
Shinta pulang dalam keadaan marah. Perempuan cantik itu tidak menyangka kalau Bima benar-benar menyuruh Mang Dadang menyeretnya keluar.
Bima yang sekarang sungguh berbeda dengan Bima yang saat itu begitu mencintainya. Semenjak perselingkuhannya dengan Panji terungkap, laki-laki itu berubah sangat membencinya.
"Sial!"
Shinta memukul setir sebelum akhirnya mengendarai mobilnya meninggalkan rumah besar itu.
Impiannya ingin memiliki rumah besar keluarga Abimanyu musnah sudah. Seandainya Bima tidak mengetahui pengkhianatannya, saat ini ia pasti masih berada dalam rumah itu dan menyusun rencana agar ia bisa mendapatkan rumah mewah itu.
"Sialan!"
***
Proses perceraian Bima dan Shinta berjalan cukup alot karena perempuan itu tetap bersikeras meminta harta gono-gini.
Shinta bersikeras ingin mendapatkan rumah besar itu. Sementara Bima juga bersikeras tidak ingin memberikan sepeser pun uang untuk Shinta.
Bima hanya akan memberikan nafkah sampai masa iddah selesai. Hal itu sontak membuat Shinta meradang. Bagaimana mungkin dia tidak mendapatkan apa pun dari pria itu?
Namun, berdasarkan bukti-bukti perselingkuhan yang memberatkan Shinta, akhirnya pengadilan pun mengabulkan gugatan cerai yang dilayangkan Bima.
Tidak seperti perceraian dengan Renata yang berjalan cukup lama karena saat itu Renata mengalami kecelakaan, hingga akhirnya sidang perceraiannya tertunda.
Proses perceraiannya dengan Shinta yang awalnya penuh drama, akhirnya selesai. Walaupun sampai saat ini Shinta masih merasa marah padanya, tetapi, Bima tidak peduli.
__ADS_1
Pria itu kini resmi menjadi duda. Duda di usianya yang baru menginjak 28 tahun. Setelah semua urusannya dengan Shinta, kini Bima mencoba memulai kehidupannya kembali dari awal.
Laki-laki itu kini fokus pada pekerjaannya yang sempat terbengkalai dan hanya dikerjakan oleh beberapa orang-orang kepercayaannya.
Hampir setiap hari Bima menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Bima akan berhenti melakukan pekerjaannya saat tiba-tiba dirinya tidak fokus karena bayangan perempuan yang selama ini dirindukannya terlintas di kepala.
Seperti saat ini, pria itu menyandarkan kepala di kursi kerjanya. Bima menarik napas panjang saat wajah Renata yang sedang menangis terlintas.
Tatapan matanya yang penuh dengan kebencian kembali terbayang. Bima memejamkan matanya saat rasa sakit bercampur rindu jadi satu.
Sudah berbulan-bulan semenjak kepergian Renata, Bima belum pernah sekalipun bertemu dengan Renata. Ia sudah mencoba membujuk Aldrian untuk menunjukkan keberadaan Renata, tetapi Aldrian menolak memberitahukan padanya.
Bima bahkan rela berhari-hari membuntuti Aldrian agar ia tahu di mana Aldrian bertemu Renata. Namun, hasilnya nihil. Laki-laki itu tidak pernah sekalipun menemui Renata setiap kali Bima mengikuti Aldrian secara diam-diam.
"Di mana sekarang kamu berada, Ren? Aku benar-benar merindukanmu," gumam Bima lirih.
Bima kembali menarik napas panjang, seiring rasa sakit yang mengalir ke hatinya. Kedua mata pria itu berkaca-kaca.
Apa kau tahu, Ren? Gara-gara kamu, aku bahkan sekarang tidak bisa mengenali diriku sendiri.
*Setelah kepergianmu, aku baru merasakan betapa pentingnya dirimu buat aku.
Semoga kamu baik-baik saja di sana, Ren. Maafkan aku, karena aku sudah melukaimu begitu dalam*.
Suara dering ponsel membuyarkan lamunan Bima. Aldrian mengirimkan sebuah pesan yang membuat Bima menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1
Video dari Devan
Tulisan pesan di atas video itu. Senyum Bima merekah. Pria itu langsung memutar video dalam layar ponselnya.
Awal video itu membuat senyum di wajahnya semakin mengembang saat melihat wajah Renata yang terlihat tersenyum.
Namun, adegan video berikutnya membuat hati Bima serasa diremas-remas.
Di sana, terlihat Renata yang sedang bekerja keras untuk menggerakkan kakinya agar dia bisa berdiri, tetapi perempuan itu tidak bisa.
Susah payah Renata bangkit sambil dibantu oleh Devan. Akan tetapi, sama saja. Renata tetap tidak bisa, hingga akhirnya perempuan itu pun menyerah.
Renata terlihat menangis dalam video itu. Perempuan yang sangat dirindukannya itu terlihat menangis dengan wajah putus asa.
Melihat Renata menangis, tanpa sadar, Bima pun ikut menangis. Laki-laki itu menangis melihat Renata sedang berjuang agar kembali bisa berjalan.
"Maafkan aku, Ren. Semua karena salahku. Seandainya aku ...."
Bima menangis sambil terus memutar berulang kali video itu.
Sebuah pesan dari Aldrian kembali terkirim.
Itu alasan Devan menyuruhmu untuk tidak menemui Renata.
Bima menangis sambil mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
Maafkan aku, Ren, Maaf!