MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 52 INGIN MEMENUHI WASIAT


__ADS_3

"Aku menikah dengan dia karena aku mencintainya, Ren. Aku sudah bertahun-tahun menjalin hubungan dengannya." Ucapan Bima bagai ribuan panah yang menghujam jantung Renata .


"Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja karena aku mencintainya." Bima menatap Renata yang kini memejamkan matanya.


"Aku tidak mungkin meninggalkan dia demi pernikahan kita," lanjut Bima lagi, tanpa sadar kalau semua kata-katanya menghancurkan hati perempuan di depannya itu.


"Kalau begitu, kenapa kau harus marah dengan surat panggilan itu?" Renata yang tersadar saat rasa sakit menyerang hatinya, sekuat tenaga kembali menetralkan perasaannya.


"Karena aku tidak ingin bercerai denganmu, Renata. Aku ingin memenuhi wasiat ibuku. Aku takut ibu tidak tenang di sana karena aku mengingkari janjinya."


Renata tertawa lirih mendengar ucapan Bima berikutnya.


"Ingin memenuhi wasiat terakhir Nyonya Erika? Tapi dengan cara mengorbankan aku? Kau sungguh hebat Tuan Muda." Tatapan mata Renata berubah tajam. Perempuan itu menghapus air matanya.


Tidak lagi, Renata. Kau tidak boleh menangis lagi. Kau tidak boleh lemah!


"Bukan ini yang diinginkan Nyonya Erika, Bima."


Bi Yati yang sedari tadi mendengarkan pertengkaran Renata dan Bima, akhirnya tidak tahan. Perempuan itu sungguh tidak tega melihat putrinya begitu menderita.


Renata dan Bima menoleh ke arah suara.


"Ibu," ucap mereka bersamaan.

__ADS_1


"Ibu ada di sini?" Bima menatap Bi Yati dan Renata bersamaan.


"Ini baru saja sampai beberapa jam yang lalu." Bi Yati menatap menantu sekaligus mantan majikannya yang terlihat terkejut.


"Bima, bukan ini yang diinginkan oleh Nyonya Erika."


"Ibu ...." Renata mencoba menyela ucapan ibunya.


"Suamimu harus tahu, Renata. Agar dia tidak salah paham padamu."


"Biarkan saja Bu. Biarkan Tuan Bima salah paham. Toh! Dari awal pernikahan, dia juga sudah salah paham," jawab Renata. Rasa sakit di hatinya membuat Renata tidak peduli apa pun.


Keinginannya saat ini hanya ingin segera terlepas dari Bima agar tidak semakin hancur dan terluka.


"Jadi, sebelum ibuku meninggal kalian sudah tahu kalau ibu akan menikahkan aku denganmu, Renata?" Bima menghentikan perdebatan ibu dan anak itu dengan wajah terkejut.


"Nyonya Erika tidak pernah mengatakan pada ibu kalau dia akan menikahkan kamu dengan Renata, Bima. Tapi Nyonya Erika pernah mengatakan pada Renata. Hanya saja, saat itu Renata hanya menganggapnya sebagai angin lalu." Bi Yati menjelaskan dengan suara lembut.


"Tapi tetap saja, kalau dari awal kalian sudah tahu kalau ibuku akan menikahkan aku dengan Renata bukan?"


"Pantas saja semua dokumen pernikahan sudah lengkap di tangan Pak Dika, itu karena kalian sudah bekerjasama dengan ibuku!" Bima berteriak marah di depan Bi Yati. Sementara Renata mengepalkan tangannya, merasa tidak terima karena pria itu membentak sang ibu.


"Saat itu Pak Dika memang meminta semua dokumen pribadi Renata, tapi ibu tidak tahu kalau semua itu ternyata dipakai untuk memenuhi berkas persyaratan pernikahan." Bi Yati tetap dengan sabar mencoba menjelaskan.

__ADS_1


"Bohong! Kalian berdua pasti bohong!"


"Kami tidak berbohong!" sela Renata tidak terima.


"Kalian semua pembohong! Kalian sangat tahu kalau aku sangat mencintai Shinta tapi kenapa kalian berdua menyetujui keinginan ibuku?" Bima masih berteriak marah.


"Memangnya apa kekurangan Shinta sam-"


"Nona Shinta hanya menginginkan uangmu! Wanita itu tidak pernah benar-benar mencintaimu!" Renata berteriak lantang. Akhirnya, rahasia yang selama ini ia dan ibunya simpan, terkuak sudah.


Namun, Renata sangat yakin, kalau pria di depannya ini pasti tidak akan pernah percaya dengan semua ucapannya.


"Renata-"


"Biarkan saja, Bu. Biarkan saja dia tahu semuanya," potong Renata pada Bi Yati.


"Nyonya Erika sangat menyayangimu, dia tidak ingin suatu hari Tuan menyesal karena telah memilih perempuan yang salah, karena itulah, Nyonya Erika akhirnya memutuskan menikahkan aku denganmu, Tuan Bima!" teriak Renata sambil menatap Bima dengan tajam.


Pria itu tampak mengeraskan rahangnya, tidak terima dengan ucapan Renata dan Bi Yati.


"Jadi benar, kalau selama ini kau telah menikah dengan pembantu itu, Bima?" Suara teriakan seseorang mengagetkan mereka bertiga.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2