
Devan baru saja ingin menjawab pertanyaan Renata. Namun, suara pintu terbuka membuat mereka langsung mengurai pelukan mereka.
Aldrian dan Bima muncul di depan pintu. Kedua pria itu menatap ke arah Devan dan Renata. Bima menatap Renata penuh kerinduan.
Sudah begitu lama Bima tidak bertemu dengan Renata. Selama ini ia menahan kerinduannya untuk bertemu dengan perempuan itu karena menuruti ucapan Aldrian dan Devan.
Namun, kali ini tidak lagi. Cukup sudah selama ini dia hanya mengintip dan melihat Renata dari jauh. Lelaki itu sudah tidak sabar ingin bertemu langsung dengan Renata.
Bima sudah terlalu lama menyiksa diri dengan kerinduan yang ia rasakan untuk Renata.
"Aldrian, Bima." Devan tampak sedikit terkejut melihat mereka berdua.
"Aku ingin bertemu dengan Renata. Sudah lama aku tidak bertemu dengan dia." Bima menatap tajam ke arah Devan. Pria itu merasa cemburu saat melihat Devan memeluk Renata saat ia baru saja membuka pintu.
Sementara Renata juga tampak terkejut. Renata menatap Bima, laki-laki pertama yang membuatnya jatuh cinta sekaligus menyematkan luka yang paling dalam di hatinya.
Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Semenjak perceraian kita, aku tidak pernah mendengar kabarmu sama sekali.
Renata memejamkan matanya saat sedetik kemudian, bayangan masa lalu itu terlintas membuat dirinya menarik napas panjang ketika rasa sakit mengalir ke ruang hatinya.
Sudah lama tidak bertemu dengan pria itu, ternyata tetap tidak membuat luka di hatinya menghilang saat bertemu kembali dengannya.
"Renata." Suara Bima terdengar masih sama di pendengaran Renata.
"Renata." Suara itu kembali terdengar menyapa pendengarannya.
Renata membuka matanya. Devan tampak tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Sudah saatnya kamu bertemu dengannya. Kamu tidak bisa terus menghindar dari dia, Ren."
"Tapi, Dev-"
__ADS_1
"Kamu tidak bisa terus lari dari dia, Ren. Tentukan pilihanmu, dan pikirkan semua ucapanku. Apa yang aku katakan adalah kebenaran yang aku rasakan. Tapi, aku tidak akan memaksamu jika kamu memang belum bisa melupakan dia."
"Dev ...."
"Bicaralah dengan dia. Kasihan Bima, dia sudah lama sekali memaksa ingin bertemu denganmu." Devan mengusap kepala Renata sambil tersenyum tipis untuk menutupi kegelisahannya.
Baru saja dia mendapatkan kesempatan mengungkapkan perasaannya pada Renata, tetapi, belum sempat Devan melanjutkan ucapannya, tiba-tiba dua sahabatnya itu datang. Aldrian bahkan tidak meneleponnya terlebih dahulu.
Devan melangkah keluar diikuti oleh Aldrian. Setelah kedua lelaki itu menutup pintu, Bima mendekati perempuan yang sangat dirindukannya itu.
"Ren ...." Bima memeluk Renata yang tampak terkejut, tetapi tak menolak saat ia memeluknya.
"Aku merindukanmu."
Renata terdiam mendengar ucapan Bima. Ia juga tampak terdiam saat pria itu meraih tubuhnya dan mendekapnya erat.
"Aku merindukanmu, Ren. Selama hampir setahun ini aku hanya bisa melihatmu dari jauh karena Aldrian dan Devan melarangku. Tapi hari ini, aku benar-benar sudah tidak bisa menahannya lagi." Bima melepas pelukannya. Laki-laki itu berlutut di sisi ranjang agar ia lebih leluasa menatap wajah cantik perempuan itu.
"Aku tidak peduli seandainya setelah ini kamu akan marah dan membenciku, yang jelas, aku benar-benar sudah tidak tahan untuk menemuimu."
"Aku mencintaimu, Ren. Aku tahu ini terlambat. Tapi setelah kepergian kamu, aku baru menyadari kalau aku sangat mencintaimu."
"Aku terlambat menyadari kalau selama ini aku sudah jatuh cinta padamu, Ren ...." Bima menatap Renata. Pria itu mengungkapkan semua perasaan yang ia rasakan selama ini. Bima bahkan menangis saat rasa penyesalan kembali datang saat bayangan masa lalunya kembali terlintas.
"Maafkan aku. Maafkan aku, Renata ... maafkan aku karena cinta ini terlambat datang. Seandainya dari dulu aku menyadarinya, aku pasti tidak akan pernah menyakitimu."
"Maaf!"
Renata masih terdiam, tak mengucapkan satu patah kata pun. Ia membiarkan laki-laki di depannya itu mengungkapkan semua perasaannya.
*Mungkin apa yang dikatakan oleh Tuan memang benar. Seandainya dari dulu Tuan menyadari kalau Tuan juga merasakan perasaan yang sama denganku, Kita berdua tidak akan pernah mengalami ini semua. Aku bisa hidup bahagia bersama Tuan tanpa harus kehilangan ibu dan juga calon bayiku.
__ADS_1
Namun, ternyata takdir berkata lain. Saat semuanya sudah terlambat, Tuan baru menyadari semua perasaan Tuan padaku*.
Renata sebenarnya sangat terkejut saat Bima tiba-tiba datang. Laki-laki yang sudah menjadi mantan suaminya setahun yang lalu. Laki-laki keras kepala dan egois tingkat tinggi yang susah payah berusaha Renata lupakan.
Kini, pria itu tiba-tiba datang kembali dan mengungkapkan perasaan cintanya. Entah perasaan apa yang Renata rasakan saat ini. Apakah ia harus merasa senang karena setelah bertahun-tahun ia mencintai Bima kemudian ternyata pria itu mempunyai perasaan yang sama dengannya?
Cinta? Apa benar perasaan cinta itu masih tersisa di hatinya setelah sekian lama hatinya terluka karena perbuatan mantan suaminya itu?
"Maafkan aku, istriku. Aku minta maaf karena aku terlambat menyadari kalau aku juga sangat mencintaimu seperti dirimu yang saat itu juga sangat mencintaiku."
Kedua mata Renata membola mendengar ucapan Bima yang masih menganggapnya sebagai istri.
"Aku bukan istrimu lagi Tuan, tetapi mantan istri! Apa Tuan lupa kalau kita sudah lama bercerai?" Akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulut Renata, padahal ia sudah berniat tidak ingin mengatakan apa pun pada pria itu.
"Bagiku, kamu masih tetap istriku, karena aku sendiri belum menceraikan kamu meskipun kita sudah resmi bercerai di pengadilan."
"Tuan ...."
Bersambung ....
.
.
Bagi yang merasa kecewa karena ternyata menurut kalian alurnya tidak sesuai judul, Author minta maaf ya. Akan tetapi, dari awal Author menulis cerita ini, memang seperti inilah alur yang ingin aku tulis.
Jadi, Author tidak akan mengubah apa pun yang sudah ada dalam alur cerita ini 🙏🙏
Seperti kata Renata,
"Memaafkan itu mudah. Melupakan rasa sakit itu yang susah. Aku tidak mungkin bisa hidup bersama seseorang yang bahkan hanya dengan melihat wajahnya saja membuatku sakit."
__ADS_1
Ikutin terus kelanjutannya ya teman-teman. Lope-lope sekebon buat kalian ❤️❤️❤️❤️