
Setelah beberapa hari terus membujuk Aldrian agar menunjukkan di mana Renata, akhirnya sampailah Bima di sini. Di suatu tempat yang sangat asri dan sejuk.
Ternyata Devan membawa Renata ke luar kota. Laki-laki itu membawa Renata tinggal di sebuah villa di kota Bogor.
Saat sampai di pintu gerbang, Aldrian menghentikan mobilnya. Pria itu kemudian turun diikuti oleh Bima yang sengaja Aldrian suruh untuk tidak membawa mobilnya.
Aldrian meminta Bima ikut menumpang di mobilnya.
"Kenapa kita tidak masuk saja ke dalam?"
"Apa kau lupa janjimu padaku?" Aldrian menatap tajam pada Bima.
"Kalau kau bermaksud mengingkari janjimu, lebih baik kita pulang sekarang," lanjut Aldrian, membuat Bima langsung mencekal tangan Aldrian yang bermaksud kembali masuk ke dalam mobil.
"Oke. Aku akan menurutimu. Aku janji tidak akan macam-macam." Bima menatap Aldrian. Meyakinkan saudara sepupunya itu kalau dirinya tidak akan macam-macam.
Ia hanya ingin melihat Renata. Meskipun tidak bertemu langsung dengan Renata, paling tidak, Bima bisa melihat perempuan yang dicintainya itu dari jauh.
"Sebentar lagi Renata keluar untuk melakukan terapi. Kita bisa melihat dia dari di sini. Tidak perlu masuk ke dalam. Kau sangat tahu kalau Renata masih tidak ingin bertemu denganmu bukan?"
Bima mengangguk mendengar ucapan Aldrian. Demi bisa melihat Renata, Bima pun menuruti Aldrian.
__ADS_1
Mereka berdua berdiri di dekat pintu gerbang. Mengintip di sela-sela pagar.
Terlihat Devan keluar dari rumah itu bersama Renata. Dokter tampan itu mendorong kursi roda yang diduduki oleh Renata.
Perempuan itu tampak cantik, meskipun wajahnya tanpa polesan make up sedikit pun. Kulit wajahnya terlihat sangat bersih dan bibirnya yang merah alami seolah menggoda siapa pun yang melihatnya.
Renata tersenyum saat melihat Devan kini duduk di depannya sambil menatap dirinya.
"Kamu siap untuk latihan hari ini?" Devan menatap wajah cantik Renata yang saat ini sedang tersenyum. Senyum yang membuat jantung Devan berdebar-debar.
Pria itu meraih tangan Renata dan menggenggamnya erat.
"Kamu harus yakin, kalau kamu pasti bisa." Renata menganggukkan kepalanya. Mencoba memaksakan senyumnya karena dalam hati, ia tidak yakin kalau hari ini ia akan berhasil.
Hanya saja, selama ini Devan terus berusaha meyakinkannya. Devan selalu mengatakan padanya, kalau tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini asal kita yakin dan percaya kalau Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hambanya.
Dokter memang telah memvonis Renata kalau perempuan itu tidak ada harapan lagi untuk berjalan. Kemungkinan perempuan itu bisa sembuh dan kembali pulih seperti semula sangatlah kecil. Namun, hati kecil Devan sangat yakin, kalau kemungkinan kecil itu bisa menjadi besar.
Rasa cintanya pada Renata membuat Devan terus berusaha meyakinkan perempuan itu kalau dia pasti bisa kembali berjalan dengan normal lagi.
"Ingat, jangan lupa berdoa dan yakin, kalau kamu pasti bisa." Devan mengusap kepala Renata. Kedua netranya menatap penuh cinta pada perempuan yang kini tampak kembali tersenyum padanya.
__ADS_1
"Baik, Pak Dokter. Aku akan menuruti semua ucapanmu."
"Bagus! Kamu memang sangat penurut." Devan tersenyum. Wajahnya yang sangat tampan terlihat semakin tampan.
Sementara Renata tertawa kecil melihat Devan yang memperlakukannya seperti anak kecil.
Dua orang dokter yang menangani Renata mengikuti Devan dari belakang.
Kedua dokter itu adalah dokter yang membantu Renata melakukan fisioterapi, sementara Devan hanya membantu Renata memberikan semangat.
Dari balik pagar, Bima menatap Renata sambil mengepalkan erat kedua tangannya saat perempuan itu terlihat seperti dalam video yang beberapa waktu lalu dikirimkan oleh Aldrian.
Renata mencoba mengikuti instruksi dari dokter. Perempuan itu berusaha dengan begitu semangat. Namun, seperti yang Bima lihat dalam video itu.
Renata menangis dengan wajah putus asa. Devan yang berdiri di samping perempuan itu langsung memeluk Renata membuat hati jantung Bima serasa diremas-remas.
"Seharusnya aku yang ada di sana, Al, bukan Devan." Suara Bima terdengar lirih, akan tetapi, Aldrian yang saat ini sama-sama mengintip Renata dari balik pagar dengan hati hancur, masih bisa mendengar ucapan Bima.
"Seandainya kau tidak egois, Renata tidak akan mengalami penderitaan ini."
"Al ...."
__ADS_1
"Rasanya aku ingin sekali menghajarmu saat ini, Bim ...."
Bersambung ....