
Aldrian turun dari mobil mewahnya. Laki-laki berparas tampan dan penuh kharisma itu melangkah mendekati Bima yang masih menatap kepergian Renata.
Aldrian tersenyum saat melihat senyum tipis tersungging di bibir Bima.
"Hai, Bim. Kelihatannya sekarang kau mulai akrab dengan istrimu." Aldrian menepuk bahu Bima yang masih terpaku menatap Renata.
Bima tersentak kaget. Senyumnya pudar seketika saat melihat pria di hadapannya. Sorot matanya memancarkan aura permusuhan, sementara Aldrian tersenyum simpul.
"Aku senang lihat kamu lebih dekat dengan Renata, tapi sayangnya aku tidak suka kau menikah lagi dengan perempuan lain."
"Itu bukan urusanmu, Aldrian!"
"Ibumu pasti sangat kecewa melihat kamu menikah lagi dan tidak memenuhi janjimu pada Renata," lanjut Aldrian.
Sementara Bima langsung terdiam.
"Kau sangat tahu kalau Tante Erika sangat menyayangi kamu, dia bahkan rela melakukan apa pun demi kamu, Bim. Aku yakin, ibu kamu pasti punya alasan kuat kenapa dia tidak mau kalau kamu menikahi Shinta dan menjodohkanmu dengan Renata."
__ADS_1
Aldrian menghela napas panjang saat melihat Bima hanya terdiam tanpa menanggapi ucapannya.
"Semoga saja kamu tidak menyesal dengan pilihan kamu." Aldrian masih terdiam. Tatapannya tajam menyorot ke arah Aldrian. Entah kenapa, Bima begitu membenci pria di hadapannya itu.
"Lepaskan Renata jika kamu hanya bisa menyakitinya." Ucapan terakhir Aldrian membuat kedua tangan Bima terkepal.
Aldrian segera berlalu dari hadapan Bima karena merasa percuma saja berbicara dengan pria keras kepala itu. Aldrian yakin, saat ini Bima pasti tidak akan mempan dikasih nasihat apa pun.
Pria itu sangat keras kepala. Dia baru akan mengakui kesalahan seandainya prediksi orang yang menasihatinya itu benar.
"Apa kau yang membawa Renata ke sini dan meninggalkan rumah?" Suara Bima menghentikan langkah Aldrian.
"Aku dan Renata menikah karena terpaksa, jadi tidak mungkin Renata tidak terima kalau aku menikah lagi. Toh, dia tidak mencintaiku, kenapa dia harus keberatan kalau aku menikah lagi?"
Kini gantian Aldrian yang mengepalkan kedua tangannya. Kata-kata yang keluar dari mulut Bima membuatnya terusik.
"Dasar laki-laki bodoh!" Aldrian menatap Bima dengan marah. Sepupunya itu sepertinya memang harus dihajar habis-habisan dulu, baru dia mengerti.
__ADS_1
"Mencintaimu atau tidak, tetap saja dia adalah istrimu, Bima. Kamu tidak bisa seenaknya saja menikah lagi tanpa seizin dia!" Suara Aldrian meninggi.
"Renata menyetujui aku menikah dengan Shinta. Lagipula Renata juga sangat tahu kalau aku sangat mencintai Shinta sebelum pernikahanku dengannya terjadi. Lalu masalahnya di mana?"
"Masalahnya karena kamu terlalu bodoh dan tidak peka!"
Mendengar Aldrian kembali menyebutnya bodoh, emosi Bima naik. Tangannya bergerak cepat memegang kerah baju Aldrian.
"Kau tidak berhak ikut campur urusanku dengan Renata, Aldrian!"
"Selama kau hanya bisa menyakiti perempuan itu, aku akan selalu ikut campur, Bima. Biar bagaimanapun, Renata juga berhak bahagia. Dia masih muda, masa depannya masih panjang. Lepaskan dia seandainya kau memang tidak bisa membuatnya bahagia!" Aldrian menatap tajam wajah Bima.
Sepupunya ini memang benar-benar pria menyebalkan.
"Jangan sampai kau menyesal saat Renata pergi karena sudah tidak tahan dengan sikapmu," lanjut Aldrian.
Pria itu melepaskan cengkeraman tangan Bima pada bajunya. Aldrian hendak melangkah, tetapi lagi-lagi ucapan Bima menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Apa saat ini kau juga tinggal bersamanya?"
Bersambung ....