di pangkuannya.
Dalam hati ia berdoa, semoga perempuan dalam pelukannya itu baik-baik saja.
Bersambung ....
__ADS_1
Mampir di karya temen Author juga yuk!