MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 42 MALAM PANJANG


__ADS_3

Bima sampai di depan pintu gerbang rumah Renata. Rumah minimalis yang memang cocok buat Renata yang tinggal sendirian.


Rumah Renata memang kecil, hanya terdiri dari dua kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga, dan dapur. Itu pun ukurannya serba mini.


Namun, rumah itu terlihat rapi dan bersih karena Renata pintar mengatur letak perabotan dalam ruangan, hingga ruangan mini itu terkesan luas.


Bima membuka tas Renata. Mengambil kunci gerbang dan juga kunci rumah Renata. Setelah mendapatkan kunci itu, Bima membuka pintu gerbang, kemudian melajukan kembali mobilnya.


Setelah menutup kembali pintu gerbang, pria itu membuka pintu rumah Renata. Mulutnya menggerutu kesal karena merasa repot membuka dan menutup pintu gerbang sendiri, belum lagi membuka pintu rumah.


Repot banget! Padahal situasi sedang darurat.


Bima bergegas kembali menuju mobil. Kedua matanya membola saat melihat keadaan Renata. Buru-buru Bima membenarkan pakaian Renata kemudian menggendong perempuan itu ke dalam rumah.


Bima membawa Renata masuk ke dalam kamar. Membaringkan tubuh perempuan itu ke atas ranjang.


Renata membuka matanya, menatap laki-laki di depannya. Ada sesuatu dalam dirinya yang memaksa untuk segera dipuaskan.


Bima yang sedari tadi sudah tersulut gairah karena kelakuan tak wajar Renata, hanya terdiam saat perempuan itu membelai wajahnya dan mendekatkan bibirnya untuk mencium Bima.


Maafkan aku, Renata. Mau tidak mau aku harus melakukannya karena aku tidak tahan melihatmu tersiksa.


Bima memulai permainannya, mengikuti keinginan Renata yang sedang dalam pengaruh obat perangsang yang diberikan oleh Panji.


Malam itu, Renata dan Bima melakukannya untuk pertama kali setelah berbulan-bulan menjadi suami istri.

__ADS_1


Bima menghentikan permainannya saat mengetahui kalau perempuan yang dinikahinya itu ternyata masih bersegel. Pria itu mencium wajah Renata yang meringis kesakitan.


Kalau tahu ternyata kamu belum tersentuh sama sekali, aku pasti akan melakukannya dengan pelan.


***


Renata membuka matanya, perempuan itu memegangi kepalanya yang terasa pusing. Netranya menatap ke sekeliling ruangan.


Hembusan napas halus menerpa leher Renata, membuat perempuan itu, kedua matanya membola saat melihat wajah tampan Bima kini berada di sampingnya dan hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya.


Tangan Bima melingkar di perut Renata. Sementara tangannya menjadi bantal kepala perempuan itu.


Sejenak Renata terpaku. Gadis itu bahkan merasa dirinya saat ini sedang bermimpi. Namun, suara serak dan pelukan Bima membuat perempuan itu tersadar.


"Kamu sudah bangun?" Bima mengeratkan pelukannya pada perempuan itu.


Hampir semalaman dia berusaha memuaskan Renata yang dalam pengaruh obat. Beruntung, Renata masih bisa diselamatkan oleh Aldrian dan juga Kenzo. Kalau tidak, perempuan cantik yang telah sah menjadi istrinya ini pasti sudah habis di tangan bajingan itu.


Renata yang kesadarannya mulai berkumpul, mendorong tubuh Bima dengan kasar. Namun, detik berikutnya Renata merasa kesakitan di bagian bawah tubuhnya.


Perempuan itu meringis, kemudian membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Kedua matanya membola, kepalanya menggeleng pelan.


"A-apa yang Tuan lakukan pada saya?" Kedua mata Renata berkaca-kaca.


"Ren-"

__ADS_1


"Apa yang Tuan lakukan pada saya?" Renata berteriak marah.


"Jawab!"


"Renata ...." Dari semalam Bima sudah menduga kalau Renata pasti akan marah saat mengetahui apa yang terjadi.


Namun, semalam Bima juga tidak bisa membiarkan Renata tersiksa sendirian. Lagipula, bukankah Renata adalah istrinya? Daripada dia jatuh pada pria bajingan itu, masih lebih baik jika dia jatuh ke pelukannya.


"Tuan ... Kenapa Tuan begitu jahat?" Kedua mata Renata berkaca-kaca. Kali ini dia benar-benar tidak bisa menahan rasa sakit yang dia rasakan.


Dia tidak peduli meskipun saat ini air matanya turun di depan pria itu.


"Kenapa, Tuan? Kenapa Tuan melakukan ini pada saya?" Kedua netra Renata menatap penuh kebencian pada Bima. Sementara air matanya mengalir di pipinya seiring rasa sakit yang mencabik-cabik hatinya.


Rasanya sangat sakit, sampai nafasku serasa berhenti mendadak ....


Bersambung ....


Cerita ini adalah kisah perjuangan Bima mengejar cinta istrinya yang sudah disakiti berkali-kali. Jadi, buat kalian yang merasa kecewa karena ceritanya tidak sesuai dengan yang kalian inginkan, otor minta maaf 🙏🙏


Buat kalian juga yang merasa cerita ini mirip cerita lainnya atau menyamakan cerita ini dengan otor lainnya, otor juga minta maaf, tapi alangkah baiknya kita baca dulu sampai selesai, baru kita tahu apa ceritanya memang benar sama atau berbeda, karena kalau ceritanya sama persis, itu berarti namanya plagiat, sedangkan otor nulis cerita ini murni hasil pemikiran sendiri dan kerja keras otor sampai begadang.


Jadi, mohon bijak dalam berkomentar. Kasih komentar yang membangun dan membuat otor semangat ya, karena komentar kalian itu sangat menentukan mood otor sendiri. Otor suka ketawa liat komentar kalian yang sedang marah, ketawa, dan sedih. Komentar kalian adalah pembangkit semangatku.


Terima kasih buat kalian semua yang sudah mau membaca karya otor yang masih remahan ini.

__ADS_1


Lope-lope buat kalian semua ❤️❤️❤️


__ADS_2