
Renata membanting pintu mobil dengan keras. Perempuan itu sangat marah dengan kelakuan Bima. Walaupun pernikahan mereka sah secara agama dan negara, tetapi, perlakuan Bima tidak bisa dibenarkan.
Seenaknya saja bicara. Giliran ingin mencium dan menidurinya baru dia mengakui sebagai istri.
Dasar Bima brengsek!
Kenapa aku harus menikah dengan pria seperti itu?
Renata masuk ke dalam kafe. Sementara di dalam mobil Bima mengumpat kesal. Kata-kata yang diucapkan oleh Renata membuatnya sangat marah.
Dia sendiri tidak tahu kenapa dia merasa kesal saat mendengar Renata ingin bercerai dengannya.
Bukankah memang ini yang aku inginkan? Kenapa setelah sekian bulan berlalu, aku justru kesal mendekati dia ingin berpisah denganku?
Sebenarnya, apa yang terjadi padaku?
Bima meremas rambutnya dengan kasar. Bayangan dirinya mencium Renata beberapa menit yang lalu kembali terlintas. Juga tamparan Renata sebelum dia menutup pintu mobil masih membekas di pipinya.
Mengapa sangat sulit sekali menaklukannya?
Bima memukul setir mobil. Netranya masih menatap Renata sampai perempuan itu menghilang dari pandangan.
Setelah itu, baru dia pergi dan mengendarai mobilnya pulang.
***
Renata mengusap wajah lelahnya. Perempuan itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya bersama teman-temannya yang lain.
"Gue lelah banget hari ini, deh!" celetuk Rindi, teman Renata. Mereka berdua sama-sama bekerja melayani pelanggan yang ingin memesan makanan.
__ADS_1
"Iya, hari ini banyak banget tamu yang datang," jawab perempuan berambut merah bernama Melan.
"Liat tuh! Si Renata yang biasanya ceria aja sekarang lemes. Cape kan Lo, Ren?"
"Banget! Aku cape banget, gila!"
Capek badan, capek hati, capek pikiran. Lengkap sudah penderitaanku!
Renata menghela napas panjang. Merenungi nasibnya yang menurutnya sangat malang. Padahal kalau dipikir-pikir, masih banyak orang yang mungkin mengalami lebih dari yang dialaminya sekarang.
Namun, masalah yang dialaminya kali ini memang banyak menguras emosinya. Untung saja di kafe ini Renata mempunyai banyak teman. Gadis itu masih bisa bercanda meskipun hatinya sedang tidak baik-baik saja.
"Lo baik-baik saja kan, Ren?" Melan menatap Renata dengan teliti. Teman Renata yang saru ini memang sangat teliti. Dia selalu tahu kalau teman-temannya sedang dalam masalah.
"Lo ini udah kayak cenayang. Selalu tahu kalau orang lagi ada masalah," ucap Rindi sambil tertawa.
"Aku nggak apa-apa. Cuma lelah saja. Seharian tamu banyak banget."
"Ya udah, ayo kita pulang."
"Kamu duluan deh, aku nungguin Aldrian."
"Aldrian?" Melan dan Rindi berteriak berbarengan.
"Ya elah! Biasa aja kali." Renata memutar bola mata malas. Semenjak kedua temannya itu tahu kalau ia dekat dengan Aldrian, kedua gadis itu selalu histeris setiap kali dia menyebut nama Aldrian.
"Emangnya Pak Aldrian ada di sini, Ren?"
"Iya, tadi dia menelepon, ngajak pulang bareng."
__ADS_1
"Hah?" Kedua perempuan di depannya itu menutup mulutnya. Merasa tak percaya kalau si Abang ganteng yang sering datang ke kafe itu dekat sama Renata. Akan tetapi, kalau lihat paras Renata, memang nggak ada salahnya sih, mereka dekat. Secara, Aldrian ganteng dan Renata cantik.
Meskipun Renata hanya seorang pelayan di kafe ini, tetapi kalau sudah cinta, bukannya mereka tidak akan peduli dengan status?
Saat mereka tengah asyik bercanda, Panji datang bersama tiga teman lainnya.
Mereka membawa makanan dan minuman di tangan mereka.
"Hai guys ... hari ini kita makan-makan dulu sebelum pulang." Danu meletakkan semua makanan di atas meja.
Sementara Panji memberikan minuman bersoda pada teman-temannya satu persatu. Termasuk Renata. Panji bahkan dengan baik hati membukakan tutup botol minuman itu untuk Renata.
"Terima kasih." Renata tersenyum.
"Sama-sama." Panji memberikan satu lagi sisa minuman bersoda itu untuk Melan.
"Dari mana kalian dapat makanan sebanyak ini?"
"Bu Bos."
"Nona Alea?"
"Iya. Memangnya siapa lagi?" Danu dan lainnya tertawa mendengar ucapan Renata. Sementara Renata menepuk kepalanya sambil menggeleng pelan.
Gara-gara Bima, seharian ini mood aku hancur. Dasar Bima sialan! Suami nggak ada akhlak!
"Ada apa? Kamu nggak kayak biasanya." Panji menatap wajah cantik Renata yang terlihat cemberut.
"Apa terjadi sesuatu padamu? Tadi pagi aku lihat kamu keluar dari taksi online sambil marah-marah. Jangan bilang, kalau sopir taksi itu mengganggumu."
__ADS_1
"Hah?"
Bersambung ....